Bom Bunuh Diri (di Indonesia) Syahid kah?

25 08 2009

Hmmm.. lagi-lagi bom meledak di negara tercinta ini. setelah beberapa tahun aman nyaman ternyata manusia-manusia yang tidak menginginkan kedamaian di negara ini kembali berhasil beraksi. Korban pun berjatuhan.

sungguh ironis rasanya ketika dalih perjuangan melawan kedhaliman kaum imperialis barat dijadikan alasan untuk pembenaran berbagai aksi peledakan yang justru dari pengamatan penulis banyak korban jiwa dari kalangan sipil. bahkan banyak dari umat Islam sendiri yang tewas. lalu siapakah sebenarnya yang berhak dianggap mati syahid? Para pmbawa bom itukah atau para pekerja hotel yang sedang mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya?

Sungguh, penulis bukan orang yang faham dalil-dalil agama yang dijadikan dasar pembenaran para pelaku, penulis juga bukan orang yang punya ilmu untuk menafsirkan dalil-dalil tersebut. Penulis hanyalah seorang yang sekedar menyukai sejarah sejak masa kecil. bagaimana sejarah mulai Islam muncul di bumi ini, bagaimana watak/ karakter penyebaran Islam yang dilakukan oleh Nabi SAW, bagaimana pergaulan nabi SAW dan para shahabat-sahabat beliau dikala damai dan dikala perang.

Dalam kondisi perang, penulis cuma tahu bagaimana nabi menginstruksikan untuk tidak merusak tempat-tempat ibadah, tidak melakukan pembunuhan terhadap wanita dan anak-anak (non kombatan tentunya). dalam sejarah penulis juga cuma menemukan bahwa sesungguhnya Nabi SAW tidak pernah memulai suatu peperangan kecuali diancam lebih dahulu. dari sejarah juga Penulis menemukan bahwa sosok Nabi SAW adalah manusia paling pengampun sedunia sebagaimana saat penaklukan makkah semua kaum yang dahulu memusuhinya dibebaskan semua padahal saat itu hukum perang memperbolehkan menjadikan budak bagi siapa saja yang kalah perang.

Mengenai masalah Syahid, sebelumnya penulis sempat bertanya pada diri sendiri. Banyak Sahabat nabi yang bercita-cita syahid namun baru bisa memperoleh kesyahidan setelah mengalami banyak pertempuran. Bagaimana Ammar bin Yasir harus menunggu syahid sampai perang shiffin. Bagaimana Abu Ayyub yang baru menemui syahidnya saat pemerintahan Yazid bin Mu’awiyah jauh setelah nabi meninggal dunia. Pun demikian tidak semua sahabat nabi Syahid di medan laga. Khalid bin Walid, Jenderal termasyhur pasukan Islam yang selalu bercita-cita syahid dimedan laga, beliau tak pernah mundur sekalipun menghadapi kaum kafir Romawi yang kala itu punya persenjataan dan tentara yang lebih modern pada akhirnya meninggal di tempat tidur.

Menilik dari sejarah manusia-manusia besar tersebut sangat aneh kiranya pada masa sekarang ini muncul orang-orang yang menurut penulis mencoba untuk meraih gelar “Syahid” dengan cara instant. Pantaskan Orang yang menyerang kelompok / sekumpulan orang yang tidak bersenjata yang bahkan sebagian adalah muslim disebut sebagai jihad? bandingkan dengan keberanian Khalid bin walid saat menerjang musuh yang jauh lebih kuat. bahkan saat penaklukan makkah Khalid bin walid pernah ditegor nabi gara-gara berucap “ini hari pembalasan” pada orang yang jelas masih belum tentu tunduk pada nabi.. samakah “mereka” dengan khalid?? Dan yang sangat aneh lagi hanya untuk membunuh sekumpulan yang tak terlatih dan tak bersenjata ini “mereka” harus Bunuh diri.. Andaikan khalid bin walid mau mendapat titel Syahid pasti beliau lebih bisa lagi, tapi kenapa Khalid tidak mau bunuh diri saat tentara romawi mengepungnya? Benar, Khalid bin walid tidak bituh gelar Syahid dari manusia, baginya kemenangan Islam jauh lebih penting daripada sekedar sematan gelar Syahid dari manusia. kalaupun harus mati syahid pasti beliau beserta sahabat lain akan lebih terhormat mati syahid ditangan senjata musuh setelah berjuang mati-matian. bukan dengan mempersilahkan musuh bebas menikamnya..

