Bom Bunuh Diri (di Indonesia) Syahid kah?

25 08 2009

Hmmm.. lagi-lagi bom meledak di negara tercinta ini. setelah beberapa tahun aman nyaman ternyata manusia-manusia yang tidak menginginkan kedamaian di negara ini kembali berhasil beraksi. Korban pun berjatuhan.

sungguh ironis rasanya ketika dalih perjuangan melawan kedhaliman kaum imperialis barat dijadikan alasan untuk pembenaran berbagai aksi peledakan yang justru dari pengamatan penulis banyak korban jiwa dari kalangan sipil. bahkan banyak dari umat Islam sendiri yang tewas. lalu siapakah sebenarnya yang berhak dianggap mati syahid? Para pmbawa bom itukah atau para pekerja hotel yang sedang mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya?

Sungguh, penulis bukan orang yang faham dalil-dalil agama yang dijadikan dasar pembenaran para pelaku, penulis juga bukan orang yang punya ilmu untuk menafsirkan dalil-dalil tersebut. Penulis hanyalah seorang yang sekedar menyukai sejarah sejak masa kecil. bagaimana sejarah mulai Islam muncul di bumi ini, bagaimana watak/ karakter penyebaran Islam yang dilakukan oleh Nabi SAW, bagaimana pergaulan nabi SAW dan para shahabat-sahabat beliau dikala damai dan dikala perang.

Dalam kondisi perang, penulis cuma tahu bagaimana nabi menginstruksikan untuk tidak merusak tempat-tempat ibadah, tidak melakukan pembunuhan terhadap wanita dan anak-anak (non kombatan tentunya). dalam sejarah penulis juga cuma menemukan bahwa sesungguhnya Nabi SAW tidak pernah memulai suatu peperangan kecuali diancam lebih dahulu. dari sejarah juga Penulis menemukan bahwa sosok Nabi SAW adalah manusia paling pengampun sedunia sebagaimana saat penaklukan makkah semua kaum yang dahulu memusuhinya dibebaskan semua padahal saat itu hukum perang memperbolehkan menjadikan budak bagi siapa saja yang kalah perang.

Mengenai masalah Syahid, sebelumnya penulis sempat bertanya pada diri sendiri. Banyak Sahabat nabi yang bercita-cita syahid namun baru bisa memperoleh kesyahidan setelah mengalami banyak pertempuran. Bagaimana Ammar bin Yasir harus menunggu syahid sampai perang shiffin. Bagaimana Abu Ayyub yang baru menemui syahidnya saat pemerintahan Yazid bin Mu’awiyah jauh setelah nabi meninggal dunia. Pun demikian tidak semua sahabat nabi Syahid di medan laga. Khalid bin Walid, Jenderal termasyhur pasukan Islam yang selalu bercita-cita syahid dimedan laga, beliau tak pernah mundur sekalipun menghadapi kaum kafir Romawi yang kala itu punya persenjataan dan tentara yang lebih modern pada akhirnya meninggal di tempat tidur.

Menilik dari sejarah manusia-manusia besar tersebut sangat aneh kiranya pada masa sekarang ini muncul orang-orang yang menurut penulis mencoba untuk meraih gelar “Syahid” dengan cara instant. Pantaskan Orang yang menyerang kelompok / sekumpulan orang yang tidak bersenjata yang bahkan sebagian adalah muslim disebut sebagai jihad? bandingkan dengan keberanian Khalid bin walid saat menerjang musuh yang jauh lebih kuat. bahkan saat penaklukan makkah Khalid bin walid pernah ditegor nabi gara-gara berucap “ini hari pembalasan” pada orang yang jelas masih belum tentu tunduk pada nabi.. samakah “mereka” dengan khalid?? Dan yang sangat aneh lagi hanya untuk membunuh sekumpulan yang tak terlatih dan tak bersenjata ini “mereka” harus Bunuh diri.. Andaikan khalid bin walid mau mendapat titel Syahid pasti beliau lebih bisa lagi, tapi kenapa Khalid tidak mau bunuh diri saat tentara romawi mengepungnya? Benar, Khalid bin walid tidak bituh gelar Syahid dari manusia, baginya kemenangan Islam jauh lebih penting daripada sekedar sematan gelar Syahid dari manusia. kalaupun harus mati syahid pasti beliau beserta sahabat lain akan lebih terhormat mati syahid ditangan senjata musuh setelah berjuang mati-matian. bukan dengan mempersilahkan musuh bebas menikamnya..

