Banyak yang tidak mengerti bahkan menuduh bahwa umat Islam yang katanya tidak menyembah sesuatu selain Allah SWT ternyata mereka menyembah Batu Hitam alias Ka’bah. Sebenarnya orang yang berkomentar seperti ini kalau mereka muslim sangat mungkin pengetahuan mereka baru terbatas, jika mereka berasal dari luar Islam mungkin jika mereka mau mengoreksi atau sedikit berfikir apa yang mereka tuduhkan tidak ada apa-apanya dengan apa yang sehari-hari mereka lakukan. Lantas bagaimana sebenarnya Ka’bah dalam pandangan seorang muslim?

baitul-maqdis

Area Baitul Maqdis/Baitul Muqoddas di Yerusalem Palestina, Kiblat pertama umat Islam

Pada awal kemunculan Islam, kaum muslimin bebas menghadap kemana saja dalam sholat mereka, baik ke timur maupun ke barat.1 Namun Nabi saat sholat lebih suka berada di sisi ka’bah dengan menghadap ke arah baitul Maqdis, sebuah tempat dan kiblat para nabi.

Kemudian ketika kaum muslimin hijrah ke Madinah, mereka masih sholat menghadap baitul Muqoddas/ Baitul Maqdis di yerussalem Palestina.2 Kemudian baru 16 -17 bulan setelah hijrah ke Madinah Allah memerintahkan kaum muslimin menghadap ke ka’bah di makkah saat sholat. Peristiwa ini terjadi saat Nabi SAW sholat di masjid.4

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ka’bah sendiri merupakan sebuah bangunan pertama didunia yang dibangun atas perintah Allah SWT sebagai tempat beribadah ummat manusia. Sebuah rumah untuk menghambakan diri pada Allah dan sebagai pemersatu arah umat muslim sedunia saat menjalankan sholat.4 Ka’bah dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Alaihimassalam setelah mendapat perintah dari Allah SWT, saat itu ka’bah masih berupa tanah tinggi yang berwarna merah.5

tentang tuduhan bahwa kami umat Muslim menyembah ka’bah kiranya jika ditilik dari sejarah dan fakta di atas sangat jelas bahwa hal itu tidak benar, bahkan di zaman Nabi, sahabat nabi, Bilal bin Rabah, seorang maula (bekas budak) diperintahkan oleh Nabi SAW untuk melantunkan adzan di atas Ka’bah saat penaklukan makkah, kalau memang ka’bah adalah sesembahan tidak mungkin ada yang berani berdiri diatasnya.

kabah

Ruang dalam Ka’bah

Jadi Ka’bah adalah kiblat, hanya arah. Bukan disembah. Salah besar jika tuduhan tersebut dialamatkan kepada kita umat Islam.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Jika yang dituduhkan sebagai menyembah batu hitam itu hajar aswad maka pernyataan pernyataan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu ini bisa sebagai jawaban bahwa Hajar aswad hanyalah batu dan sunnah nabi hanya menciumnya. Umar RA ketika mencium Hajar Aswad yang ada di Ka’bah berucap, “Hajar aswad ini hanyalah batu yang tidak bisa memberikan kebaikan dan keburukan. Aku menciumnya karena melihat Nabi menciumnya.” Jadi tidak ada muslim yang menyembah Ka’bah atau bahkan Hajar Aswad.

semoga bermanfaat.

 

 

Keterangan:

1) Quran Surat Al-baqarah[2]:115

2) Sahabat Al Barra meriwayatkan “Kami Shalat bersama Rasulullah saw, menghadap Baitul Maqdis (di Palestina) selama 16 bulan atau 17 bulan. Kemudian setelah itu, Kiblat dialihkan ke arah Kabah (di Mekah)” (HR Bukhari)

3) Dalam riwayat Al waqidi, perstiwa itu terjadi pada hari Senin pertengahan bulan Rajab di awal bulan ke -17 setelah berkiblat ke Baitul Maqdis.

4) Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah ummat manusia adalah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan petunjuk bagi semua manusia. (Surah Ali Imran: 96-97)

5) Ath-Thabari, Tharikh Al-Umam wa Al- Muluk, jil 1 Hal 178


Assalamualaikum

Alhamdulillah, bagi teman sejawat kesehatan muslim di seluruh tanah air. berdasarkan informasi dari pusat kesehatan haji, bahwa telah dibuka perekrutan tenaga kesehatan Haji tahun 2016. silakan klik link di bawah ini:

Puskeshaji

Untuk sekedar memberikan gambaran tatacara perekrutan silakan berikut saya sertakan beberapa file berkaitan dengan hal di atas

JADWAL_2016

KELENGKAPAN_2016

TAHAPAN_2016

PMK_2013

demikian semoga bermanfaat, dan semoga menjadi jalan untuk dapat panggilan menjadi tamu Alloh disertai mendapatkan kesempatan melayani tamu Alloh yang lain…. Amin

Wassalamualaikum


Penulis: Syaikh Prof. Dr. Ali Jum’ah (Mufti Republik Mesir)

إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ‪.‬

“Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah kitab Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad SAW, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara baru, setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu tempatnya di neraka.” (HR. An-Nasa’i)

Hadits ini merupakan salah satu dari sekian banyak hadits yang berbicara tentang bid’ah. Namun untuk memahami perkara bid’ah ini tidak asal begitu saja kita pahami secara harfiah atau tekstual dari hadits tersebut, sehingga siapapun menjadi mudah untuk mengklaim saudara-saudaranya semuslim yang melakukan satu perkara yang tidak pernah dilakukan di zaman nabi SAW kita anggap sebagai pelaku bid’ah yang sesat, dan jika ia sesat berarti tempatnya di neraka. Agar tidak berkesan tergesa-gesa ada baiknya kita memahami terlebih dahulu masalah ini melalui kajian-kajian dari para ulama salafush-shalih kita yang telah terebih dahalu mengkajinya.

Definisi Bid’ah

Untuk mengetahui pengertian bid’ah yang benar maka kita harus terlebih dahulu memahami arti bid’ah secara bahasa (etimologi) dan istilah (terminologi/syariat).

Bid’ah Menurut Bahasa (Etimologi)

Yaitu hal baru yang disisipkan pada syariat setelah setelah ia sempurna. Ibnu As-Sikkit berpendapat bahwa bid’ah adalah segala hal yang baru. Sementara istilah pelaku bid’ah (baca: mubtadi’) menurut adat terkesan tercela.

Adapun Abu Adnan berpendapat bahwa bid’ah adalah melakukan satu perbuatan yang nyaris belum pernah dilakukan oleh siapapun, seperti perkataan Anda: si fulan berbuat bid’ah dalam perkara ini, artinya ia telah mendahului untuk melakukan hal itu sebelum orang lain.

Bid’ah Menurut Istilah (Terminologi/Syariat)

Ada dua cara yang ditempuh para ulama untuk mendefinisikan bid’ah menurut syara’.

Segala hal yang tidak pernah dilakukan Nabi SAW adalah Bid’ah

Pandangan ini dimotori oleh Al Izz bin Abdussalam (ulama madzhab Syafi’i), dia menganggap bahwa segala hal yang tidak pernah dilakukan Nabi SAW sebagai bid’ah. Bid’ah ini pun terbagi kepada hukum yang lima. Berikut perkataan Al Izz:

“Amal perbuatan yang belum pernah ada di zaman Nabi SAW atau tidak pernah dilakukan di zaman beliau terbagi lima macam:Bid’ah wajib.Bid’ah haram Bid’ah sunah Bid’ah makruh Bid’ah mubah. Adapun untuk mengetahui semua itu adalah mengembalikan semua perbuatan yang dinggap bid’ah itu di hadapan kaidah-kaidah syariat, jika ia masuk atau sesuai dengan kaidah atau prinsip wajib maka perbuatan itupun menjadi wajib (bid’ah wajib), jika ia masuk atau sesuai dengan kaidah atau prinsip haram maka perbuatan itupun menjadi haram (bid’ah haram), jika ia masuk atau sesuai dengan kaidah atau prinsip sunah maka perbuatan itupun menjadi sunah (bid’ah sunah), jika ia masuk atau sesuai dengan kaidah atau prinsip mubah (boleh) maka perbuatan itupun menjadi mubah (bid’ah mubah). (Lihat Qawa’id Al Ahkam fi Mashalihil Anam, juz 2. h. 204)

Makna tersebut juga dikatakan oleh Imam An-Nawawi yang berpendapat bahwa segala perbuatan yang tidak pernah ada di zaman Nabi dinamakan bid’ah, akan tetapi hal itu ada yang baik dan ada yang kebalikannya/buruk. (lihat Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al Asqalani. Juz 2.h. 394).

