Ajaran Baru… Ospek Lagii…

15 08 2009

Hmmm…. Tahun ajaran baru sudah tiba. Saat dimana sebagian adik-adik kita bersuka cita bercampur rasa cemas ketika berlomba untuk mendapatkan sekolahan idaman yang diinginkan. Mirip seperti para pialang saham lagi transaksi. Ada yang karena punya NEM (atau apalah istilahnya sekarang) yang tinggi bisa sedikit bersantai dan baru nongol ke sekolah yang dituju di detik-detik akhir pendaftaran. Ada yang NEM nya Kelas “Menengah” agak sedikit deg-degan juga khawatir jika tergeser di detik-detik terakhir pengumuman penerimaan. Ada juga yang bener-bener menyengajakan diri untuk “apes”, atau yang di”apes”kan oleh sistem sehingga NEM nya mepet.

            Terlepas dari itu semua pada akhirnya akan terjadi Balance, Idealnya yang Pinter dan yang Berpunya (…. Sssstttt jangan keras-keras) dapat sekolahan Favorit, yang sedang-sedang saja biasanya cukup puas dengan sekolahan-sekolahan kelas “dua” sedangkan yang Apes biasanya akan tersingkir ke sekolahan-sekolahan pinggiran dimana bisa dapat diterima di sekolah negeri aja sudah untung.

            Ditengah dinamika yang cepat sekali dalam sistem pendidikan di negeri ini ternyata masih ada sebuah tradisi lama yang terus dicoba dipertahankan oleh beberapa sekolah dan kampus. Mungkin anda masih kenal dengan istilah Perploncoan, OSPEK, PPPK, atau apapun nama kamuflasenya masih terus eksis. Seakan ada suatu ketidakrelaan memutus matarantai tindakan yang mengatasnamakan penggemblengan mental yang pada kenyataannya Cuma kegiatan show of force dan cenderung kepada terror mental senior terhadap juniornya yang untuk mengenal lingkungan barunya aja belum sempat.

            Sering penulis merenungkan, apa sih kegunaan dari diwajibkannya para siswa baru memakai topi kertas dengan segala kelengkapan yang nyeleneh tersebut?? Apa bener untuk mengasah kreatifitas?? Apasih manfaat yang bisa dipetik dari tindakan bentak-bentak para panitia senior (yang notabene Cuma menang karena sekolah 1-2 tahun lebih dulu dari si Junior), Untuk kedisiplinan kah?? Kadang, demi menegakkan “kedisiplinan” HAM si junior harus dilanggar. Coba mari kita fikir, didikan macam apa yang aturannya berupa Doktrin “Semua tindakan Panitia adalah benar”. Output apa yang kita harapkan pada kegiatan yang  mengharamkan diskusi? Jangan-jangan kita malah sedang melestarikan suatu kegiatan terror, orientasi siswa untuk menjadi diktator dan mendukung untuk mematikan naluri keilmuan dan menggantinya dengan pemantapan hukum rimba sebelum si Siswa baru tersebut mengenal bagaimana belajar yang benar. Jika memang itu tujuan diadakannya kegiatan orientasi ini maka wajar saja banyak siswa di negeri ini lebih suka menjadi “petarung jalanan” dibandingkan dengan pengedepanan metode ilmiah dalah mengatasi suatu masalah.

            Dari pengamatan penulis memang diantara banyak sekolah yang masih mempertahankan tradisi “Jahiliyah” sudah mulai ada yang menyadari dan mencoba merubah format Kegiatan Orientasi sekolah para Siswa baru menjadi kegiatan yang lebih beradab, lebih manusiawi dan lebih sesuai dengan etika pendidikan.