Penulis memang sempat melihat beberapa kasus perjuangan di Palestina dan di Iraq. Sangat berbeda dengan di indonesia akhir-akhir ini. Para pejuang di palestina dan yang di Iraq yang diserang adalah benar-benar kaum militer. jadi peluang lolos setelah serangan sangat kecil. tapi di Indonesia, hanya untuk membunuh bos-bos yang tak terlatih, karyawan hotel dan pekerja cleaning service saja harus bunuh diri.. pertanyaannya kenapa tidak berjuang di daerah konflik aja? atau kalau mau ngebom mbok ya ke negara yang jelas memusuhi Islam. jangan disini

Ya Alloh, lindungi kami, keluarga kami dan negara kami serta kaum muslimin sekalian dari fitnah. berikan pada kami petunjuk untuk selalu lurus dijalanmu.

amin

wallohu a’ lam bis showab





Ajaran Baru… Ospek Lagii…

15 08 2009

Hmmm…. Tahun ajaran baru sudah tiba. Saat dimana sebagian adik-adik kita bersuka cita bercampur rasa cemas ketika berlomba untuk mendapatkan sekolahan idaman yang diinginkan. Mirip seperti para pialang saham lagi transaksi. Ada yang karena punya NEM (atau apalah istilahnya sekarang) yang tinggi bisa sedikit bersantai dan baru nongol ke sekolah yang dituju di detik-detik akhir pendaftaran. Ada yang NEM nya Kelas “Menengah” agak sedikit deg-degan juga khawatir jika tergeser di detik-detik terakhir pengumuman penerimaan. Ada juga yang bener-bener menyengajakan diri untuk “apes”, atau yang di”apes”kan oleh sistem sehingga NEM nya mepet.

            Terlepas dari itu semua pada akhirnya akan terjadi Balance, Idealnya yang Pinter dan yang Berpunya (…. Sssstttt jangan keras-keras) dapat sekolahan Favorit, yang sedang-sedang saja biasanya cukup puas dengan sekolahan-sekolahan kelas “dua” sedangkan yang Apes biasanya akan tersingkir ke sekolahan-sekolahan pinggiran dimana bisa dapat diterima di sekolah negeri aja sudah untung.

            Ditengah dinamika yang cepat sekali dalam sistem pendidikan di negeri ini ternyata masih ada sebuah tradisi lama yang terus dicoba dipertahankan oleh beberapa sekolah dan kampus. Mungkin anda masih kenal dengan istilah Perploncoan, OSPEK, PPPK, atau apapun nama kamuflasenya masih terus eksis. Seakan ada suatu ketidakrelaan memutus matarantai tindakan yang mengatasnamakan penggemblengan mental yang pada kenyataannya Cuma kegiatan show of force dan cenderung kepada terror mental senior terhadap juniornya yang untuk mengenal lingkungan barunya aja belum sempat.

            Sering penulis merenungkan, apa sih kegunaan dari diwajibkannya para siswa baru memakai topi kertas dengan segala kelengkapan yang nyeleneh tersebut?? Apa bener untuk mengasah kreatifitas?? Apasih manfaat yang bisa dipetik dari tindakan bentak-bentak para panitia senior (yang notabene Cuma menang karena sekolah 1-2 tahun lebih dulu dari si Junior), Untuk kedisiplinan kah?? Kadang, demi menegakkan “kedisiplinan” HAM si junior harus dilanggar. Coba mari kita fikir, didikan macam apa yang aturannya berupa Doktrin “Semua tindakan Panitia adalah benar”. Output apa yang kita harapkan pada kegiatan yang  mengharamkan diskusi? Jangan-jangan kita malah sedang melestarikan suatu kegiatan terror, orientasi siswa untuk menjadi diktator dan mendukung untuk mematikan naluri keilmuan dan menggantinya dengan pemantapan hukum rimba sebelum si Siswa baru tersebut mengenal bagaimana belajar yang benar. Jika memang itu tujuan diadakannya kegiatan orientasi ini maka wajar saja banyak siswa di negeri ini lebih suka menjadi “petarung jalanan” dibandingkan dengan pengedepanan metode ilmiah dalah mengatasi suatu masalah.

            Dari pengamatan penulis memang diantara banyak sekolah yang masih mempertahankan tradisi “Jahiliyah” sudah mulai ada yang menyadari dan mencoba merubah format Kegiatan Orientasi sekolah para Siswa baru menjadi kegiatan yang lebih beradab, lebih manusiawi dan lebih sesuai dengan etika pendidikan.