Definisi Bid’ah Syariat Lebih Khusus

Cara kedua yang ditempuh para ulama untuk mendefinisikan bid’ah adalah: menjadikan pengertian bid’ah menurut syariat lebih khusus dari pada menurut bahasa. Sehingga istilah bid’ah hanya berlaku untuk suatu perkara yang tercela saja, dan tidak perlu ada penamaan bid’ah wajib, sunah, mubah dan seterusnya seperti yang diutarakan oleh Al Izz bin Abdussalam.

Cara kedua ini membatasi istilah bid’ah pada suatu amal yang diharamkan saja. Cara kedua ini diusung oleh Ibnu Rajab Al Hambali, ia pun memjelaskan bahwa bid’ah adalah suatu perbuatan yang tidak memiliki dasar syariat yang menguatkannya, adapun jika suatu perbuatan ini memiliki dasar syariat yang menguatkannya maka tidak dinamakan bid’ah, sekalipun hal itu bid’ah menurut bahasa. (lihat Jami’ Al Ulum Wa Al Hikam h. 223)

Sebenarnya kedua cara yang ditempuh para ulama ini sepakat mengenai hakikat pegertian bid’ah, perbedaan mereka terjadi pada pintu masuk yang akan mengantarkan pada pengertian yang disepakati ini, yaitu bahwa bid’ah yang tercela (madzmumah) adalah yang berdosa jika megerjakannya, dimana perbuatan itu tidak memiliki dasar syar’i yang menguatkannya, inilah makna yang dimaksud dari sabda Nabi SAW,

‫كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ‬

“Setiap perbuatan bid’ah itu sesat.”

Definisi yang jelas inilah yang dipegang oleh para ulama, ahli fikih dan imam yang diikuti. Imam Syafi’i–sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi–bahwa beliau berkata,

“Perkara baru yang tidak ada di zaman nabi SAW itu ada dua kategori:Perkara baru yang bertolak belakang dengan Al Qur’an, Sunnah, pendapat sahabat atau Ijma, maka itu termasuk bid’ah yang sesat (bid’ah dhalalah). 
Perkara baru yang termasuk baik (hasanah), tidak bertentangan dengan Al Qur’an, Sunnah, pendapat sahabat atau Ijma, maka perkara baru ini tidak tercela.”(Riwayat Al Baihaqi. Lihat kitab Manaqib Asy-Syafi’i, juga oleh Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Auliya’. 9/113)

Sementara Hujjatul Islam, Abu Hamid Al Ghazali berpendapat bahwa tidak semua perkara baru yang tidak dilakukan di zaman nabi SAW itu dilarang, akan tetapi yang dilarang adalah perkara bid’ah yang bertolak belakang dengan Sunnah dan menghilangkan apa yang sudah ditetapkan syari’at. (Lih.Ihya’ Ulumuddin, juz 2, h. 248)

Imam An-Nawawi telah menukil dari Sulthanul ulama, Imam Izzuddin bin Abdussalam, dia berkata di akhir kitab Qawa’id Al Ahkam (kaidah-kaidah hukum),

“Bid’ah itu terbagi kepada wajib, sunah, mubah, haram dan makruh … ”

Di kesempatan lain, dalam pembicaraan tentang hukum bersalaman usai shalat, dia juga berkata,

“Ketahuilah bahwa bersalaman ini disunahkan pada setiap pertemuan, adapun orang-orang membiasakan bersalaman pada setiap kali usai shalat maka ini tidak ada dasarnya sama sekali, akan tetapi hal itu tidak mengapa dilakukan, karena dasar bersalaman itu adalah Sunnah. Adapun mereka yang membiasakannya pada kondisi tertentu seperti usai shalat maka hal ini tidak keluar dari keberadaan bersalaman yang disinggung oleh dasar syariat (Sunnah).” (lihat An-Nanawi dalam Al Adzkar)

Adapun Ibnu Al Atsir berkata,

“Bid’ah itu ada dua macam, bid’ah huda (yang berpetunjuk) dan bid’ah dhalal (sesat), jika perkaranya bertolak belakang dengan apa yang diperintahkan Rasulullah SAW maka itu termasuk tercela dan dikecam. Jika perkara itu termasuk yang disunahkan dan dianjurkan maka perkara itu terpuji. Dia pun menambahkan: bid’ah yang baik pada dasarnya adalah sunah.”

Karena itu hadits Nabi SAW,

“Bahwa setiap perkara baru itu bid’ah.”

Dipahami jika perkara baru itu bertentangan dengan dasar-dasar syariat dan bertolak belakang dengan Sunnah.” (lihat An-Nihayah, karangan Ibnu Al Atsir juz 1. h. 80)

Ibnu Al Manzhur juga memiliki pendapat yang bagus mengenai definisi bid’ah secara istilah syar’i, menurutnya:

Bid’ah itu ada dua macam, bid’ah berpetunjuk (huda) dan bid’ah yang sesat (dhalal). Jika perkara itu bertolak belakang dengan perintah Allah dan Rasul-Nya maka itu termasuk tercela dan dikecam. Adapun jika perkaranya termasuk atau sesuai dengan apa yang dianjurkan Allah dan Rasul-Nya maka itu termasuk perkara terpuji. Adapun perkara yang tidak ada contohnya di zaman nabi SAW seperti macam-macam jenis kebaikan dan kedermawanan serta perbuatan baik lainnya maka itu termasuk perbuatan yang terpuji (seperti bersedekah dengan pulsa, voucher, mengucapkan selamat via email dan SMS atau MMS, mengaji via telepon, dan lain sebagainya–Red).”

Perkara baru ini tidak boleh bertentangan dengan dasar-dasar syariat, karena Nabi SAW telah menilai perbuatan ini (yang sesuai dengan dasar-dasar syari’at) berhak mendapatkan pahala: beliau bersabda,

“Siapa yang memulai perbuatan baik maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya.”

Pada perbuatan kebalikannya beliau bersabda pula,

“Siapa yang memulai suatu kebiasaan buruk, maka dia mendapatkan dosanya, dan dosa orang yang mengamalkannya.”

Hal itu terjadi jika perbuatannya bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Begitupula dengan yang dikatakan Umar,

“Ini (shalat Tarawih berjama’ah) bid’ah yang baik”.

Jika perbuatan itu termasuk katagori kebaikan dan terpuji maka dinamakannya dengan bid’ah yang baik dan terpuji, karena Nabi SAW tidak menyunahkan shalat Tarawih secara berjamaah kepada mereka, Rasulullah hanya melakukannya beberapa hari lalu meninggalkannya dan tidak lagi mengumpulkan jamaah untuk melakukan shalat Tarawih.

Praktik shalat Tarawih berjamaah ini juga tidak dilakukan pada masa Abu Bakar. Namun hal itu dipraktikkan di masa Umar bin Al Khaththab, beliau menganjurkannya serta membiasakannya, sehingga Umar menamakannya dengan bid’ah pula, namun pada hakikatnya praktik tersebut adalah sunah, berdasarkan sabda Nabi SAW,

“Ikutilah Sunnahku, dan sunah khulafa rasyidun setelahku.”

Juga sabda beliau lainnya,

“Ikuti orang-orang setelahku, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali …”

Adapun hadits nabi SAW,

“Setiap perkara baru adalah bid’ah”

Dipahami jika perkara itu bertolak belakang dengan dasar-dasar syariat dan tidak sesuai dengan Sunnah. (lihat Lisan Al ‘Arab juz 8. h. 6)

Sikap Para Ulama terhadap Definisi Bid’ah

Jumhur ulama (mayoritas ulama) berpendapat bahwa bid’ah terbagi beberapa macam, hal ini nampak pada pendapat imam Syafi’i dan para pengikutnya seperti, Al Izzu bin Abdussalam, An-Nawawi dan Abu Syamah. Dari Madzhab Maliki seperti, Al Qarafi dan Az-Zarqani. Dari Madzhab Hanafi, seperti Ibnu Abidin. Dari Madzhab Hambali, seperti Ibnu Al Jauzi. Dari madzhab Zhahiriyah, seperti Ibnu Hazm.

Semua ini tercermin dalam definisi yang diberikan Al Izz bin Abdussalam mengenai bid’ah, yaitu perbuatan atau amal yang tidak pernah ada di zaman Nabi SAW, dan hal ini tebagi pada bid’ah wajib, sunah, haram, makruh dan mubah.