Generasi Sakit

14 03 2009

Kemarin, 13 maret 2009, salah satu tetangga penulis ditangkap Satuan anti narkoba Polresta Kediri.” B”, ditangkap dengan tuduhan sebagai pengedar double L, Pil setan atau dulu penulis menyebutnya sebagai “Pil Cengoh” yang digemari anak-anak pengangguran di desa-desa. Selain murah, pil ini masih banyak beredar didaerah pedesaan.
Seminggu sebelumnya, desa yang terletak di pojok timur sungai Brantas ini juga dikejutkan dengan penangkapan “AH” dengan tuduhan serupa. Konon masih ada lima tersangka lagi yang akan ditangkap.
Sedih tentunya, disamping karena keduanya pernah menjadi sahabat penulis saat masih sekolahan, juga sedih dikarenakan semakin rentannya pedesaan terhadap budaya yang tak sehat.
Sebenarnya selain masalah narkoba. Masalah seperti pergaulan bebas juga semakin merusak generasi mudai pedesaan. Anak-anak muda di desa seakan malu dikatakan Ndeso, sebagai pelariannya mereka memilih mengikuti gaya hidup yang mereka anggap lebih “Ngutho” (lebih seperti orang kota). Sayangnya yang ditiru bukan sesuatu yang baik tapi malah kebuasaan busuk orang kota. Anak-anak desa ini rela kupingnya, hidungnya, dan lidahnya ditindik, hanya agar dianggap keren. Mereka mulai ngepil, mendem (konsumsi Narkoba) supaya dianggap modern dan pemberani. LKMD (Lamar Keri Meteng Dhisik = melamar belakangan, hamil duluan) pun makin marak dikarenakan gempuran film-film dan sinetron sok romantis berbumbu perzinahan.
Sakit generasi desa kami. Para orang tua tak pernah merasa risau lagi dengan kerusakan moral yang ada. Mereka seolah kehabisan akal dalam membendung kebobrokan yang terus bergulir ini.
Sekolahan berbasis agama memang ada di tempat kami. Bahkan mereka berdua juga lulusan sekolah tersebut. Sekolahan berbasis Agama seolah kehilangan tajinya ketika harus berhadapan dengan gempuran budaya “hedonis satanis” yang diperparah dengan tingginya pengangguran di desa kami.
Entahlah, kenapa anak-anak desa sekarang malu dikatakan Ndeso, padahal banyak Pemimpin bangsa kita yang dengan bangga menyebut dirinya Anak Desa.
Mungkin sekali mereka bosan hidup miskin terus di desa, mungkin ini cara protes tanpa sadar mereka terhadap pemimpin yang cenderung menganaktirikan pembangunan penduduk desa. Kebanyakan dari mereka sudah bosan menjadi petani yang harga hasil panennya terus di kebiri demi mewujudkan beras murah, celakanya mereka tak mampu bekerja di bidang lain.
Nasib… Nasib.. Cah ndeso semoga ada keajaiban di desaku.. Semoga ada obat bagi Generasi Ndesoku yang sedang sakit..





Ponari… Ooohh

13 02 2009

Huuuh sedih, kita semua tau di negara kita banyak yang masih miskin… Tp ternyata masyarakat kita ngga’ cuma miskin harta tp mental masyarakat kita juga ikut miskin. entah apa karena dulu sewaktu masih balita masyarakat kita ini memang kurang giza ataupun gizi buruk sehingga pembentukan neuron-neuron di otaknya ngga’ sempurna yang pada akhirnya setelah dewasa jadi ngga’ pernah bisa mikir hal seperti ini, waras iya tapi lumayan gila juga..
mau buktii.. liat tuh pasien ponari. Sakit tuh mental mereka, sampai air bocoran pompa air dirumah ponari juga dikeramatkan sebagai obat..
Sediiiihh
Mungkin karena mereka ngga’ mampu berobat zak?..
Masak iyaa.. Sekarang kurang apa, pemerintah sdh punya program Jamkesmas buat Masyarakat miskin.. Ya kalau menurutku memang masyarakat kita ini yang sakit ngga’ cuma badannya tapi mentalnya. Masyarakat kita banyak dicekoki mimpi-mimpi instan..
Pengennyya ngga’ usah kerja tapi bisa kaya.. ngga’ usah sekolah tapi bisa pinter.. ngga’ usah repot ngaji tapi bisa jadi kyai atau kalau perlu bisa jadi Tuhan (meski gadungan).. tidak usah minum obat tapi bisa langsung sembuh seperti kasus pasien Ponari..
Lalu siapa yang salah Zak??..
Ya semuanya salah.. Pemerintah yang masabodo terhadap pembangunan karakter mental masyarakatnya, Para cendikiawan yang egois asyik masyuk dengan kepandaiannya sendiri, para ulama yang sibuk ngajar santri pondoknya tapi mengabaikan amanah dakwah ke masyarakat awam, Tenaga kesehatan yang suka setengah hati dalam melayani pasien Miskin/ Jamkesmas. Juga pengusaha yang pelit tak mau membayar zakat buat pengentasan Kemiskinan.. Serta kita yang cuma bisa rasan-rasan dan menertawakan tentang kebodohan (lebih tepatnya: ketidaktahuan) Masyarakat seperti pasien-pasien Ponari..
Disisi lain, masyarakat sendiri juga salah karena semangat belajar yang rendah. Pinter ngga’ begitu perlu, yang penting bisa kaya…
Kapan ya masyarakat kita bisa sehat kembali. ngga’ cuma badannya tapi juga mentalnya, Mungkin kita perlu program Jamkemmas (Jaminan Kesehatan Mental Masyarakat), repotnya ngga’ ada yang bisa menjamin mental seseorang buat menjadi lebih baik kecuali yang bersangkutan memang mau dan berusaha memperbaikinya.
Wallohu a’lam