Alhamdulillah… Pemilu Aman

15 08 2009

Hasil Pemilu akhirnya resmi sudah diumumkan. Sebuah proses panjang yang sedikit banyak menjadi pelajaran bagi bangsa kita ini. Pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono dinyatakan oleh KPU sebagai pemenang dalam pemilihan prisiden periode 2009-2014 ini. Sebuah proses demokrasi yang lumayan panas akhirnya telah selesai, alhamdulillah tanpa mengakibatkan terjadinya konflik antar elemen bangsa. Tidak seperti Pemilu-pemilu sebelumnya, kali ini ada banyak hal-hal baru yang di satu sisi berdampak positif bagi perkembangan kedewasaan demokrasi di negeri kita dan di sisi lain ada pula hal-hal baru yang seandainya kita sebagai bangsa tidak berhasil mengelolanya dengan baik maka akan sangat rawan menimbulkan konflik. Beberapa hal positif yang bisa dicatat diantaranya adalah semakin ketatnya pengawasan yang dilakukan oleh Bawaslu sehingga ada semacam ketakutan para kader nakal yang mencoba berbuat curang saat masa pemilu. Hal ini dibuktikan dengan ditangkapnya beberapa kader yang mencoba melakukan tindakan curang dalam pendekatan terhadap pemilih. Hal kedua yang patut diberi apresiasi adalah adanya kampanye dalam bentuk debat. Dari sini rupanya sedikit banyak rakyat tahu seberapa kualitas pemimpin yang akan mereka pilih. Memang sih dalam debat yang diselenggarakan KPU cenderung membosankan, namun adanya beberapa debat berkualitas dari para capres-cawapres yang diselenggarakan oleh pihak swasta cukup bisa memberikan gambaran nyata bagaimana sosok Pemimpin yang akan dipilih nantinya. Pelajaran yang paling penting dan sangat jelas terlihat saat pemilu presiden yang lalu adalah adanya peningkatan pola berfikir rakyat. Dulu yang namanya rakyat sangat tergantung pada instruksi atau ajakan tokoh masyarakat lokal termasuk menyangkut apa pilihan yang tepat saat pemilu, namun saat ini bisa dilihat bahwa rakyat lebih sadar bahwa dirinya adalah penentu masa depan bangsa ini. Soal lain boleh mengikuti apa kata tokoh masyarakat namun dalam hal Pemilu hati masing-masing yang berkata. Hasilnya bisa kita lihat sekarang ini. Betapapun elit politik kita ramai bukan kepalang mulai sebelum, selama dan sesudah Pemilu namun rakyat tetap adem ayem. Sepertinya rakyat sudah semakin sadar untuk tidak mau lagi diprovokasi yang ujung-ujungnya akan menyengsarakan rakyat sendiri. Dilain pihak ada beberapa hal baru yang sepertinya perlu dilakukan perbaikan. Pertama dan yang paling jelas adalah masalah DPT (Daftar Pemilih Tetap) yang kali ini benar-benar menjadi isu panas. Sebenarnya dari pengalaman penulis masalah DPT ini juga terjadi saat pemilu tahun 2004 lalu namun karena keterbukaan media belum sehebat masa sekarang maka isu ini tidak sesanter yang terdengar kali ini. Dulu tahun 2004 penulis juga mengalami tidak bisa ikut pemilu karena tidak didaftar. Maklum saat itu masih mahasiswa, jadi tidak ada yang mau mengakui sebagai penduduknya meskipun punya KTP. Adanya Pemilih ganda, adanya calon pemilih yang sudah lama almarhum juga adanya pemilih yang masih di bawah umur menandakan betapa carut marutnya proses Pemilu. Sebenarnya Carut marutnya DPT adalah bagian dari kegagalan kita dalam meng Up date catatan kependudukan kita. Sudah menjadi rahasia umum jika seorang bisa punya banyak KTP. Keputusan MK untuk memperbolehkan pemilih menggunakan KTP dengan disertai KK (kartu Keluarga) merupakan solusi cerdas saat ini meskipun terlalu mepet dengan pelaksanaan Pemilu, namun setidaknya bisa menghindari lebih banyak lagi masyarakat yang tidak bisa mendapat hak pilihnya. Hal kedua yang juga merupakan hal baru namun kurang bermanfaat adalah munculnya budaya “Debat Kusir” yang ujung-ujungnya bukan visi dan misi yang disampaikan tapi malah saling mengolok dan menjatuhkan. Ada salah satu TV swasta yang gemar sekali mengundang para tim sukses untuk mengadakan debat, maksud awalnya mungkin supaya visi dan misi para capres-cawapres tersampaikan, namun karena kurang siapnya konsep acara malah makna yang seharusnya dicapai menjadi kabur. Endingnya adalah kita disuguhi budaya yang membosankan, budaya yang mengajarkan penonton bagaimana caranya supaya menang “Omongan” bukan menang Visi misi. Yang terakhir yang sampai saat ini masih berlangsung adalah adanya gugatan silih berganti dari pihak-pihak yang merasa dirugikan selama Pemilu. Kita semua dibuat heran dengan beberapa keputusan dari para lembaga elit negara ini. Belum lagi adanya statement dari para pihak yang kalah yang menuntut pemilu ulang. Sebuah tuntutan yang menurut penulis sangat tidak bijak. Disamping pasti akan menghabiskan banyak uang, Penulis yakin rakyatpun udah ogah melakukan pemilu ulang. Mungkin akan lebih arif kiranya jika kita adakan koreksi menyeluruh terhadap kekurangan yang terjadi selama pemilu ini untuk dijadikan referensi perbaikan pada pemilu 5 tahun yang akan datang. Tiada kata yang pantas diucapkan selain ucapan “Selamat menjalankan Amanah bagi Capres-cawapres yang menang” serta harapan untuk bisa menerima kekalahan bagi yang belum diberi kesempatan menjalankan amanah ini. Mari kita perbaiki negri kita untuk esok yang lebih baik..