Para ulama ini memberikan contoh-contoh mengenai pembagian bid’ah ini:

Bid’ah wajib
Seperti mempelajari ilmu nahwu dan sharaf (gramatika bahasa Arab) yang dengannya dapat memahami kalam Ilahi dan sabda Rasulullah. Ini termasuk bid’ah wajib, karena ilmu ini berfungsi untuk menjaga kemurnian syariat, sebagaimana dijelaskan dalam kaidah fikih,

‎‫مَا لاَيَتِمُّ الوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ‬

“Sesuatu yang tanpanya kewajiban tidak akan berjalan sempurna maka sesuatu itu pun menjadi wajib hukumnya.”

Bid’ah haram
Seperti pemikiran sekte Al Qadariyah, sekte Al Jabariyah, sekte Al Murji’ah dan sekte Al Khawarij, paham bahwa Al Qur’an adalah produk budaya, dan paham bahwa zamantini masih jahiliyah sehingga hukum-hukum Islam belum bisa diterapkan, dan lain sebagainya.

Bid’ah sunah
Seperti merenovasi sekolah, membangun jembatan, shalat tarawih secara bejamaah dengan satu imam, dan adzan dua kali pada shalat Jum’at.

Bid’ah makruh
Seperti menghiasi atau memperindah Masjid dan Kitab Al Qur’an.

Bid’ah mubah
Seperti, bersalaman usai shalat jamaah, tahlil, memperingati Maulid Nabi SAW, berdoa dan membaca Al Qur’an di kuburan, dzikir secara berjamaah dengan dipimpin imam usai shalat, dzikir dengan suara keras secara berjamaah, dan keanekaragaman bentuk pakaian dan makanan.

Mengenai bid’ah mubah ini diperlukan sikap toleransi yang tinggi di kalangan umat Islam untuk menjaga persatuan dan persaudaraan yang hukumnya wajib, artinya siapa saja boleh melakukan dan meninggalkannya, jangan sampai ada pemaksaan sedikitpun dalam melakukannya apalagi saling merasa benar atau menyalahkan kelompok lainnya.

Adapun dalil yang menjadi dasar pembagian bid’ah ini menjadi lima adalah:

Perkataan Umar tentang shalat tarawih berjamaah di masjid pada bulan Ramadhan dengan mengatakan, 

نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ

Ini sebaik-baik bid’ah. 

Diriwayatkan dari Abdurrahaman bin Abdul Qari, dia berkata:
Aku keluar rumah bersama Umar bin Khaththab pada malam bulan Ramadhan menuju masjid. Kami menyaksikan orang-orang terbagi-bagi, masing masing melakukan shalat sendirian. Kemudian Umar berkata,

“Aku berpandangan andai saja aku bisa mengumpulkan mereka pada satu imam maka ini lebih baik dan ideal.”

Beliaupun bertekad mengumpulkan mereka dengan imamnya Ubai bin Ka’ab. Kemudian aku keluar ke masjid pada hari berikutnya bersama beliau, kamipun melihat orang-orang sedang shalat dibelakang satu imam. Umar lalu berkata,

نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ

Inilah sebaik-baik bid’ah.

Adapun melakukannya di akhir malam maka itu lebih afdhal daripada melakukannya di awal malam. (HR. Bukhari)

Abdullah bin Umar menilai shalat Dhuha yang dilakukan secara berjamaah di masjid adalah bid’ah, padahal itu merupakan perkara baik.

Diriwayatkan dari Mujahid, dia berkata:
Aku dan Urwah bin Zubair masuk masjid, ternyata ada Abdullah bin Umar sedang duduk di samping serambi rumah Aisyah, lalu ada sekelompok orang melakukan shalat Dhuha secara berjamaah. Kamipun menanyakan hukum shalat mereka ini kepadanya, diapun menjawab,

“Bid’ah”. 
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits-hadits yang menunjukkan pembagian bid’ah menjadi bid’ah baik dan buruk diantaranya adalah yang diriwayatkan secara marfu’ (shahih dan sampai pada nabi SAW):

“Siapa yang memulai suatu perbuatan baik maka ia akan mendapatkan pahalanya, dan pahala dari orang yang mengikutinya sampai hari kiamat. Siapa yang memulai suatu perbuatan buruk maka ia akan mendapatkan dosanya dan dosa dari orang yang mengikutinya sampai hari kiamat.” (HR. Muslim)

Dari apa yang disampaikan dapat kita simpulkan bahwa mengenai bid’ah ini ada dua pandangan para ulama:

Seperti yang dikemukan oleh Ibnu Rajab Al Hambali dan selainnya, bahwa semua perbuatan yang diberi pahala dan disyariatkan melakukannya tidak dinamakan bid’ah, sekalipun hal itu pantas dinamakan bid’ah dari segi bahasa, yaitu perbuatan baru yang belum pernah ada yang melakukannya, akan tetapi penamaan bid’ah terhadap perbuatan ini tidak dimaksudkan sebagai bid’ah yang tercela apalagi sesat.Pandangan perincian macam-macam bid’ah seperti yang dikemukakan oleh Al Izz bin Abdissalam sebagaimana yang telah kami paparkan sebelumnya.

Sementara sikap kita sebagai muslim terhadap masalah yang cukup penting ini yang mempengaruhi pemikiran Islam, masalah-masalah fikih, juga pandangan atau sikap kita terhadap saudara-saudara semuslim kita lainnya, sehingga janganlah dengan mudah kita mengklaim mereka yang melakukan bid’ah hasanah (yang baik) itu sebagai pelaku bid’ah yang sesat dan fasiq (wal ‘iyadzu billah/kita memohon perlindungan kepada Allah dari hal itu), hal ini terjadi karena ketidaktahuan dengan prinsip-prinsip atau kaidah-kaidah yang telah jelas tersebut, sehingga masalah inipun menjadi samar dan aneh di kalangan umat Islam. 

Wallahu a’lam


Sebuah renungan Emha Ainun Najib atas negeri penggalan surga ini

Fantastic HQ Wallpapers #3 (1)

“Bisakah luka yang teramat dalam ini akan sembuh…
Bisakah kekecewaan, bahkan keputusasaan yang mengiris-iris hati berpuluh-puluh juta saudara kita ini pada akhirnya nanti akan kikis….
Adakah kemungkinan kita akan bisa merangkak naik ke bumi, dari jurang yang teramat curam dan dalam…
Akankah api akan berkobar-kobar lagi…
Apakah asap akan membumbung lagi dan memenuhi angkasa tanah air…
Akankah kita akan bertabrakan lagi satu sama lain…
Jarah menjarah satu sama lain dengan pengorbanan yang tidak akan terkirakan…
Adakah kemungkinan kita tahu apa yang sebenarnya kita jalani…
Bersediakan sebenarnya kita tahu persis apa yang kita cari…
Cakrawala manakah yang menjadi tujuan sebenarnya dari langkah-langkah kita…
Pernahkah kita bertanya bagaimanakah cara melangkah yang benar…
Pernahkah kita mencoba menyesali hal-hal yang perlu kita sesali dari perilaku-perilaku kita kemarin…
Bisakah kita menumbuhkan kerendahan hati dibalik kebanggaan-kebanggaan…
Masih tersediakah ruang di dada kita dan di akal kepala kita..
Untuk sesekali berkata pada diri sendiri, bahwa yang bersalah Bukan hanya mereka, bahwa yang melakukan dosa Bukan hanya mereka… tapi juga Kita…”

Lir-ilir
Lir-ilir
Tandure wus sumilir
Tak ijo royo royo
Tak sengguh temanten anyar
Bocah angon, bocah angon
Penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno
Kanggo masuh dodot iro

Dodot iro, dodot iro
Kumitir bedah ing pinggir
Dondomono, jlumatono, kanggo sebo mengko sore

Mumpung padhang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Yoo surak oo.. surak hiyoo

“.. Terserah apa tafsirmu tentang blimbing bergigir lima..
Tapi selicin apapun pohon itu harus didaki, bukan dengan ditebang… supaya kita dapat mengambil air sari blimbing untuk mencuci Dodot (pakaian nasional) kita yang sedang bedah ing pinggir (rusak)…
Dan yang memanjat pohon itu harus “Bocah Angon”. Tentu saja boleh ia seorang doktor… boleh seorang seniman.. boleh seorang kyai.. jendral atau siapapun saja yang memiliki daya angon.. kesanggupan untuk menggembala.. Karakter yang mampu merangkul dan memesrai semua fihak.. determinasi yang menciptakan garis resultan kedamaian bersama.. Pemancar kasih sayang yang dibutuhkan dan diterima oleh semua warna, semua golongan, semua kecenderungan..
Bocah angon adalah seorang pemimpin nasional, bukan tokoh atau pemuka suatu gerombolan…”

