old kaaba

Pada tulisan sebelumnya, penulis telah mengemukakan tulisan tentang ka’bah sebelum masa ibrahim as (alaihissalam). Kali ini kita akan berbagi tentang bagaimana pembangunan ka’bah semasa Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

Perintah Pembangunan Ka’bah

Sejarah tentang pembangunan ka’bah semasa nabi Ibrahim AS didapatkan beberapa riwayat. Salah satu riwayat didapatkan ketika seseorang mendatangi sahabat Ali bin Abi tholib RA (radhiallohu Anhu) sambil bertanya,

“Dapatkah engkau menceritakan kepadaku tentang Baitullah? Apakah betul ia rumah pertama yang ada di bumi?”.

“ Bukan, ia adalah rumah yang penuh dengan berkah yaitu Maqom Ibrohim. Siapa yang masuk didalamnya dia akan aman. Aku akan menceritakan kepadamu bagaimana ia dibangun. Sesungguhnya, Allahmewahyukan pada nabi Ibrahim AS, “Bangunlah sebuah rumah untuk-Ku di bumi”. Setelah menerima wahyu itu, Nabi Ibrahim pun resah. Maka, Allah menurunkan assakinah (ketenangan) yaitu angin yang memiliki dua arah, yang arah satu mengikuti arah lainnya. Dua arah angin itu bergerak hingga sampai di Mekkah dan berputar-putar di lokasi Baitullah seperti ular yang melingkar. Lalu Allah mewahyukan Nabi Ibrahim agar membangun ka’bah ditempat angin tersebut melingkar. Maka Ibrahim pun tenang dan mulai membangun Ka’bah”.

Riwayat dari Ath-Thabari lainnya yang diambil dari Ibnu Ishak, beliau berkata, “Mujahid dan ulama yang lain berkata bahwa setelah Allah SWT menampakkan pada Ibrahim AS lokasi Baitullah dan tanda-tanda tanah haram, ia pergi dan malaikat Jibril mengikutinya. Jika masuk ke sebuah desa Nabi Ibrahim bertanya, “Di tanah inikah engkau diperintahkan untuk memberitahuku wahai Jibril?”. Jibril menjawab” teruslah berjalan”.

Sesampainya di mekkah, saat itu tanahnya masih tandus dan dihuni kaum Amaliq yang tinggal di luar mekkah dan sekitarnya. Sedangkan Ka’bah masih berupa tanah tinggi yang berwarna merah. Nabi Ibrahim bertanya kepada jibril, “apakah aku diperintahkan untuk membangun Ka’bah di sini ?”.

“Ya” jawab jibril.

Nabi Ibrahim kembali ke mekkah untuk ketiga kalinya saat diperintahkan Allah untuk membangun Ka’bah bersama anaknya, Nabi Ismail AS. Saat itu nabi Ismail berusia 30 tahun. Sa’id bin Zubair meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, “ Ketika Nabi Ibrahim AS datang, ia mendapati Ismail sedang membetulkan panahnya di sebelah sumur Zam-zam. Ibrahim berkata “Wahai Ismail, sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkanku untuk membangun sebuah rumah untukNya”.

“maka, laksanakan perintah Tuhanmu” jawab Ismail.

“Tapi Allah memerintahkan engkau membantuku”.

“Kalau begitu aku akan membantumu” jawab Ismail.

Al-Umari meriwayatkan dari Sa’id ibnu ‘Arubah dari Qotadah bahwasanya ia berkata, “Cerita yang sampai pada kami menyebutkan bahwa pondasi Baitullah berasal dari gua Hiro’. Disebutkan juga bahwa bahan untuk membangun Baitullah berasal dari lima gunung ; Hiro’, Lubnan, al-Judi, Thursina, dan Thurzetta.