Pendaftaran dr/drg PTT Periode September 2009

2 08 2009

Telah dibuka pendaftaran buat dr atau drg yang ingin PTT pada periode bulan september 2009 secara online

Bagi yang berminat untuk form pendaftaran bisa di klik di:

http://www.ropeg-depkes.or.id/simpeg_ptt/dr_ptt_act.php?do=add

Adapun petunjuk pengisiannya bisa di akses melalui:

http://www.ropeg-depkes.or.id/simpeg_ptt/petunjuk.php

sedang untuk melakukan cetak ulang form pendaftaran PTT silakan klik di:

http://www.ropeg-depkes.or.id/simpeg_ptt/dr_ptt_ctk_ulang.php

Untuk mendownload surat pernyataan bisa di klik:

http://www.ropeg-depkes.or.id/simpeg_ptt/Surat%20Pernyataan%20Bermaterai.doc

Semoga bisa bermanfaat. dan selamat bertugas





Ketentuan Pelatihan PPIH

9 07 2009

Sehubungan dengan akan diadakannya pelatihan bagi PPIH tahun 2009 berikut silakan dilihat tentang ketentuan Pelatihan di :

http://www.depkes.go.id/downloads/Haji/2009/ppih/ketentuan_pelatihan_2009.pdf

Sedangkan tentang formulir yang dibutuhkan bisa didownload dari :

http://www.depkes.go.id/downloads/Haji/2009/ppih/lampiran_form_2009.doc

semoga bermanfaat..





KETENTUAN PEMBEKALAN OPERASIONAL BAGI PETUGAS KESEHATAN HAJI KLOTER 1430 H / 2009 M

6 07 2009

1. Ketentuan Umum :

a. Pembekalan operasional pelayanan bagi calon petugas kesehatan haji tahun 2009 M/1430 H adalah WAJIB dan merupakan rangkaian proses perekrutan petugas, sesuai dengan ketentuan PEPMENKES Nomor 511/MENKES/SK/V/2007 tentang Pedoman Perekrutan Petugas Kesehatan Haji Indonesia.

b. Ketentuan perekrutan petugas kesehatan haji Indonesia tersebut disusun dalam rangka memperoleh petugas yang professional, berdedikasi tinggi dan didukung oleh fisik yang prima serta dapat melaksanakan tugas sesuai kebijakan Menteri Kesehatan sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan dan perlindungan kepada jemaah haji.

c. Penilaian terhadap kecakapan calon petugas selama proses pelatihan ditujukan pada aspek profesional, dedikasi dan kesehatan; sebagai dasar pertimbangan penetapan petugas kesehatan haji. Calon petugas yang tidak terbukti kompeten, tidak berdedikasi dan atau tidak memenuhi syarat kesehatan dinyatakan tidak laik tugas dan direkomendasikan untuk dibatalkan penetapannya sebagai petugas kesehatan haji.

d. Panitia Pembekalan mengumumkan ketentuan dan rencana penyelenggaraan pembekalan kepada Dinas kesehatan Propinsi Embarkasi/Debarkasi Haji dan dapat di akses di www.kesehatan haji.info dan www.siskohatkes.net

e. Selama mengikuti pembekalan operasional, peserta diharuskan :

1) Tinggal di asrama yang telah diatur dan ditentukan penempatannya oleh panitia.

2) Menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan.

3) Memperhatikan waktu untuk menjaga ketertiban dan terjaminnya suasana tenang dan tenteram.

4) Tidak menerima tamu pada jam pembekalan. Peserta hanya dibenarkan menerima tamu di luar jam pembekalan dengan ketentuan tidak mengganggu ketertiban.

5) Mengikuti semua kegiatan pembekalan yang telah ditetapkan oleh panitia dan sesuai dengan waktu setempat.

6) Berada di ruang kelas 15 menit sebelum acara dimulai dengan terlebih dahulu mengisi daftar hadir yang telah disediakan oleh panitia. Peserta yang tidak mengisi daftar hari dalam waktu 20 menit sesi berlangsung dianggap tidak mengikuti sesi.

7) Membawa buku/catatan dan lain-lain yang diperlukan.

8) Tidak meninggalkan ruang pada saat sesi berlangsung kecuali untuk keperluan mendesak dengan terlebih dahulu meminta izin kepada panitia.

9) Memakai pakaian rapi dan sopan dengan ketentuan :

Pria :

· Pakaian batik lengan panjang dan celana gelap pada pembukaan/penutupan dan kegiatan pembelajaran malam hari.