Ilir-ilir, kita sudah nglilir, kita sudah bangun, sudah bangkit, bahkan kaki kita sudah berlari kesana kemari, namun akal pikiran kita belum, hati nurani kita belum…
Kita masih merupakan anak-anak dari Orde yang kita kutuk di mulut… namun kita biarkan ajaran-ajarannya terus hidup subur di dalam aliran darah dan jiwa kita…
Kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik…
Kita mencaci maling dengan penuh kedengkian kenapa bukan kita yang maling…
Kita mencaci penguasa lalim dengan berjuang keras untuk bisa menggantikannya..
Kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara setan… yakni melarangnya insaf dan bertobat..
Kita memperjuangkan gerakan anti penggusuran dengan cara menggusur..
Kita menolak pemusnahan dengan cara merancang pemusnahan…
Kita menghujat para penindas dengan riang gembira sebagaimana Iblis…
Yakni kita halangi usahanya untuk memperbaiki diri..
Siapakah selain Setan, Iblis dan Dajjal yang menolak khusnul khotimah manusia… Yang memblokade pintu surga… Yang menyorong mereka mendekati pintu neraka?……”

“Sesudah ditindas, kita menyiapkan diri untuk menindas..
Setelah diperbudak, kita siaga untuk memperbudak..
Sesudah dihancurkan, kita susun barisan untuk menghancurkan..
Yang kita bangkitkan bukan pembaruan kebersamaan, melainkan asyiknya perpecahan..
Yang kita bangun bukan nikmatnya kemesraan, tapi mengelaknya kecurigaan..
Yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan, melainkan prasangka dan fitnah…
Yang kita perbaharui bukan penyembuhan luka, melainkan rancangan-rancangan panjang untuk menyelenggarakan perang…”

(Emha Ainun Najib : Menyorong Rembulan)

KENAPA SAYA MUSLIM?

Posted: 20 Juni 2015 in Uncategorized

(Sebuah Renungan diri diawal Ramadhan)

jalan

Sebuah pertanyaan yang cukup fundamental tapi sangat perlu anda tanyakan dalam hati anda, wahai saudaraku, pernahkan kita bertanya pada diri kita sendiri…
Kenapa Saya Muslim? Atau kenapa saya memilih agama saya sekarang?
Sebuah pertanyaan yang harus kita gali terus menerus. Sebuah pertanyaan yang akan mengantarkan kita pada hakikat mendasar kenapa kita ini ada, dan akan kemana kita.
Pertanyaan mendasar ini biasanya akan disertai dengan pertanyaan-pertanyaan lanjutan seperti:
– Benarkah agama yang telah saya anut sekarang?
– Apa bukti kebenarannya?
– Saya beragama hanya karena indoktrinasi keluarga ataukan memang hidayah yang telah saya dapatkan?
– Apa keunggulan agama saya dibanding agama lain?

Pertanyaan semacam ini seharusnya menjadi pertanyaan serius dalam hidup kita, karena kita memang berbeda dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Tanpa agama kita tak ubahnya dengan ayam, atau sapi atau makhluk lain yang hidup hanya berdasarkan insting. Namun tidak banyak diantara kita yang punya Nyali untuk menjawab pertanyaan diatas.
Bandingkan dengan Nabi Ibrahim alaihimas salam yang meskipun dilahirkan dari ayah yang percaya bahwa Patung buatannya adalah Tuhan, namun beliau tak hentinya berusaha mencari siapa Tuhan Hakiki dalam kehidupan ini.
Pencarian Tuhan yang dilakukan Nabi Ibrahim AS tidak hanya bersandarkan oleh ilham, mimpi maupun perasaan, namun benar-benar didasarkan pada Rasionalitas akal manusia yang memang diberikan Tuhan untuk dapat mendeteksi kekuasaan dan kehebatan sang Pencipta dalam pencarian kebenaran. Pencarian terhadap kebenaran hanya akan ditemukan pada orang-orang yang kritis dan logis
Lalu apakah sebagai umat Muslim yang menjadi Islam sejak lahir kita masih diperintahkan untuk mencari kebenaran?
Jawabannya Ya, dengan terus menerus mencari dan memikirkan jalan kebenaran maka kita sebagai manusia akan meningkat derajatnya dibanding makluk lain.
Sebuah peringatan keras dari Alloh SWT terhadap orang-orang yang hanya meng-ekor tanpa menggunakan anugrah Tuhan dalam mencari kebenaran.
“Telah Kami penuhi isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, yaitu mereka yang mempunyai hati tapi tak pernah digunakan untuk memikirkan ayat-ayat Allah dan mereka mempunyai mata tak digunakan untuk memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah dan mereka mempunyai telinga tak digunakan untuk mendengarkan firman-firman Allah, Mereka seperti binatang bahkan lebih rendah dari itu, mereka itulah orang-orang yang lalai” (Surat Al-A’raf 179)
Seringkali kita sudah merasa cukup dengan pengetahuan agama yang telah kita miliki, begitu kita ditanya alasan kenapa memilih agama tertentu jawaban kita sangat Klise banget.. “ya karena ini agama yang paling benar pak”… “O ya? Darimana anda tahu ini agama yang paling benar?”…. “Kan di kitab saya dan pemuka agama saya menyatakan seperti itu..”.. “O ya… lha agama lain juga berpendapat sama dengan anda.. padahal beda loh dari konsep segi ketuhanan nya saja sdh beda, apakah anda sdh pernah mencoba membandingkan secara rasional dan ilmuah antara ajaran satu dengan lainnya?”…. “ Belum… kok agama lain pak, lhawong Kitab suci saya saja belum pernah saya baca sampai tamat,” …. hehe… kalo sudah begini bagaimana bisa dikatakan kalo agama yang telah kita peluk bisa bener-bener yakin merasuk dalam jiwa..
Kalau sudah seperti ini rasanya tidak layak kita terlalu berbangga jika ada orang yang masuk bergabung dalam agama kita hanya berdasarkan Perasaan, Ilham, Insting tanpa pernah berproses seperti Ibrahim as (meskipun harus tetap disyukuri karena Hidayah Alloh bisa datang kapanpun dan dengan cara apapun) dan kita juga tidak layak terlalu bersedih jika ada ummat yang memutuskan keluar dari agama kita dengan dasar yang sama.
Namun ketika siapapun sudah mengalami Proses pencarian seperti Ibrahim AS, maka apapun keputusan yang dia ambil, disanalah kita layak mengucapkan : Lakum Diinukum wa liyadiini (bagimu agamamu dan bagiku Agamaku)..
KEELOKAN KEBENARAN AKAN MEMUDAR JIKA TIDAK PERNAH MENCOBA MEMBANDINGKAN
Lantas apa yang bisa kita lakukan jika ingin menguji apakah yang telah kita Yakini memang sebuah jalan kebenaran?
Akal adalah anugrah besar dari Tuhan yang diciptakan tidak hanya untuk menambah warna kehidupan ini, tapi juga sebagai modal besar dalam mencari kebenaran seperti yang dilakukan Ibrahim A.S. Logika Ilmiah, salah satu cara sederhana yang bisa mempertebal iman dan bisa juga dijadikan cara dalam mencari kebenaran. Contohnya:
– Agama berfungsi untuk mengatur Ummatnya menuju kehidupan yang terbaik, lalu Apakah Agama saya benar-benar komplit dalam membimbing umatnya menuju kehidupan yang terbaik?
– Jika memang iya, apakah konsep ini terkandung secara jelas pada Aturan Tuhan (Kitabnya)? Apakah setiap detail aturan itu bisa ditelusur dasar hukumnya yang bisa kita dapatkan dari Kitab atau Petunjuk tehnis utusan Tuhan sebagaimana kita dalam bernegara selalu mendasarkan sesuatu pada Undang-undang?
– Jika Iya, Apakah Kitab yang diberikan oleh Tuhan ini memang masih otentik?, bisa dijamin keasliannya, secara logika jika agama nya sama maka perintah Tuhan (KitabNya) juga akan sama, apakah demikian? Apa bukti Kitab Tuhan yang kita pegang ini memang benar-benar Asli? Pernahkah kita mencoba membandingkan Kitab di Agama kita dari masa lalu sampai sekarang? Apakah masih sama?
– Jika Iya, maka kita bisa mulai sekedar mempelajarinya. Apa konsep dalam Kitab tersebut? Tentang ketuhanan, Cara Ibadah, Hubungan antar Manusia dengan manusia, kesesuaian dan kemampuan ajaran dalam kitab tersebut dalam memecahkan masalah di segala zaman. Bisakah kita mengujinya dengan akal kita termasuk dengan kemajuan zaman saat ini?
– Konsep ketuhanan bisakah kita mendapatkan konsep ketuhanan secara jelas? Misal dengan jelas disebutkan “Sembahlah Aku” dalam kitabnya. Adakah Konsep yang ditawarkan tentang kehidupan setelah kematian? Apakah kita bisa mengujinya dengan logika kita?
Sampai disini sekiranya kita pasti sudah punya gambaran apakah jalan yang kita cari memang sudah benar, jika sudah benar maka saya yakin kualitas keagamaan kita akan bertambah, namun jika ternyata jalan yang kita tempuh selama ini berlawanan dengan apa yang kita dapat dari proses diatas, Disini semua akan dikembalikan pada kejujuran kita dan kesungguhan kita dalam berproses, apakah akan mengubah pendirian kita ataukah akan tetap kekeuh pada keyakinan lama. Ingat 1+1 jawabannya hanya 2 jika memang orang tersebut mengakui bahwa 2 itu jawaban yang benar, namun dalam kehidupan nyata tidak sedikit mereka yang tahu 1+1 = 2 namun karena ketidak jujuran tetap bersikukuh jika 1+1=3.
Terakhir, setelah proses mencari kebenaran dan terbukanya hati pada kebenaran tersebut masih ada yang perlu diingat bahwa keimanan itu bersifat dinamis, bisa bertambah dan berkurang. Hanya keyakinan dan doa kita pada Tuhan yang akan menjadi penjamin kita untuk terus dapat memelihara Keimanan tersebut melekat di dada kita.
Wallohu A’lam