Penulis memang sempat melihat beberapa kasus perjuangan di Palestina dan di Iraq. Sangat berbeda dengan di indonesia akhir-akhir ini. Para pejuang di palestina dan yang di Iraq yang diserang adalah benar-benar kaum militer. jadi peluang lolos setelah serangan sangat kecil. tapi di Indonesia, hanya untuk membunuh bos-bos yang tak terlatih, karyawan hotel dan pekerja cleaning service saja harus bunuh diri.. pertanyaannya kenapa tidak berjuang di daerah konflik aja? atau kalau mau ngebom mbok ya ke negara yang jelas memusuhi Islam. jangan disini

Ya Alloh, lindungi kami, keluarga kami dan negara kami serta kaum muslimin sekalian dari fitnah. berikan pada kami petunjuk untuk selalu lurus dijalanmu.

amin

wallohu a’ lam bis showab





Pengumuman Seleksi PPIH tahun 2009

21 06 2009

Alhamdulillah hasil seleksi PPIH tahun 2009 telah diumumkan. silakan klik di www.tkhi.depkes.go.id
selamat buat anda yang mendapat panggilan Alloh ini, semoga bisa menunaikan amanat ini. Amin.





Perubahan Jadwal Seleksi TKHI/PPIH 2009 (II)

4 06 2009

Posted by Panjatap 2009, pada: 05/06/2009 11:53:53

Sehubungan dengan hasil Evaluasi Data Calon TKHI/PPIH 2009, maka Panjatap menetapkan untuk :
1. Memperpanjang batas akhir masa evaluasi dan penetapan calon TKHI/PPIH 2009 dari 30 Mei 2009 menjadi 7 Juni 2009.
2. Hasil Seleksi akan diumumkan bertahap :
– Pengumuman Hasil Seleksi TKHI : 8 – 12 Juni 2009.
– Pengumuman Hasil Seleksi PPIH :15 – 19 Juni 2009.
3. Untuk keterangan lebih lanjut mengenai kriteria seleksi & jadwal pengumuman , bisa hubungi : Panitia (+6281690101)

untuk lebih jelas klik di http://www.tkhi.depkes.go.id
semoga bermanfaat





Jadwal terbaru Rekrutmen TKHI/PPIH 2009

31 05 2009

- Pendaftaran online; 4 april – 5mei 2009
- Penerimaan berkas; 4april – 8 mei 2009
- Seleksi administratif berkas; 20 April – 15 Mei 2009
- Evaluasi dan penetapan TKHI/PPIH 2009 ; 15-30 Mei 2009
- Pengumuman hasil seleksi TKHI/PPIH 2009; 1 – 8 juni 2009
Selengkapnya bisa dilihat di
http://www.tkhi.depkes.go.id/tkhi/web/index.php
Semoga bermanfaat…