· Kemeja warna putih lengan pendek berdasi dan celana gelap pada waktu mengikuti kegiatan pembelajaran pagi, siang dan sore hari.

· Bersepatu.

Wanita : berpakaian muslimah dengan warna menyesuaikan dan bersepatu.

10) Memakai tanda pengenal sejak penyematan resmi pada saat pembukaan sampai kegiatan berakhir.

f. Peserta diminta untuk dapat memenuhi seluruh penugasan, selama pembekalan.

g. Kelengkapan Pakaian

Peserta membawa kelengkapan pakaian selama pembekalan, dengan ketentuan :

1). Pakaian harian :

(1) Bagi pria :

(a) Baju putih lengan pendek, dasi dan celana gelap untuk sesi pembekalan pagi s/d sore.

(b) Baju batik lengan panjang untuk sesi pembukaan, penutupan dan pembekalan malam hari.

(2) Bagi wanita: Busana muslimah dengan warna menyesuaikan.

2). Pakaian Ihram dengan kelengkapannya.

3). Pakaian olahraga dengan kelengkapannya.

2. Komunikasi dan informasi lebih lanjut dapat dilakukan sebagai berikut:

JADUAL PELAKSANAAN PEMBEKALAN OPERASIONAL PETUGAS KESEHATAN HAJI KLOTER TAHUN 1430 H / 2009 M

Sumber: Departemen Agama RI, tertanggal 12 Juni 2009

No

EMBARKASI

Pelaksanaan

Kontak person

MOP Daerah

Pusat

1

Medan

10 s.d 19 Juli 2009

Suhadi,SKM,MKes (08126048737)

dr. T T Alfarizi (08159666277)

2

Batam

10 s.d 19 Juli 2009

Irmasyah,SSos (08127009103 )

Dr Masdalina Pane, SKM Mkes ( 08153841788)

3

Banjarmasin

10 s.d 19 Juli 2009

Mirhansyah,SKMMkes (081349628723)

Siti Husmiati, SKM M Kes (081380100241)

4

Padang

12 s.d 21 Juli 2009

drJoniIswanto ( 081374722202)

dr. T T Alfarizi (08159666277)

5

Palembang

12 s.d 21 Juli 2009

Badaruddin,SH,SKM (08127842414)

A. Hafiz, SKM M Kes ( 085921372773 )

6

Jakarta Pondok Gede

12 s.d 21 Juli 2009

dr Angliana Dianawati (081210101234)

dr Farina Andayani ( 081585003564)

7

Balikpapan

14 s.d 23 Juli 2009

dr Achlia Setijawati Dahlan,MKes (0811550155)

Siti Husmiati, SKM M Kes (081380100241)

8

Jakarta Bekasi

9 sd 18 Juli 2009

Uus Sukmara, M Epid ( 08122044099 )

dr Ratna Budi Hapsari, MKM ( 08164824148 )

9

Ujung Pandang

16 sd 25 Juli 2009

Muhammadong,SKM Mkes (081343559459)

Eka Muhiriyah,SPd MKM ( 081511737607 )

10

Aceh

17 s.d 26 Juli 2009

Hj. Saidah ST (0811686694)

Dr Masdalina Pane, SKM Mkes ( 08153841788)

11

Solo

17 s.d 26 Juli 2009

dr Imam Trianto, MPH ( 0811296515 )

Dr Sholah Imari, MPH ( 08161840052)

12

Surabaya

18 s.d 27 Juli 2009

Sulistyowati,SKM MPPM (08179605227 )

dr Ratna Budi Hapsari, MKM ( 08164824148 )

3. Kelengkapan Administrasi/Dokumen yang harus dibawa dan diserahkan kepada panitia pada saat melaporkan kedatangan di asrama haji :

a. Untuk pembuatan sertifikat pembekalan:

1). Mengisi biodata (blangko terlampir).

2). Foto berwarna sesuai standar paspor, ukuran 4×6 sebanyak 2 lembar

b. Untuk pertanggungjawaban keuangan:

1). Surat Tugas yang ditandatangani oleh atasan langsung, sesuai contoh terlampir, rangkap 2.

2). Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) yang sudah ditandatangani pejabat yang berwenang di daerah dan dicap stempel (sesuai contoh terlampir), rangkap 2.

3). Menyertakan bukti pengeluaran untuk biaya transport :

(1) Tiket transportasi dari tempat kedudukan ke terminal bis/stasiun/bandara/pelabuhan pergi pulang.

(2) Tiket transportasi dari terminal bis / stasiun / bandara / pelabuhan ke tempat tujuan pergi pulang.

(3) Tiket pesawat dilampiri boarding pass dan airport tax, tiket kereta, tiket kapal laut, dan tiket bis.

(4) Bukti pembayaran model transportasi lainnya.