1


cemas 2

Ketika anda terkena suatu musibah atau sedang menghadapi suatu masalah yang membuat anda khawatir, apa yang akan anda lakukan? Apakah anda akan membiarkan rasa khawatir anda melemahkan anda ataukah anda mampu merubah kekhawatiran tersebut menjadi sebuah kekuatan? Willis C. Carrier mengatakan bahwa sesungguhnya pengaruh rasa cemas yang paling buruk itu adalah hancurnya kemampuan kita untuk berakal sehat. Apabila kita merasa cemas, pikiran kita melayang ke sana ke mari, berlompatan tak menentu dan kita kehilangan kemampuan untuk membuat keputusan. Bagaimanapun juga kalau kita berani memaksakan diri untuk menghadapi akibat yang paling buruk dan secara mental kita sanggup memikulnya, kita akan dapat memperkecil bayangan fikiran yang simpang siur dan menempatkan diri kita pada suatu posisi dimana kita dapat berkonsentrasi menghadapi persoalan tersebut.

Supaya suatu kekhawatiran bisa berubah menjadi kekuatan maka anda bisa mencoba hal berikut:
1. Tanyakan pada diri anda sendiri, akibat paling buruk apa yang mungkin akan menimpa anda.
2. Bersiaplah untuk menerima kemungkinan terburuk itu jika hal tersebut benar-benar terjadi.
3. Kemudian bertindaklah dengan tenang untuk memperbaiki kondisi terburuk tersebut.
Kadang orang menantikan hasil suatu perkara yang menakutkan, sehingga ia dicekam oleh perasaan cemas yang sangat , seakan-akan itu kematian atau bahkan lebih dahsyat daripada kematian itu sendiri. Mungkin kehilangan selera makannya, dan tidak bersisa sedikitpun senyuman di bibir. Orang yang takut miskin sebenarnya sudah berada dalam kemiskinan, dan orang yang takut hina sudah berada dalam kehinaan.

Dale Cernegie mengatakan:”Siapkanlah diri anda untuk menerima setiap kenyataan. Sebab menerima dengan ikhlas apa yang terjadi adalah langkah pertama untuk mengatasi setiap kemalangan”. Sedangkan Lin Yu Tang, seorang filosof China mengatakan : ”kedamaian jiwa yang sejati datang dari keikhlasan menerima akibat yang terburuk”.
Namun kita lihat, jutaan manusia telah menghancurkan hidupnya didalam kemarahan. Kemarahan yang tak terkendali. Karena mereka tidak mau menerima kenyataan yang terjadi dan tidak mau menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan.
Menyesali kegagalan-kegagalan masa lalu dan menangisi rasa sakit dan kesalahan itu merupakan sebuah fenomena kufur pada Alloh dan tidak meyakini kekuasaanNya.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang: “kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh”. Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Alloh menimbulkan rasa penyesalan yang sangat dalam hati mereka. Alloh menghidupkan dan mematikan. Dan Alloh melihat apa yang kamu kerjakan (Ali Imran: 56).

Dalam menghadapi permasalahan yang datang, ada tiga langkah yang harus dilakukan supaya tidak terjebah dalam kecemasan yang tak terkendali.
1. Temukan faktanya
Kita diharuskan berfikir dengan tenang terhadap apa yang kita hadapi dan bagaimana kita akan menempatkan diri sesuai aturan. Langkah ini akan menjadi sulit ketika kita telah terbutakan oleh suatu kecintaan atau malah suatu kebencian terhadap masalah itu. Keterlibatan emosi akan menjadikan seseorang tidak mampu memandang masalah secara obyektif. Terkadang orang menjadi tersesat jalan dikarenakan terikat oleh tradisi atau hal-hal lain yang sebenarnya tidak ada dasarnya. Itulah kenapa Al Qur’an kebanyakan mengakhiri ayat dengan kalimat: “Apakah kalian tidak memikirkan?” “Apakah kalian tidak berakal”.
2. Analisa fakta tersebut
Setelah fakta masalah bisa kita kumpulkan secara obyektif maka langkah selanjutnya adalah dengan menganalisa masalah tersebut dengan jernih dan tenang. Analisa kemungkinan apa yang bisa terjadi. Terkadang seseorang mendapati dirinya berada dalam posisi dimana mendapatkan sesuatu yang paling manispun masih akan terasa pahit. Analisa masalah dengan jernih dan tenang akan mempuat kita tahu seberapa dalam masalah yang kita hadapi tanpa rasa bingung dan takut. Pemimpin-pemimpin besar sering mengalami dan mampu menyelesaikan situasi-situasi yang sulit. Mungkin pembaca pernah membaca kisah betapa hebatnya analisis situasi saat Nabi menghadapi perang Khandaq, atau betapa cerdiknya Khalid bin walid mengubah keterjepitan pasukan muslim dalam perang Mu’tah menjadi kesuksesan besar. Atau kisah Thariq bin Ziad yang heroik ketika menyeberang ke tanah spanyol. Atau mungkin cerita lokal dimana dengan ketenangannya Raden Wijaya sang pangeran yang tergusur bisa mempedayai tentara Kubilai Khan yang saat itu tak pernah kalah.
3. Ambil keputusan dan bertindak berdasarkan keputusan tersebut.
Langkah terakhir ini harus dilakukan secara mantap, kuat dan konsisten. Banyak orang cerdas yang tahu dengan jelas apa yang ia hadapi dan bagaimana cara menghadapi masalah namun mereka menemui kegagalan disebabkan mereka tidak memiliki kemauan kuat untuk bertindak dan maju sehingga mereka tetap berada pada kesedihan dan dibayangi rasa bingung dan ruwet.

WaitePhillips

Waite Phillips

Waite Phillips, seorang pengusaha minyak terkenal mengatakan ketika ditanya bagaimana ia mengambil suatu keputusan maka ia menjawab: Saya melihat bahwa terus menerus memikirkan persoalan kita pada suatu titik tertentu cenderung untuk menciptakan kebingungan dan kecemasan. Adakalanya pemikiran dan penelitian yang berlebihan akan membawa ke arah bencana. Apabila saya sudah mengambil keputusan, maka saya segera bertindak tanpa menoleh ke belakang sama sekali”.