Hotel Berbintang Tak Toleran Terhadap Kebutuhan Bersuci Kaum Muslim

18 05 2009

Pernah kah anda masuk ke sebuah hotel berbintang, mungkin saat sedang ada acara weekend, ato mungkin training ato juga seminar?
Sekarang lagi ngetrend yg namanya toilet kering. tempat BAK (Buang Air Kecil) dibuat sedemikian rupa sehingga bagi cowok cukup dengan berdiri sudah bisa “Pis of Cur” alias miksi. Anda bisa menjamin ngga’ jika air kencing anda ngga’ menetes di bibir Pispot raksasa tersebut? Coba liat ada ngga’ fasilitas buat “bersuci” nya? Cuma tissue kn? Bahkan sekarang ada sensor yg mengatur sehingga air pembilas baru keluar setelah orang yang kencing pergi. Fasilitas BAB (Buang Air Besar) kdg msh lumayan, ada saluran air kecil di bagian belakang yg jika disemprotkan biasanya tepat pd “saluran keluar”. Mungkin jg ditambah tissue. Kalaupun kita memaksa untuk (maaf) cebok secara konvensional maka air akan mengalir kemana-mana bersama air kencing & sisa kotoran kita.
Aneh memang, dinegeri kita yang mayoritas muslim malah terjadi hal-hal yang menurut penulis sangat menyulitkan bagi kaum muslim. Seorang muslim selalu diajarkan untuk menjaga kebersihan dan kesucian. Terutama Air kencing dan Feses/ tinja. “Annathofatu minal iman”; kebersihan bagian dari iman.
Islam mengajarkan pada umatnya, tiap kali sehabis BAB dan BAK diwajibkan untuk membersihkan diri dengan sesuatu yang suci. Kita diajarkan untuk menggunakan Air yg bersih&suci sebagai opsi pertama dalam bersuci, baru jika tidak ada bisa menggunakan benda lain bisa batu ataupun benda keras lain yg suci. Pertanyaannya mengapa kita malah ikutan dg orang barat senang menggunakan tissue dibanding air?. Orang barat beralasan “Air harus dihemat”.
Teman, kalau masalah berhemat air mungkin Rasululloh lebih tahu dr orang barat, Beliau hidup di gurun yg kering dan sangat kekurangan air namun kenyataannya beliau tetap menganjurkan air sebagai opsi pertama. Tidak hanya untuk bersuci dari najis seperti kencing dan tinja saja, dalam bersuci dari Hadast pun kita lebih dianjurkan untuk Berwudhu dbanding tayammum.
Sebenarnya ada hikmah besar dibalik ini semua. Hikmah itu adalah perintah tidak langsung untuk selalu memelihara kelestarian air. Kelangkaan air bukan menjadikan kita mengorbankan perintah/ anjuran agama dEmi penghematan air, tapi problem ini harusnya malah memacu umat untuk peduli pada kelestariannya.
Pernah dengar cerita sebuah pondok pesantren di madura yg mendapat kalpataru gara2 berhasil memelihara hutan& sumber mata air sungai di sebelah pondok tersebut? Kyai pondok ini punya ijtihad; “Jika kita Umat Islam diwajibkan berwudhu dan wudhu itu memakai air, maka berarti kita wajib memelihara apapun yg bs menjamin kelestarian Air”.
Semoga Suatu saat nanti Para Arsitek muslim & Para pengusaha hotel bisa mengerti kebutuhan umat muslim yang satu ini. Tidak hanya sekedar ngekor trend dunia barat yang (maaf) tidak pernah risih jika air kencing menempel di celananya. Yang tidak peduli bagaimana sopan santun ketika buang air.
Sekedar contoh, mungkin bisa kita tiru hotel-hotel di Makkah yang sangat memperhatikan hal ini.





Pendaftaran TKHI 2009

13 04 2009

telah dibuka pendaftaran TKHI 2009. Pendaftaran dilakukan secara online sampai tanggal 8 Mei 2009. Info selengkapnya kunjungi : http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=3414





Ulama dan AIDS

29 01 2009

Bicara tentang MUI saya jadi teringat lagi tentang upaya penanggulangan Aids. Sebagai tenaga medis, saya sangat prihatin dengan kondisi daerah saya yang merupakan salah satu penyumbang terbesar penderita HIV/AIDS di jatim. kehawatiran saya cukup beralasan, sebagai tenaga medis kami rentan terhadap penularan HIV/AIDS, disisi lain saya juga prihatin dengan penanganan penyebaran penyakit tersebut yang kurang memuaskan. penanganan yang cenderung kuratif (bahkan menurut saya lebih ke arah paliatif) dibandingkan dengan Preventif.
Lalu apa hubungannya dengan Ulama??…
sebenernya Ulama bisa lebih berperan dalam penanggulangan penyakit ini. kita semua tahu bahwa Ulama kita melarang kampanye secara besar-besaran tentang penggunaan kondom. Melarang penggunaan ATM kondom. tapi disisi lain tidak ada solusi nyata sebagai pengganti kampanye kondom tersebut. Coba kita lihat, berapa persen Ulama, Kyai, santri kita mau terjun langsung memberi bimbingan ke kawasan-kawasan rawan HIV seperti lokalisasi?? menurut saya sebenarnya kampanye pencegahan ini yang kita butuhkan. Baik pencegahan penularan dengan pemakaian kondom (walaupun tidak bisa 100% siy), dan yang terpenting pencegahan dengan merubah prilaku, untuk yang terakhir ini peran Pemuka agamalah yang sangat diharapkan.
Dalam benak saya sering terfikirkan mungkin lokalisasi akan tutup dengan sendirinya jika ada juru da’wah yang rutin membimbing mereka dengan ikhlas. mengajak mereka bicara.
Saya cuma berharap Ulama mungkin melalui MUI bisa membentuk Semacam Tim Penanggulangan AIDS yang akan bekerjasama dengan pemerintah dan LSM dalam menghentikan penyebaran penyakit mematikan ini.
Tidak Cukup Dengan Himbauan, Tapi Perlu Langkah Nyata.
Pada hari Aids yang lalu saya sempat berkirim email ke MUI tentang masalah ini tapi sepertinya belum ada gebrakan yang berarti.