4. Hak Peserta :

a. Memperoleh biaya transportasi dari tempat kedudukan ke lokasi pembekalan pulang-pergi, dengan besaran sesuai dengan harga yang tercantum dan tidak melebihi standart

b. Akomodasi selama pembekalan (konsumsi, penginapan).

c. Uang harian 2 hari .

d. Modul Pembekalan.

e. Sertifikat Pembekalan.

5. Kewajiban Peserta :

a. Melengkapi berkas dokumen dan administrasi pembekalan dan menyerahkan ke panitia.

b. Hadir tepat waktu dan mentaati tata tertib penyelenggaraan pembekalan, termasuk mengikuti seluruh sesi pembekalan.

c. Membawa kelengkapan pembekalan berupa: pakaian selama pembekalan dan kelengkapan keperluan pribadi lainnya.

d. Menandatangani surat pernyataan bermeterai.

6. Ketentuan Kelulusan :

a. Kedisiplinan

Kehadiran peserta dalam sesi pelatihan sebanyak 100 %

b. Produktifitas

Menyelesaikan tugas-tugas tepat waktu selama pelatihan

c. Kompetensi

Verifikasi/komparasi dengan data/keterangan selama mengikuti pelatihan

7. Ketentuan Lain

a. Calon petugas yang tidak hadir pada pembekalan dan atau tidak melengkapi persyaratan, maka dianggap mengundurkan diri

b. Bila ada ketentuan lain yang belum diatur dalam ketentuan ini akan disampaikan kemudian.

Daftar Lampiran :

1. Blangko biodata ( untuk sertifikat )

2. Blangko Surat Tugas

3. Blangko SPPD dan contoh pengisiannya

An. Dirjen PP & PL

Direktur Sepim Kesma

Dr Andi Muhadir, MPH

NIP 140130848

selengkapnya bisa di cek di www.kesehatanhaji.info

untuk format Kelengkapan surat- surat bisa di klik di sini:

Surat Tugas di

http://www.kesehatanhaji.info/images_data/image_554_2.doc

Biodata di

http://www.kesehatanhaji.info/images_data/image_554_3.doc

SPPD klik di

http://www.kesehatanhaji.info/images_data/image_554_4.doc

semoga bermanfaat





Oleh-oleh dari Murnajati

6 07 2009


Minggu tanggal 21 juni kemarin, penulis berkesempatan mengikuti Pelatihan bidang kesehatan bagi Calon Tenaga Kesehatan Haji Indonesia wilayah propinsi Jawa Timur. Berbeda dari tahun sebelumnya, Pelatihan kali ini dilakukan sebelum pelatihan terintegrasi dengan Departemen Agama yang rencananya baru akan dilaksanakan tanggal 18 Juli 2009 ini. Sebenarnya pelatihan kali ini sudah dipersiapkan beberapa hari, namun adanya beberapa kali revisi persyaratan tambahan tetap saja membuat kebanyakan peserta kelabakan. Seperti contohnya persyaratan Foto dengan latar belakang putih sebanyak 30 an lembar yang baru dimuat di revisi pengumuman 2 hari menjelang hari pelatihan sempat membuat beberapa peserta terkejut. Belum lagi ada beberapa peserta yang kurang mengikuti revisi yang diumumkan lewat internet malah tidak tahu jika ada persyaratan lain yang harus di bawa selain SPPD.

Acara Pelatihan dibuka hari minggu itu juga sekitar jam 17.00WIB oleh Kepala Latkesmas serta beberapa pihak terkait. Dilanjutkan dengan Pretest sesuai dengan Profesi masing-masing. Pelatihan kali ini, peserta dibagi dalam kelas-kelas yang terdiri dari beberapa kloter-kloter bayangan yang terdiri dari 3 orang (1 dokter dan 2 perawat). Pembagian ini ternyata sangat bermanfaat untuk lebih mendalami dan meningkatkan kerjasama tim calon TKHI tersebut. Namun sayangnya, usaha saling mengenal dan saling meningkatkan kekompakan tin kecil ini sebatas sampai pelatihan saja, karena kabarnya tim kecil ini (tim Kloter bayangan ini) akan dipecah lagi sehingga sangat mungkin saat keberangkatan nanti Tim ini terdiri dari orang-orang yang belum saling kenal. Padahal dengan persiapan TKHI yang sedemikian singkat menurut hemat penulis mungkin akan lebih baik jika tim ini tetap dipertahankan mulai sejak latihan awal sampai dengan saat bertugas sehingga keefektifan sebagai suatu tim benar-benar terjaga. Kecuali jika ada hal-hal yang mendesak yang memaksa terjadinya perubahan tersebut.