Leon Shimkin, seorang pengusaha, mempunyai formula pemecahan masalah buat para karyawannya ketika mendapatkan sebuah masalah yang perlu dipecahkan. ada 4 hal yang perlu ditanyakan ketika menghadapi suatu masalah

1. Apakah persoalannya?

2. Apakah penyebab persoalan tersebut?

3. Kemungkinan-kemungkinan apakah yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan itu?

Mana dari kemungkinan itu yang paling baik digunakan?

dengan formula diatas maka jarang sekali karyawan Leon datang kepadanya dengan membawa masalah, karena mereka sudah bisa memecahkannya sendiri.

 

Sumber: Mengubah takdir mengubah nasib oleh DR. Muhammad al Ghazali (dosen universitas al Azhar Mesir)


Menghilangkan-rasa-gelisah

Semua orang pasti pernah mengalami yang namanya kecemasan. Kecemasan bisa muncul kapan saja baik akibat masalah keluarga, pekerjaan maupun kegiatan sehari-hari lainnya. Tak jarang kecemasan ini bisa berakibat terganggunya fokus pekerjaan kita dan terbengkalainya rencana yang sudah kita buat. Sebuah ringkasan tulisan daru DR Muhammad al Ghazali, seorang dosen universitas al azhar ini penulis coba sajikan kehadapan pembaca, mungkin bisa bermanfaat buat kita yang sering dilanda kegalauan dan kecemasan.

KECEMASAN ADALAH RACUN KEHIDUPAN

Cemas 1
Ilmuan psikologi di negara-negara barat senantiasa mengeluh terhadap seringnya terjadi peperangan hanya untuk sekedar menumpuk harta. Setiap individu dan kelompok ikut ambil bagian dalam pertarungan yang sengit demi untuk mengumpulkan bagian terbesar dari harta duniawi itu sekuat kemampuan mereka.

Dalam pertarungan tersebut manusia telah kehilangan unsur-unsur kelembutan. Mereka selalu dicekam rasa cemas dan terbakar hingga akhirnya masuk ke liang kubur.

Dale carnegie memberikan pernyataan yang jelas mengenai dampak faham serba materi ini terhadap jiwa dan raga manusia serta malapetaka yang ditimbulkannya. Ia berkata: “saya telah tinggal di New York selama tiga puluh tujuh tahun, dan tak ada seorangpun yang pernah mengetuk pintu rumahku dan memperingatkan bahaya penyakit yang disebut “cemas”. Suatu penyakit yang selama 37 tahun telah membuktikan dirinya sebagai pembunuh yang 10 kali lebih ganas dari penyakit cacar. Yah… tidak ada seorangpun yang mengetuk pintu rumahku buat memperingatkanku bahwa tiap seorang dari sepuluh orang penduduk Amerika terancam penyakit penyimpangan pribadi yang kebanyakan diakibatkan oleh rasa cemas..

Para dokter menyimpulkan bahwa setiap satu dari duapuluh orang Amerika akan menghabiskan sisa hidupnya di Rumah Sakit jiwa. Dan yang lebih memprihatinkan adalah bahwa setiap satu dari enam pemuda yang pernah mengajukan permohonan di angkatan bersenjata selama perang dunia ke dua ditolak karena mengalami gangguan jiwa.”

Dr. Harold C. Habien, salah satu dokter di RS mayo pernah melaporkan pada rapat tahunan American Association Of Industrial Physicians and Surgeon dimana didapatkan bahwa sepertiga dari 176 usahawan muda yang berusia sekitar 44 tahun menderita salah satu dari 3 penyakit yang disebabkan oleh tingginya kecemasan. Yaitu penyakit jantung, penyakit maag dan tekanan darah tinggi.

Cobalah anda berfikir!! Sepertiga dari pengusaha sedang menghancurkan tubuh mereka sendiri dengan penyakit jantung, maag dan tekanan darah tinggi sebelum mereka mencapai usia 45 tahun. Inikah harga sukses itu?? Dapatkan seseorang yang terpaksa membayar kemajuannya dengan penyakit jantung atau maag dikatakan sukses? Apakah keuntungan bagi seseuorang yang mendapatkan seluruh dunia tetapi kehilangan kesehatannya?? Walaupun telah menguasai dunia toh ia tetap hanya dapat tidur dalam satu ranjang dan makan tiga kali sehari. Bahkan seorang tukang sampah pun juga dapat melakukannya. Dan kemungkinan malah si tukang sampah dapat tidur lebih nyaman dan merasakan makanannya lebih nikmat daripada si pengusaha besar.

Berkenaan dengan hal si atas, Nabi SAW telah mengemukakan beberapa hadits yang intinya mencela sifat tamak dan memperingatkan akibatnya. Nabi bersabda: Barangsiapa menjadikan keinginannya itu satu keinginan saja, maka Alloh akan mencukupi baginya keinginan dunianya dan barang siapa yang menjadikan keinginannya itu bercabang-cabang maka Alloh tidak akan peduli di bagian dunia mana ia akan binasa (HR Al Hakim).

Dalam hadits lainnya disabdakan: Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai harapannya, maka Alloh akan memberikan rasa puas dalam hatinya, dan menghimpunkan baginya segala keinginannya dan duniapun akan mendatanginya dengan merunduk. Dan barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai cita-citanya, maka Alloh akan menjadikan kemiskinan didepan matannya, membuyarkan segala keinginannya dan dunia tidak akan mendatanginya melainkan dengan apa yang sudah ditentukan baginya (HR Tirmidzi).

Sesungguhnya hak dunia atas kita adalah supaya kita “berkarya” didalamnya. Dan agar kita memperoleh kebutuhan dan kesenangan yang dapat memelihara dan membahagiakan diri kita. Pekerjaan kita sering menuntuk jerih payah dan menimbulkan kelelahan namun hal ini tidak boleh memalingkan kita dari jalan kebenaran. Harta dicari untuk dinafkahkan, bukan untuk ditimbun. Jika sudah didapat maka hendaknya dibelanjakan untuk kemaslahatan dan kelestarian hidup.

Rasulullah SAW bersabda mengenai mencari harta dunia: Sesungguhnya harta itu sangat memikat. Bagi yang mengambilnya dengan kemurahan hati maka ia akan diberkati, dan bagi yang mengambilnya dengan tamak ia tidak akan diberkati, ibarat orang makan tapi tidak kenyang-kenyang (HR. Abu Daud).

Dr. Alexis Carrel mengatakan: pengusaha yang tidak tahu bagaimana melawan rasa cemas akan mati muda.
Yaahh.. Kecemasan dan kesusahan itu dapat merubah wajah-wajah yang tadinya berseri penuh cahaya kehidupan menjadi layu, Manusia harus selalu hidup dalam kegembiraan dan rasa penuh optimis dan hendaknya menjauhkan diri dari sifat putus asa, pesimis. Sebab hal itu akan membuatnya mati sebelum ia benar-benar mati.

Sebuah doa telah diajarkan oleh Rasulullah SAW untuk dibaca tiap pagi dan petang : Ya Alloh, aku berlindung kepadaMu dari rasa susah dan sedih, , aku berlindung kepadaMu dari sifat lemah dan malas, , aku berlindung kepadaMu dari sifat pengecut dan kikir. , aku berlindung kepadaMu dari lilitan hutang dan tekanan orang (HR. Abu Daud).

Bersambung……. “menjadikan kecemasan menjadi kekuatan”

tenang


pem

Pemilu 2014 memberikan pelajaran baru bagi kedewasaan demokrasi di Indonesia. Jumlah kontestan yang lebih ramping membuat persaingan lebih ketat. Hal ini kemungkinan dikarenakan para pemilih sudah mengetahui profil dari partai politik yang ikut berkompetisi di Pemilu kali ini. Beberapa partai yang awalnya konsisten menjadi oposisi melejit perolehan suaranya. PDIP dan Gerindra merasakan manisnya kengototannya menjadi oposisi pemerintahan. Taktik selalu “beda” dengan pemerintah menjadikan media kampanye yang efektif. Terutama masalah sensitif seperti kenaikan harga BBM, harga Gas elpiji dan harga listrik, bahkan mungkin hampir semua kebijakan dari pemerintah SBY yang berasal dari demokrat “dikuliti dan dikupas”. Tahun-tahun terakhir pemerintahan SBY mungkin bakal dikenang oleh beliau sebagai pemerintahan yang menguras tenaga dan fikiran. Koalisi yang dibangun demokrat menjadi terkesan “setengah hati” akibat ketidak-patuhan para anggotanya untuk mendukung kebijakan SBY. Istilahnya “gelem enak-e ra gelem rekasane”. Mau enaknya tapi tidak mau merasakan resistensi masyarakat ketika diharuskan mengambil keputusan yang kurang populer. Bisa dilihat ketika tahun lalu pemerintah mau menaikkan harga BBM maka tidak Cuma partai oposisi yang menyerang habis pemerintah tapi juga partai koalisi yang ikutan mengail di air keruh untuk mendapatkan simpati rakyat di Pemilu 2014. Belum lagi masalah personal partai demokrat yang banyak terjebak dalam masalah korupsi. Hal ini membuat popularitas partai Demokrat hancur dan terkesan babak belur menghadapi tekanan oposisi, mempertahankan kawan koalisi setengah hati dan menjalani hari-hati dengan gerogotan kasus korupsi para petingginya.