Penulis kitab “Tarikh al-Ka’bah al-Mu’azhzhamah” menggambarkan bahwa “Nabi Ibrahim menjadikan tinggi Ka’bah 9 hasta (1 Hasta = 45 cm), panjang utara ke selatan melalui sisi timur adalah 32 hasta, sedangkan panjang utara ke selatan dari sisi barat adalah 31 cm. Adapun panjang dari timur ke barat melalui sisi selatan atau dari Hajar Aswad ke rukun Yamani adalah 20 hasta. Sedangkan panjang dari timur ke barat melalui sisi utara atau melalui hijir Ismail adalah 22 hasta. Selain itu Nabi Ibrahim membuat 2 pintu hingga ke lantai. Pintu pertama di sebelah timur, di dekat Hajar Aswad, an yang kedua di sebelah barat di dekat rukun Yamani sejajar dengan pintu pertama. Dan Nabi Ibrahim menggali lubang di dalamnya untuk menyimpan barang,ia tidak menutup lubang itu dengan atap atau tanpa daun pintu”.

Lubang yang dibuat oleh Nabi Ibrahim dimaksudkan sebagai gudang penyimpanan, dan berharap Ka’bah bukan sekedar tempat ibadah kepada Allah, tapi juga sebagai tempat untuk mempersembahkan nadzar, dan lubang itu akan digunakan untuk menyimpan harta nadzar.

Sejarah Hajar Aswad

Sebagaimana kita ketahui, dipojok bangunan Ka’bah didapatkan adanya Batu Hajar Aswad. Sejarah tentang Hajar Aswad disaat bangunan Ka’bah nyaris sempurna. Ath-Thabari  menyebutkan “ Ketika itu Nabi Ismail ingin menyempurnakan Ka’bah dengan sebuah benda, tetapi Nabi Ibrahim  berkata, “Jangan! Carilah batu seperti yang aku perintahkan”. Nabi Ismailpun pergi mencari batu itu. Namun ketika kembali, ternyata Nabi Ibrahim AS sudah meletakkan sebuah batu hitam. Nabi Ismail pun bertanya, “Wahai Ayah, dari manakah engkau mendapatkan batu itu?”.

“Yang membawa batu itu adalah dia yang tidak dapat menunggumu yaitu Jibril. Ia membawanya dari langit”

Hajar Aswad berupa batu lonjong tidak beraturan. Berkilau berwarna hitam kemerahan yang di atasnya ada goresan berwarna merah dan kuning. Diebutkan juga dalam sebuah kitab mungkin Hajar Aswad adalah sejenis meteor karena dapat memancarkan cahaya ke arah barat, timur, syam dan Yaman hingga ke lembah-lembah di Tanah haram. Dan dilihat dari karakternya yang bersinar menunjukkan bahwa batu itu aslinya tidak berwarna hitam. Memang ada sebagian meteor berubah warna karena perjalanan waktu dan adapula yang tetap berkilau dan bersinar. Sebagian sejarawan mengatakan bahwa batu itu menjadi hitam karena perbuatan dosa kaum jahiliyah.

Penghormatan pada Hajar Aswad menurut para ulama tidak lain adalah karena Hajar Aswad memiliki keterkaitan dengan suatu yang suci dan mulia yaitu:

Pertama: tanda akan kesusahan yang ia rasakanketika diperintah Allah meninggikan Ka’bah,

Kedua: Tanda untuk mengenang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS yang telah meninggikan Ka’bah sebagai tempat berkumpulnya manusia dan tempat yang aman untuk beribadah,

Ketiga: Hujjah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Asbahwa Baitullah telah seleai dibangun dan kepemilikannya ada pada Allah SWT.

Congkop.com-MENGENAL-BATU-HAJAR-ASWAD

Seruan Haji Pertama kali

Setelah selesai membangun Ka’bah, Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyeru manusia melakanakan ibadah Haji ke Makkah. Imam Ath-Thabari meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, bahwa Nabi ibrahim etelah menerima perintah itu, beliau berkata “ Wahai Tuhanku, Suaraku tidak akan mampu memanggil hingga jauh”.