Hari Senin pagi acara diawali dengan Sholat shubuh berjamaah, setelah itu dilanjutkan dengan kultum oleh bapak Samuri. Beliau Menjelaskan sekilas tentang perjalanan Haji. Sebuah penjelasan yang sangat bermanfaat terutama bagi kami yang belum pernah berhaji. Hari Senin dan Kamis tepat pukul 05.30 WIB dilaksanakan kegiatan Senam Kesegaran Jasmani. Sedangkan acara perkuliahan dan pelatihan dilaksanakan mulai pukul 07.30 sampai dengan pukul 21.00 tentunya dengan diselingi jeda untuk ISHOMA.

Materi yang diberikan sangat beragam, mulai dari perundangan tentang Haji, Ta’limatul Hajj dari Arab saudi, Pembinaan dari Depkes Pusat, Materi dari tim Psikologi Unair, pelatihan pelaporan, pelatihan tentang materi sesuai Profesi masing-masing serta pelatihan BHD (Bantuan Hidup Dasar). Sebagai catatan dari berbagai materi tersebut banyak yang sangat bermanfaat tapi ada juga beberapa materi kurang tepat. Dari pemaparan selama pelatihan tersebut kami juga semakin memahami bagaimana tugas yang nantinya harus kami emban, bagaimana liku-liku kesulitan yang mungkin akan kita temui seperti masalah transportasi, Sistem perujukan di Arab saudi, Rasio tenaga kesehatan dengan banyaknya Jamaah yang kurang memadai ( 3 orang tenaga medis harus bisa melayani 450an jamaah dengan pelayanan selama 24 jam selama 35 hari ), dan lain-lain. Kami juga diberi Tips selama dalam tugas, seperti bagaimana menangani jamaah, Bagaimana penetalaksanaan pasien disana yang notabene punya pola resistensi kuman terhadap antibiotik yang berbeda dengan di Indonesia. Tips tentang bagaimana pengelolaan Haid pada jamaah sehingga bisa menjalani ibadah haji dengan sempurna.

Setelah diadakan Postest pada pagi hari, acara Pelatihan tersebut akhirnya ditutup pada Hari Jum’at 26 Juni 2009 sekitar jam 11.30 WIB





penerimaan bidan PTT kalsel

2 07 2009

telah dibuka Penerimaan bidan PTT di Kalsel. Pendaftaran dimulai tanggal 1 juli sampai dengan tanggal 15 juli 2009.
Jumlah formasi 122 orang untuk ditempatkan di desa/kelurahan kriteria biasa. sedangkan 253 orang akan ditempatkan di desa/kelurahan dengan kriteria terpencil.
selanjutnya bisa di klik di http://www.depkes.go.id/downloads/newdownloads/rekrutmen_bidan_kalsel.pdf





Pengumuman Seleksi PPIH tahun 2009

21 06 2009

Alhamdulillah hasil seleksi PPIH tahun 2009 telah diumumkan. silakan klik di www.tkhi.depkes.go.id
selamat buat anda yang mendapat panggilan Alloh ini, semoga bisa menunaikan amanat ini. Amin.