Yes or No?..

Yes or No?..

Mungkin pak SBY memang salah satu dari sedikit politisi handal di negara ini yang sanggup bertahan dalam kubangan masalah seperti itu. Tentunya ada beberapa tokoh lain juga seperti Pak Habibi dengan masalah ancaman disintegrasi dan jepitan arus reformasi-sisa ORBA, ada juga akbar tanjung yang dengan kesabarannya sukses menghindarkan Golkar dari kehancuran meskipun demikian hebatnya saat itu golkar dihantam kiri-kanan. Juga Megawati yang juga sukses menghadapi gelombang tekanan ORBA dan sukses mengantarkan partainya menjadi pemenang pemilu beberapa kali. Dan terakhir GusDur yang dengan jurus dewa mabuknya berhasil memberikan perpektif lain dalam berdemokrasi meskipun harus turun dari kursi kepresidenan. Nah pak SBY ini mencoba trik jangka pendek dengan Konvensi pemilihan Presiden dari partai demokrat. Meskipun hal ini juga kurang berhasil mengangkat citra partai yang sudah terlanjur babak belur berhadapan dengan partai kompetitor (apalagi Demokrat merupakan partai yang tidak punya stasiun TV seperti partai-partai lainnya).
Pemilu legislatif 2014 menjadikan prediksi kejatuhan partainya pak SBY ini dari posisi puncak. Keinginan partai untuk mencalonkan calon presiden sendiri kandas setelah hanya menduduki posisi ke-5 mau nggak mau demokrat bukan lagi menjadi penentu dalam percaturan pemilihan presiden. Hal ini dipertegas dengan statement pak SBY yang menyatakan tidak akan mencalonkan presiden dan berusaha untuk membenahi partai.

uploads--1--2012--05--SBY-main-bolapirloSama-sama Playmaker tapi beda Tim

Perkembangan politik semakin mengerucutkan kekuatan kekuatan politik menjadi 2 kelompok besar. Koalisi merah putih yang mengusung Prabowo-Hatta dan koalisi pengusung Jokowi-JK. Sikap diam, hati-hati dan tidak grusa-grusu (yang sering dianggap sebagai suatu kelambanan) seperti yang biasanya diperlihatkan pak SBY ternyata menjadikan Demokrat bak gadis cantik yang diperebutkan oleh kedua lelaki keren. Dengan perolehan 60an anggota di parlemen menyebabkan kedua kelompok koalisi ini menjadi sangat tergantung dengan keputusan partai demokrat. Posisi strategis ini sepertinya dipahami dengan sangat baik oleh pak SBY. Sebuah kondisi dimana menjadi keuntungan tersendiri bagi partai dan dalam ikut serta sebagai penyeimbang dalam membangun bangsa ini. Penulis bukan supporter pak SBY, namun dengan khusnudhan penulis masih percaya ada niatan baik dari pak SBY meskipun tidak ikut dalam lingkaran pemerintahan, beliau juga tidak menginginkan menjadi Oposan yang membabi buta. Kenapa? Karena beliau sudah 10 tahun merasakan bagaimana susahnya mengambil kebijakan jika para oposan “rela” mengorbankan kepentingan jangka panjang dalam pembangunan bangsa ini hanya demi kepentingan sesaat seperti pemenangan Pemilu. Terbukti ternyata kebijakan kenaikan BBM yang diusulkan beliau yang ditentang habis-habisan oleh partai oposan, giliran mereka berkuasa dengan lagak seolah lupa malah menyalahkan pemerintah sebelumnya karena tidak menaikkan BBM. Sepertinya ini yang menjadi pelajaran berharga bagi pak SBY dalam mengarahkan partainya untuk bergerak maju dengan elegan tanpa harus “menjilat ludah sendiri”. Yah.. lebih tepatnya politik “Mengambang” akan dipakai sebagai strategi politik kedepan. Jika Gus Dur sering menggunakan istilah sepakbola Catenacio (pertahanan grendel) dalam berpolitik, mungkin Demokrat akan mengusung strategi “PePePa” (pendek-pendek-panjang) ala Indra syafri di tim U-19 diselingi “Jogobonito” ala tim Samba. Tidak mengusung pola asal nyerang sehingga lupa pertahanan, atau pola bertahan total sehingga tak bisa berkembang.

Politik “mengambang” ini bisa dilihat dari gelagat sampai saat ini belum ada rencana bergabung dalam koalisi manapun. Juga dari pernyataan SBY tentang pembahasan UU Pilkada dimana beliau mengatakan demokrat akan berpikir jernih dan tidak setuju kalo hanya ada fihak “A” dan “B” saja dalam menyikapi masalah. Politik mengambang bagaikan Playmaker dalam permainan bola. Dia bukan Pencetak gol tapi sangat berpengaruh dalam “Irama” suatu permainan. Dia tahu kapan dan kepada siapa harus mengoper bola, juga kapan harus mendrible bola itu sendirian, bahkan jika diperlukan dia bisa mencetak Goal. Operan tak harus ke depan tapi juga bisa ke belakang. Juga bisa saja membuang bola jika memang mau mendelay permainan. Dan juga bisa melakukan “Tackle” keras jika memang dibutuhkan. Maksudnya ialah sebuah Politik yang dimainkan sebagai “penyeimbang” tidak melulu bersebrangan dengan pemerintah, tapi juga tidak selalu meng-iyakan apa kata pemerintah. Bahkan penulis memprediksi demokrat akan welcome jika kader partainya “dipakai” dalam pemerintahan, namun akan ada sebuah kesepakatan bahwa pemakaian kader ini tidak akan merubah politik “Mengambang” ini. Menjadi Oposan “sejati” tidak selalu menguntungkan. Tapi dengan politik “mengambang”, partai lebih bebas dalam bersikap tanpa ikatan dan komitmen. Hanya kepentingan dirinya sendiri dan semoga juga kepentingan rakyatlah yang mendasari apakah mendukung atau menolak suatu kebijakan pemerintah..
Semoga Indonesia semakin maju dan semakin dewasa dalam berdemokrasi.. sekian..

KEMPENG untuk bayi, amankah?

Posted: 11 September 2014 in Kesehatan
Tag:, , ,

dotKempeng atau istilah medisnya Non-nutritive sucking (NNS) merupakan kebiasaan turun-temurun yang diwariskan dari nenek moyang kita. Sebuah tradisi yang bertujuan untuk memberikan ketenangan bagi bayi-bayi yang sedang rewel atau bayi yang akan tidur.
Jika dilihat, maka ada beberapa hal yang harus menjadi pertimbangan untuk memberikan NNS ini sehingga bisa diantisipasi dampaknya dikemudian hari.
1. Penyapihan dini
Pada bayi yang diberikan kempeng ataupun minum dengan dot berisiko terjadinya penyapihan dini. Hal ini disebabkan oleh perbedaan kekenyalan antara puting payudara dengan dot atau kempeng sehingga menyebabkan terjadinya kesalahan teknik menghisap. Kondisi ini jika diteruskan akan menyebabkan bayi menolak pemberian ASI dengan cara menetek. Adanya penurunan frekuensi dalam menetek akan menyebabkan produksi ASI ibu menurun sehingga risiko penyapihan dini bisa terjadi. Pada penelitian didapatkan bahwabayi yang hanya menetek mempunyai proporsi yang lebih lama dengan dibanding bayi yang menggunakan dot (baik terus-menerus maupun kadang-kadang) (Victoria, 1997).

2. Risiko infeksi
Risiko infeksi yang bisa terjadi dapat berupa adanya infeksi telinga tengah (OMA/Otitis Media Akut). Hal ini berhubungan dengan aktivitas menghisap yang menyebabkan meningkatnya kemungkinan masuknya cairan dari kerongkongan masuk ke dalam saluran telinga (Tuba eustachius). Hal ini akan diperparah dengan higinitas dot/kempeng yang tidak diperhatikan. Sehingga adanya kuman yang menempel pada kempeng/dot dengan mudah ikut terlibat dalam proses terjadinya infeksi. Infeksi lain yang mungkin bisa terjadi yaitu oral thrush, dan diare dan saluran napas.