fatwa MUI tentang rokok

29 01 2009

Seminggu ini berita tentang haramnya rokok yang difatwakan dalam pertemuan MUI menjadi pembicaraan hangat. meskipun sudah banyak penelitian menyatakan bahwa Merokok tidak ada keuntungannya sama sekali bagi kesehatan pecandunya, namun para kyai (yang notabena banyak juga yang menjadi pecandu rokok)berusaha untuk mempertahankan pendapat bahwa merokok tidak haram tapi “cuma” makruh.
Hal ini bisa dimaklumi, karena dalam pandangan saya sekarang sangat sulit menemukan seorang ulama / kyai / ajengan yang memang benar-benar pewaris nabi. ulama yang benar-benar akan mati-matian membimbing dan melindungi ummat.
contohnya ya itu tadi, baru saja Fatwa merokok di publikasikan sudah ada penolakan dari Beberapa cabang MUI daerah. lha kalau memang merokok itu merusak diri sendiri kenapa harus ditolak keharamannya? memang merokok tidak memabukkan, tapi rokok sama halnya dengan formalin yang digunakan dalam kasus pengawetan ilegal industri tahu. membunuh pelan-pelan.
Jalan yang ditempuh MUI dengan mengharamkan rokok khusus bagi wanita hamil, anak-anak,dan pengurus MUI mungkin memang solusi terbaik saat ini. tapi harus diikuti dengan planning yang progresive tentang sosialisasi dan penanggulangan dampak ekonominya. jangan sampai malah terhenti di tengah jalan.





Pesan Nabi Muhammad SAW saat haji wada’

16 12 2008

Menilik ke belakang, di bulan Dzulhijjah ini ada sebuah peristiwa perjalanan Nabi SAW yang sangat penting untuk selalu diingat. Saat Nabi SAW melakukan Haji Wada’ , Beliau Memberikan sebuah pesan yang begitu dalam. Sebuah pesan yang bukan sekedar wasiat dari Pemimpin sebuah Imperium yang mulai tumbuh, tapi lebih pada sebuah pesan dari seorang yang diberi amanat oleh Tuhan kepada Umatnya, Pesan yang akan selalu membimbing umat dalam perjalanan hidup dan kehidupan. Mari kita simak baik-baik.  

Pada tanggal 9 dzulhijjah, yaitu hari hajji. Beliau, nabi SAW diikuti oleh puluhan ribu kaum muslimin berkumpul di suatu padang yang sangat luas ditengah lembah di kawasan ‘Uranah. Dengan tetap duduk di atas unta, dengan suara kencang beliau mulai berkhutbah. Sekalipun suara beliau sudah keras tapi masih perlu disambung dengan suara yang lebih keras lagi oleh Umayyah bin Khalaf. Setelah beliau memanjatkan Puji syukur ke hadhirat Allah SWT, beliau berkata pada umatnya:

 

“Hai sekalian manusia, perhatikanlah baik-baik apa yang hendak kukatakan! Aku tidak tahu, kalau-kalau aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian semua dalam keadaan seperti sekarang ini.”