“Serulah, aku yang akan menyampaikan” Jawab Allah SWT.

Lalu Nabi Ibrahim menyeru “Wahai Manusia, sesungguhnya Allah mewajibkan atas kamu haji ke baitullah” dan ternyata seluruh makhluk yang ada di bumi dan di langit mendengar seruan Nabi Ibrahim AS tersebut.

Riwayat dari Ubaid bin Umair Al-Laitsi mengatakan bahwa setelah nabi ibrahim dan Nabi Ismail meninggikan bangunan ka’bah hingga selesai, turunlah perintah Allah untuk melaksanakan ibadah haji. Nabi Ibrahim kemudian menghadap ke Yaman dan menyeru manusia untuk beribadah kepada Allah dan berhaji ke Rumah-Nya. Kemudian terdengar jawaban “Labbaikallahumma labbaik”. Lalu nabi Ibrahim menghadap ke barat dan melakukan hal yang sama dan terdengar jawaban yang sama.

Selanjutnya menurut Imam Ath-Thabari menyatakan bahwa raulullah SAW menceritakan bahwa jibril menemui Nabi Ibrahim pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah) dan mengajarkan tatacara Haji ecara lengkap kepada Nabi Ibrahim AS.

Setelah emuanya selesai, Nabi Ibrahim kembali ke negri syam. Saat itu nabi Ismail telah dewasa dan mampu menggantikan ayahnya mengemban tugas dakwah pada agama yang lurus.

 

Keputakaan

Ali Husni Al-Khurtubi, Tarikh Ka’bah, Hal 27-44

Ath-Thabari, Tarikh Al-Umam wa Al-Mulk, jil I, hal 48

Ath-Thabari, Tarikh Al-Umam wa Al-Mulk, jil I, hal 176-184

Luthfi Jum’ah, Taurah Al-Islam wa Bathal Al-Anbiya’, Hal 59

Ibn Fadhillah al-Umari, Masalik al-Absar fi Mamalik Al-Amhar, Jil I, Hal 94

 

 

Iklan

Assalamuaaikum para pembaca sekalian..

Penulis ucapkan Marhaban ya ramadan, dan selamat menunaikan ibadah puasa bagi kaum yang beriman..

pernah penulis ditanya oleh seseorang. “Sudah berapa kali anda khatamkan Al Qur’an?”, penulis jawab “insyaAllah tiap kali ramadhan minimal 1 kali khatam”.  beliau bertanya kembali ” lantas, berapa kali anda telah menghatamkan terjemahan Al-Qur’an atau malah Tafsir Al-Qur’an?” penulis dengan malu terpaksa menjawab “Belum pernah”. Beliaubertanya kembali “Jika memang anda menganggap Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, atau buku manual kehidupan manusia, bagaimana anda bisa mengatakan itu dan bisa melakukan apa yang ada pada Al-Qur’an jika anda isinya saja belum pernah membaca sampai tuntas?” Mak Jlebbb..  sebuah pertanyaan yang menggugah diri ini sebagai seorang muslim.. sejak saat itu penlis berusaha mencari minimal Murottal yang ada terjemahannya untuk penulis putar saat-saat senggang. Memang seringkali kita menghabiskan waktu di jalan, disaat terjebak kemacetan dengan mendengarkan music untuk mengusir kejenuhan, namun ternyata mungkin akan lebih bermanfaat jika sambil bermacet ria kita sambil belajar.. ya.. mempelajari Manual book seorang manusia yang telah diberikan dari sang pencipta..