3. Karies gigi dan maloklusi
Kelainan gigi ini bisa terjadi terutama jika didapatkan adanya bayi yang sering mengempeng lebih dari 2 tahun sehingga disarankan jika lebih dari 1 tahun maka diupayakan untuk penyapihan pemberian dot/kempeng karena akan mengganggu pertumbuhan gigi geligi si bayi. Penelitian Peressini (2003) menunjukkan pemberian dot saat tidur sangat berisiko terjadinya kerusakan gigi pada bayi.

4. Efek menenangkan
NNS dapat menenangkan bayi yang rewel. Bayi yang saat masih janin sudah biasa mengempeng ibu jarinya akan membawa kebiasaan tersebut saat sesudah lahir. Pada bayi-bayi kecilyang dirawat di ICU bayi (NICU) NNS dapat memperkuat otot-otot mulut sehingga memudahkan pemberian minum oral. NNS juga memperpendek masa rawat inap pada bayi-bayi kecil ini.

5. Sindroma kematian bayi mendadak (sudden infant death syndrome/SIDS)
SIDS adalah kematian bayi usia kurang dari 1 tahun yang bisa terjadi mendadak dan tidak diketahui sebabnya. Bisa jadi hal ini disebabkan oleh kontrol otonomik sistem kardiorespirasi yang belum sempurna. Hauck dkk menyatakan ada korelasi hubungan penggunaan NNS untuk mengurangi terjadinya SIDS. AAP (IDAI nyaAmerika serikat) menganjurkan NNS saat tidur, namun jika sudah terlepas tidak perlu dimasukkan lagi. Meski begitu kebersihan kempeng harus selalu dijaga, dan bagi bayi yang menetek jangan diberikan kempeng dulu sampai usia 1 bulan.

Demikian sekilas tentang mengempeng… semoga bermanfaat..
Referensi
• IDAI. Indonesia menyusui. Badan penerbit IDAI. 2010.
• Victoria CG et al. Pacifier use and short breastfeeding duration: cause, consequence, or coincidence. Pediatrics. 1997;99:445-53
• Peressini S. Pacifier use and early chilhood caries: an evidence-based study of literature. J Can Dent Assoc. 2003;69:16-9.


kepulauan-indonesiaMenjelang Pemilihan Presiden, perpolitikan negara ini semakin menghangat. tidak peduli di bulan ramadhan, para pendukung capres terkadang lupa jika kita masih bersaudara. bahkan ironisnya lagi sesama umat Islam saling “Memfitnah” demi meningkatkan popularitas capres yang didukungnya. yah setelah menahan diri untuk tidak membicarakan politik pilpres akhirnya penulis tergelitik untuk sedikit berfikir tentang apa yang terjadi terutama dalam sudut pandang kemasylahatan Umat Islam.

Akhir pemilihan legislatif menempatkan PDIP menjadi pemenang pemilihan anggota legislatif dengan “hanya” memperoleh 20% suara. kemenangan yang tidak muthlak ini memaksa PDIP berfikir untuk berkoalisi dengan partai lain untuk dapat mengusung tokoh yang digadang-gadang dapat memenangi persaingan dalam pemilihan Presiden di Republik ini. dilain fihak diantara tokoh-tokoh yang semula sudah memproklamirkan diri sebagai calon Presiden-wakil presiden mulai berguguran.
Angin segar berhembus tatkala ada suara yang menginginkan partai-partai Muslim untuk bergabung dan mencalonkan diri maju menjadi Poros baru. Seperti biasa, Tokoh Poros tengah saat jaman GusDur yaitu Amin rais berusaha menggagas koalisi ini. Keinginan untuk membentuk poros baru dengan mengangkat calon presiden yang diharapkan dapat mewakili kepentingan umat islam akhirnya sedikit-demi sedikit kandas tatkala PPP melalui ketuanya menyatakan mendukung Prabowo sebagai calon Presidennya. Perkembangan selanjutnya semakin mengerucutkan capres-cawapres hanya 2 calon apalagi setelah Demokrat “Menyerah” untuk mengajukan calon sendiri.
Kedua Poros ini bersaing ketat untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat luas dengan caranya masing masing. Capres no 1 semakin mengkondisikan diri sebagai capres yang didukung sebagian besar partai Islam dan 2 partai nasional besar yaitu demokrat dan golkar. sedangkan di sisi lain capres no 2 “Hanya menggandeng 4 partai diluar PDIP dengan hanya 1 partai berbasis Islam yaitu PKB sebagai pengusungnya. Dalam tulisan ini penulis tak akan membahas tentang sepak terjang dari kedua capres karena penulis tidak ada urusan dan ketertarikan terhadap masalah itu. Namun penulis sempat penasaran dengan manuver PKB dan beberapa Tokoh Ormas Besar dan kyai-kyai seperti KH Hasyim Muzadi, Qurays Syihab dan Buya Syafi’i Ma’arif yang secara langsung maupun tidak beliau-beliau ini menampakkan dukungan terhadap capres no 2 dimana hal ini sangat berlawanan dengan arus besar Partai/Ormas Islam yang sebagian besar menyatakan dukungan terhadap capres no 1 dengan alasan “Lebih Islami” mungkin begitu bahasa halus mereka (terlepas dari kepentingan politik Praktis partai pendukung).
Lama penulis memikirkan hal ini mencari jawaban “Kenapa kalo memang umat Islam lebih sreg terhadap capres 1 kok ya masih ada ketidak kompakan diantara ummat.. Susah banget sih diajak bersatu… begitu fikiran saya saat itu. Disisi lain meskipun saya bukan simpatisan salah satu Capres, karena saya yang sudah 14 tahun tinggal di Solo sampai saat ini masih yakin bahwa capres no 2 ini bakalan sulit untuk ditaklukkan, kepiawaian dalam berpolitik dan popularitas yang sudah dibangan jauh-jauh hari bakal sulit tertandingi bahkan mungkin masih bisa menang di Pilpres kali ini meskipun digempur habis-habisan.

antarafoto-ShalatIdIstiqlal310811-3
tiba-tiba saat membaca tulisan-tulisan pak dahlan Iskan tentang tips n trik dalam mengelola BUMN yang sering sekali dikelola dengan prinsip Usul fikih salah satunya sebuah ungkapan usul fikih yaitu :”jika tidak bisa diambil keseluruhannya maka jangan ditinggalkan semuanya” barulah penulis menyadari mungkin inilah alasan “langkah mabok” atau melawan arus yang dilakukan PKB dan beberapa pimpinan berpengaruh Ormas Islam yang mendukung capres no 2. Bagaimanapun pasangan Capres 2 juga Muslim sejati yang tidak perlu diragukan lagi kapasitasnya (begitukan seharusnya Khusnu Dzon nya?) yang juga berhak untuk mendapatkan dukungan dari pemuka-pemuka muslim terbaik di negeri ini. Bagaimana mungkin akan didapatkan orang yang tepat untuk mengisi Menteri Agama jika semua generasi muslim terbaik negeri ini tidak ada satupun yang ikut “Cawe-cawe” atau ikutan membantu beliau mengurus negeri ini jika akhirnya nanti kemenangan ada di fihaknya. Jika itu yang terjadi maka jangan heran jika apa yang dikampanye hitamkan tentang “Kabinet bayangan” dimana Menterinya berisi orang-orang yang anti Islam bisa saja terjadi jika para pemimpin ummat terbaik di negeri ini hanya mendukung capres no 1. Jika pun akhirnya Capres no 1 yang terpilih menjadi presiden maka tidak ada ruginya bagi Beliau-beliau karena toh disamping nya sudah berdiri partai-partai Islam dan beliau-beliau para tokoh bangsa yang berpandangan out of box ini sudah menginfakkan dirinya dan bukan tipikal pengejar jabatan.

Dalam Ushul Fiqh juga disebutkan bahwa ”Menghindarkan kerusakan lebih diutamakan daripada mendatangkan kebaikan.” begitulah mungkin makna Ikhtilaful ulama’ rokhmatal ummah.. bukan melulu ditafsirkan sebagai perpecahan dalam urusan-urusan yang perlu kearifan dan pemikiran jangka panjang..

Semoga Alloh melimpahkan keberkahan negeri ini dengan pemimpin yang adil dan amanah.. amiin..