 

“Hai kaum muslimin, ketahuilah bahwa darah (jiwa) dan Harta benda kalian adalah suci bagi kalian, sesuci hari dan bulan yang suci ini., hingga tiba  saat kalian pergi menghadap Allah, dan kalian pasti akan menghadapNya. Pada saat itulah kalian dituntut pertanggungjawaban atas segala yang telah kalian perbuat! Ya Allah… itu telah kusampaikan.”

 

“ Barang siapa yang menanggung beban amanat hendaklah ia menunaikan amanat itu kepada yang berhak menerimanya.”

 

“ Semua macam riba terlarang, tetapi kalian masih berhak menerima kembali harta pokoknya (modalnya). Dengan demikian kalian tidak berlaku dzalim dan tidak pula diperlakukan dzalim! Allah telah menetapkan bahwa riba tidak boleh dilakukan lagi, dan riba Al-Abbas bin Abdul Mutthalib sudah tidak berlaku!”

 

“ Semua tuntutan darah (pembalasan jiwa) semasa jahiliyah tidak berlaku lagi, dan tuntutan darah yang pertama kuhapuskan ialah tuntutan darah (jiwa) Ibnu Rabi’ah bin Al-Harits bin Abdul Mutthalib!”

 

“Hai kaum muslimin, Menukar bulan Hurum (bulan suci) dengan bulan lain adalah perbuatan menambah kekufuran, dan justru karena perbuatan itulah orang-orang kafir bertambah sesat. Mereka menghalalkan perbuatan yang diharamkan dalam bulan suci pada tahun yang satu dan mengharamkan perbuatan yang dihalalkan (dalam bulan-bulan biasa) pada tahun yang lain dengan maksud melengkapi jumlah bulan-bulan suci yang telah ditetapkan Allah”

 

“ Hai kaum muslimin, zaman berputar semenjak Allah menciptakan langit dan bumi, bilangan bulan menurut hitungan Allah adalah dua belas bulan, empat bulan di antaranya. Adalah bulan-bulan suci, yaitu tiga bulan berturut-turut (Dzulqi’dah, Dzulhijjah, dan Muharram) dan bulan Rajab antara bulan Jumadilakhir dan Sya’ban.”

 

“ Hai kaum muslimin, sebagaimana kalian mempunyai hak atas istri-istri kalian, merekapun mempunyai hak atas kalian. Hak kalian atas mereka adalah melarang mereka memasukkan lelaki lain yang tidak kalian sukai ke dalam rumah kalian, dan mereka wajib menjaga diri agar jangan sampai berbuat tidak senonoh. Apabila mereka berbuat demikian itu, Allah mengizinkan kalian berpisah tidur dengan mereka, dan kalian boleh memukul mereka satu kali dengan pukulan yang tidak menimbulkan cacad badan. Jika mereka telah menghentikan perbuatan seperti itu, kalian wajib memberi nafkah, sandang-pangan, kepada mereka secara baik-baik. Hendaklah kalian berlaku baik terhadap istri-istri kalian, sebab mereka itu adalah mitra yang membantu kalian dan karena mereka tidak memiliki sesuatu untuk diri mereka sendiri. Kalian telah mengambil mereka sebagai amanat Allah dan kehormatan mereka dihalalkan bagi kalian dengan nama Allah”

 

“Hai kaum muslimin, camkan baik-baik apa yang kukatakan. Hal itu telah aku sampaikan! Kutinggalkan bagi kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh padanya. Kalian tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya! Soal itu jelas bagi kalian!”

 

“Hai kaum muslimin, dengarkan dan fahamilah kata-kataku. Kalian pasti mengerti bahwa setiap muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, dan segenap kaum muslimin adalah saudara. Namun tidak seorangpun dari kalian yang dihalalkan mengambil sesuatu milik saudaranya (sesama muslim) kecuali diberikan atas dasar kerelaan hatinya. Jangan sekali-kali kalian berlaku dzalim terhadap diri kalian sendiri!”

 

“Ya Allah, bukankah (semuanya) itu telah kusampaikan?!!” dengan suara gemuruh membelah angkasa, kaum muslimin menyambut: “ya benar ya rasulullah!”. Beliau kemudia mohon disaksikan Allah:” Ya Allah, saksikanlah”.

(Sumber: Al Hamid Al Hisaini.1993.Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad S.A.W.yayasan Al Hamidiy.Jakarta)