Untuk itu kali ini penulis ingin membagikan Murottal beserta terjemahan alqur’an dalam bahasa Indonesia. tidak segitu besar file nya tapi insya Allah cukup bermanfaat buat kita saat mengisi waktu longgar. mungkin ketika kita lagi menyetir kendaraan, atau saat sambil mengetik mengerjakan tugas alangkah bermanfaatnya jika sambil bekerja sambil mencoba menghatamkan Al-Qur’an tidak hanya menghatamkan bacaannya namun juga paling nggak pernah juga mendengarkan sampai Khatam isi terjemahan Al-Qur’an, syukur- syukur bisa sambil belajar tafsirnya sekalian.

bagi yang berkenan monggo silakan didownload di link di bawah ini:

Murottal dan terjemahan Al Quran lengkap

semoga menjadi jariyah buat penulis dan keluarga dan semua yang membagikan kebaikan ini…

wassalam

Rabu 7 Ramadhan 1439 H

 

Sejarah Hari Ibu di Indonesia

Posted: 29 Desember 2016 in Peristiwa

kongres-wanita-1928

Kongres Perempuan pertama di yogyakarta tahun 1028

Kemarin kita memperingati hari yang khusus dipersembahkan buat para Ibu. ya… Hari ibu di negeri ini diperingati tiap tanggal 22 Desember.

Penulis penasaran saja ingin mencari bagaimana sih sebenarnya awal mula Hari Ibu di negeri ini.

Diperingatinya Hari Ibu Nasional bagi sebagian orang hanya terpacu pada Surat Keputusan (SK) Presiden No 136 tahun 1959, namun Beberapa tulisan menyatakan bahwa proses peringatan Hari Ibu ini sudah terjadi sejak lama. yaitu sejak adanya pembukaan Kongres Perempuan Indonesia pertama yaitu dimulai tanggal 22-25 Desember 1928. Kongres ini diselenggarakan di sebuah gedung bernama Dalem Jayadipuran, di Jalan Brigjen Katamso, Yogyakarta. (yang kini merupakan kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional).

Kongres ini dihadiri sekitar 30 organisasi wanita dari 12 kota di Jawa dan Sumatra yang kemudian melahirkan terbentuknya Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Di Indonesia, organisasi wanita telah ada sejak 1912, terinspirasi oleh pahlawan-pahlawan wanita Indonesia pada abad ke-19 seperti Kartini, Christina Martha Tiahahu, Cut Nyak Meutia, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, dan lainnya. Kongres dimaksudkan untuk meningkatkan hak-hak perempuan di bidang pendidikan dan pernikahan.

dalem-jayadipuran

Agenda utama Konggres Perempuan Indonesia I adalah persatuan perempuan nusantara, peranan perempuan dalam perjuangan kemerdekaan, peranan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita, hingga pernikahan usia dini bagi perempuan, dan lain sebagainya.

Kongres Perempuan Indonesia II kemudian digelar Juli 1935. Dalam konggres ini dibentuk BPBH (Badan Pemberantasan Buta Huruf) dan menentang perlakuan tidak wajar atas buruh wanita perusahaan batik di Lasem, Rembang.

Peringatan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember baru ditetapkan pada Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938, setelah 21 tahun akhirnya secara resmi tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu oleh Presiden Soekarno melalui melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959.

Sejarah peringatan Hari Ibu di Indonesia berbeda dengan peringatan Hari Ibu di negara-negara lain. secara umum belum ada peringatan Hari Ibu yang dilakukan secara bersama-sama di seluruh dunia. jadi mungkin kurang tepat kiranya ketika kita mengucapkan Happy World Mothers Day.

di Normegia peringatan Hari ibu dilakukan pada tanggal 14 Februari, sedangkan di Yunani tiap tanggal 2 februari, sementara di perancis diperingati tiap minggu ke dua bulan mei, di negara-negara Arab peringatan hari ibu dilakukan tiap tanggal 21 Maret, di Thailand peringatan hari Ibu didasarkan oleh ulang tahun ratu Sirikit yaitu tiap tanggal 12 Agustus.

