Agama sering kali dituduh sebagai penghambat kemajuan tehnologi, banyak sudah cerita para ilmuan abad pertengahan dihukum mati gara-gara penemuannya dianggap bertentangan dengan hukum agama. tak pelak akhirnya banyak ilmuan yang memilih menjadi ateis daripada terikan oleh hukum agama yang dianggap mengungkung kebebasannya dalam meneliti.
Nah, disinilah beda Islam dalam menyikapi tehnologi. Islam bukan agama yang anti terhadap kemajuan tehnologi tapi malah menjadi agama yang menjadi pendukung kemajuan tehnologi.
sejak turunnya Agama ini, nuansa anjuran untuk belajar/ menuntut ilmu sangat kentara. contoh kongkrit dengan diturunkannya Surat al Alaq pada malam Nuzulul qur’an. “Iqra’ (bacalah)”. sebuah perintah tersirat supaya ummat Islam bisa menjadi yang terepan dalam penguasaan Ilmu Pengetahuan. Bukti tentang dukungan ini secara sederhana bisa kita tilik dari konsekuensi-konsekuensi Rukun Islam: Bersyahadat, Sholat, Puasa, Zakat, dan Haji. mari kita bahas satu-persatu.
Bersyahadat
Ucapan: Asyhadu an laa ilaaha illallah,
Tidak ada tuhan (laa ilaaha): merupakan pengakuan kita bahwa sebelum kita memulai berislam kita harus meyakini bahwa tidak ada satupun kekuatan makhluk di dunia dan di alam semesa ini yang patut disembah. semua yang terjadi di alam ini, semua benda, semua peristiwa di jagad raya ini yang kadang menurut kita sangat unik, menarik dan mengagumkan itu tidak pantas dianggap sesuatu yang menyilaukan kita sehingga kita jangan sampai tergoda untuk menyembahnya. semua hal yang akan kita temui dalamkehidupan ini tidak lain hanyalah kumpulan hukum-hukum yang telah dibakukan oleh sang Pencipta sebenarnya. silakan kagumi semua yang ada di jagad raya ini, pelajari hukum-hukum alamnya.. pada akhirnya anda akan berakhir pada pengakuan Illalloh
Kecuali Alloh (Illalloh): semakin kita mempelajari alam semesta, semakin akan terasa betapa kompleks dan betapa canggihnya alam semesta ini. Umur kita tak akan sanggup memecahkan itu semua. semakin pandai seorang ilmuan semakin banyak pertanyaan dalam benaknya untuk mengetahui Alam semesta, dalam hal ini untuk mengetahui Hukum-hukum alam yang hakikatnya adalah hukum yang diciptakan Alloh untuk mengatur ciptaannya. ilmuan hanya bisa menemukan hukum itu tapi sangat kecil kuasanya untuk merubah hukum itu.
Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Sesungguhnya segala sesuatu Kami ciptakan dengan ukuran” (QS. al-Qamar : 49)
Sholat
Rukun Islam yang kedua ini sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan IPTEK. hal ini dikarenakan dengan adanya kewajiban sholat ini mau tidak mau ummat muslim harus mempelajari tehnologi dalam penentuan waktu sholat. ketemtuan waktu sholat secara sederhana memang sudah disebutkan
Hadits Abdullah bin Amr radhiyallahu’anhu
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Waktu zhuhur adalah apabila matahari sudah tergelincir [ke barat] sampai panjang bayangan seorang lelaki sama panjang dengan tingginya, selama waktu ashar belum tiba. Waktu ashar adalah selama matahari belum menguning. Waktu shalat maghrib adalah selama warna merah [di langit] belum hilang. Sedangkan waktu shalat isyak berlangsung hingga separuh malam yaitu pertengahannya. Adapun waktu shalat shubuh adalah sejak terbitnya fajar, demikian seterusnya selama matahari belum terbit. Apabila matahari sudah terbit tahanlah dari melakukan shalat. Karena sesungguhnya matahari itu terbit di antara dua tanduk syaitan.” (HR. Muslim [612/1387]).
Nah itu jika dalam kondisi cuaca normal. untuk cuaca yang kurang bersahabat kita dituntut untuk mempunyai tehnologi dalam menentukan waktu sholat.
Dalam sholat ini juka diperlukan tehnologi untuk mengetahui arah kiblat secara tepat, meskipun kesalahan yang tidak disengaja dalam menentukan arah kiblat bukan kesalahan fatal yang membuat kita wajib mengulangi shalat kita lagi. dan ternyata tehnologi penentuan arah kiblat ini secara sederhana bisa dengan menggunakan matahari yang minimal dalam 2 kali dalam 1 tahun tepat melewati atas Ka’bah.
Selain 2 hal tersebut diatas, Ummat muslim juga diwajibkan berwudhu sebelum sholat. suatu hal yang menurut penulis menunjukkan betapa agama ini sangat menganjurkan pemeliharaan kelestarian air. bayangkan, Islam lahir di negeri yang tandus, dan air disama menjadi sesuatu yang sangat berharga. namun di sisi lain malah ummat Islam diwajibkan besuci dengan air tersebut minimal 5 kali dalam 1 hari. Ini artinya jika kaum muslimin khususnya di negeri-negeri tandus tidak punya keahlian di dalam pemeliharaan air maka pasti mereka tidak bisa berwudhu, meskipun sekali lagi Alloh memberi alternatif lain berupa tayammum jika sudah sangat terpaksa tidak ada air.
Puasa
Ibadah yang satu ini juga menuntut ketepatan waktu dan ilmu pengetahuan. mulai dalam penentuan Awal waktu bulan Ramadhan, juga waktu kapan mulai menahan makan dan minum serta yang membatalkannya, termasuk juga kapan waktu berbuka.
Dalam penentuan Hilal Awal bulan puasa ini ada beberapa cara yang harus dikuasa oleh kaum muslimin. Mulai dari metode Hisab (Perhitungan penanggalan qomariyah) atau juga metode ru’yah (melihat secara langsung) termasuk alat-alat/perlengkapan modern yang sekarang mulai marak digunakan untuk menunjang kedua metode tersebut mau tidak mau ummat muslim harus bisa mengembangkannya.

i love ISLAM