Belajar dari kasus Prita

14 06 2009

Istilah malpraktik kembali semarak di tanah air. Sebuah peristiwa yg melibatkan seorang pasien bernama Prita dengan RS OMNI internasional lagi-lagi menambah jajaran kasus yang menunjukkan “ketidak harmonisan” hubungan Dokter (dalam hal ini RS) dengan Pasien.
Disini Penulis tidak akan menceritakan kembali peristiwa tersebut. Penulis hanya ingin mengulas hikmah yang bisa dipetik dari pelajaran ini.
Pertama
Menurut penulis, kasus semacam ini (terlepas dari masalah gugatan pencemaran baik) bukanlah kasus baru dalam sejarah hubungan dokter pasien di negara kita. Banyak kasus lain yang tidak terekspose yang sebenarnya punya inti masalah yang sama, yaitu “KOMUNIKASI” dan “inform consent”. Perlu disadari bahwa negara kita sangat kekurangan dokter spesialis. Sehingga jika anda membuat rasio antara Dokter-jumlah masyarakat akan terjadi ketimpangan yang sangat. Hal ini berdampak pada mutu pelayanan yang cenderung tergesa-gesa. Bayangkan jIka dalam satu hari di sebuah RS pasien yang berkunJung bisa mencapai ratusan orang, bagaimana seorang dokter bisa berkomunikasi efektif dengan pasiennya. Orang sering memuji dokter di Singapore yang lebih care lebih punya waktu terhadap pasien, jelas saja karena rasio dokter-pasien disana jauh lebih dari mencukupi. Sebuah contoh, di eks Karesidenan tempat penulis tinggal(yang jumlah penduduknya hampir sama dengan Singapore) cuma ada SATU dokter Bedah Syaraf.. Sebenarnya DPR sudah membuat aturan untuk lebih mengoptimalkan pelayanan kepada pasien dengan membatasi ijin praktik dokter hanya di tiga tempat. Namun jikalau kasusnya seperti di tempat Penulis, peraturan tersebut apa bisa diterapkan? Apakah tidak malah mengorbankan penanganan terhadap pasien?! Disamping itu, biaya pendidikan seorang dokter yang makin mencekik membuat semakin lambatnya Pemenuhan tenaga dokter spesialis, akibat lainnya banyak juga oknum dokter yang cuma mengejar materi demi mengembalikan biaya pendidikan tersebut.
Kedua
Penulis nggak habis fikir dengan kecenderungan media massa sekarang. Sepertinya negeri kita sedang krisis jurnalis yang cerdas. Kasus ini dan kasus-kasus dalam dunia medis lainnya seperti kasus-kasus terjadinya reaksi obat pada pasien semakin menyadarkan penulis bahwa cuma sedikit kalangan jurnalis yang “mau” dan “mampu” untuk belajar memperkaya pengetahuannya. Generalisasi semua kejadian yang terjadi selama dan sesudah tindakan medis sebagai suatu MALPRAKTIK merupakan suatu hal yang sembrono dan memprihatinkan. Istilah Malpraktik seolah digunakan sebagai embel-embel penambah nilai jual berita yang dimuat tanpa mau memikirkan fenomena apa yang akan terjadi di masyarakat. Masih ingat berita tentang Puyer yang bersamaan dengan munculnya Ponari dengan batu petir nya?. Pembaca mungkin sebagian tidak percaya jika hal itu berpengaruh besar, tapi penulis dan rekan-rekan sangat merasakan dampak tersebut. Masyarakat saat itu dilanda ketakutan yang lumayan hebat seJak pemberitaan itu, disatu sisi pemberitaan yang sangat gencar tentang ponari yang bisa menyembuhkan segala penyakit makin memudarkan kepercayaan masyarakat terhadap kalangan medis. Sangat perlu ditanyakan, Apakah akan kita giring masyarakat kita untuk semakin takut berhubungan dengan dunia medis dan lebih mempromosikan pengobatan yang tidak jelas jluntrungannya??!
Ketiga
Kasus Prita semakin menyadarkan kita tentang betapa pentingnya kehadiran seorang dokter keluarga. Yaitu seorang dokter yang khusus menangani keluarga yang digaji tetap dari Asuransi yang dibayarkan keluarga tersebut (sehingga dokter tersebut tidak perlu praktek seperti dokter saat ini). Dokter ini bisa diajak konsultasi kapanpun keluarga tersebut membutuhkan, dan pastinya akan selalu mendampingi dan melindungi keluarga tersebut dari kejadian seperti yang dialami Prita. Masalahnya sekarang sulit sekali mendapatkan perusahaan Asuransi yang bisa dipercaya dan kalaupun ada masyarakat kita masih sangat enggan untuk mendukung program dokter keluarga dengan alasan seperti “uang preminya kan bisa digunakan untuk hal lain,lagian belum tentu keluarga kami ada yang sakit dalam satu bulan”.
Keempat
Idealnya tiap RS yang didirikan punya dokter spesialis sendiri, jadi pelayanan prima bisa diterapkan. Sayang kebanyakan RS swasta didaerah masih banyak yang mengandalkan dokter-dokter RS negeri dikarenakan minimnya jumlah dokter spesialis dan juga tidak adanya kemauan & kemampuan RS swasta tersebut membiayai pendidikan dokter spesialisnya, sehingga jangan heran jika terkadang pasien satu hari atau lebih ngga’ bisa sekedar ketemu dokter spesialisnya.
Kelima
Petugas medis hendaknya mulai melakukan pendidikan masyarakat baik melalui media massa atau terjun langsung untuk memberikan pencerahan tentang apapun yang berhubungan dengan dunia medis. misalnya tentang Immunisasi; manfaat, efeksamping, risiko yg bisa terjadi setelah imunisasi. Kalau ada risiko ataupun efek samping yang berbahaya seperti kelumpuhan atau kematian jika terjadi reaksi yang tidak diinginkan tetap harus dijelaskan secara proporsional bukan provokatif. Dengan adanya pendidikan masyarakat seperti ini masyarakat (termasuk para jurnalis) akan semakin cerdas, tidak gampang memvonis MALPRAKTIK, dan stigma negatif terhadap dunia medis bisa diminimalisir.

Akhirnya Penulis berharap semoga keharmonisan hubungan dokter & tenaga medis-pasien bisa semakin berkualitas. Dokter & petugas medis juga manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan. Namun kesalahan tersebut hendaknya ditekan seminimal mungkin. Keselamatan dan kesehatan pasien tetap yang terpenting dengan meningkatkan mutu pendidikan petugas medis, komunikasi dengan pasien & keluarga pasien yang efektif, ditunjang dengan Sistem yang mendukung dan pendidikan masyarakat yang berkesinambungan insyaAlloh peristiwa semacam kasus Prita ini bisa dihindari.