Jadi sekali lagi hari Ibu diperingati hampir di seluruh belahan dunia, namun mereka memiliki sejarah dan tanggal sendiri sebagai latar belakang peringatannya. pada intinya meskipun berbeda, namun peringatan ini menunjukkan bahwa masyarakat dunia mengakui dan ingin menunjukkan betapa besarnya peran Ibu dalam kehidupan sehari-hari, dan sudah selayaknya kita harus mampu memuliakan dan menempatkan para ibu di tempat yang terhormat.

wassalam.

sumber foto:

http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-8706-detail-sejarah-di-balik-hari-ibu-dan-kongres-perempuan-pertama-di-yogyakarta.html

http://mediaindonesia.com/news/read/9887/1928-kongres-perempuan-indonesia-i/2015-12-22

https://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Ibu


kakbahmekkah-blogspot-co-id

 

Sebelum Ka’bah berdiri, sebagian Nabi mempunyai rumah khusus untuk beribadah yang disebut Baitullah. Nabi Nuh AS contohnya, ia memiliki beberapa Baitullah yang kemudian juga dipakai oleh Ibrahim AS. Ibrahim AS sendiri di negerinya memiliki Baitullah. Tapi berbeda dengan Baitullah-baitullah sebelumnya, Ka’bah adalah Baitullah pertama yang dibangun untuk beribadah seluruh umat manusia kepada Allah Yang Maha Esa.

Berbicara tentang ka’bah sebelum Nabi Ibrahim AS memang menimbulkan banyak pertanyaan. Para ahli sejarah sepakat bahwa Nabi Ibrahim dan putranya Ismail lah yang mulai membangun bangunan Ka’bah setelah bereka mendapatkan perintah dari Allah SWT.

Tentang sejarah Ka’bah sebelum Nabi Ibrahim AS banyak versi ditemukan. Bahkan beberapa diantaranya tampak terlalu menghayal dan beberapa kisahsatu sama lainnya kadang bertentangan. Namun tidak ada salahnya kita mengangkat sedikit dari riwayat-riwayat yang kebanyakan tertulis dalam buku-buku sejarah klasik tersebut.

Beberapa sejarawan masa lampau ada yang mengatakan bahwa yang pertama membangun ka’bah adalah malaikat, tepatnya sebelum bumi diciptakan. Pendapat ini didasarkan pada firman Allah SWT: “ sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata, Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) dibumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertashbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? Allah berfirman, sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” menurut riwayat ini kemudian malaikat menyesal dan takut, mereka menengadah sambil memohon ampunan. Lalu para malaikat ini thawaf mengelilingi ‘Arsyi sebanyak 7 kali sambil berseru :” Ya Allah kami datang menyambut panggilanMu, kami datang memohon ampunan Mu, kami memohon ampunan dan bertaubat kepada Mu”. Melihat hal itu maka Allah menurunkan rahmatNya dan membuat sebuah rumah di bawah ‘Arsy yaitu “Baitul Ma’mur”. Kemudian Allah berfirman pada malaikat “Thawaflah kamu mengelilingi rumah ini dan tinggalkanlah ‘Arsy”. Akhirnya mereka thawaf di al-Baitul Ma’mur”.

Selanjutnya, menurut sejarawan, Allah SWT memerintahkan para malaikat yang ada di bumi untuk membangun sebuah bangunan serupa dengan al-Baitul Ma’mur. Kemudian Allah perintahkan para malaikat di bumi untuk thawaf mengelilingi bangunan tersebut sebagaimana thawafnya para malaikat di al-Baitul Ma’mur.

Dalam riwayat lain, Abu Al Walid Al Azraqi meriwayatkan dari Ali bin Hushain bin Ali bin Abi Tholib “ sesungguhnya, suatu ketika Allah mengutus para malaikatnya, Dirikanlah untuk Ku sebuah bangunan yang bentuknya menyerupai Al-Baitul Ma’mur dan memuliki nilai seperti dia pula” Kemudian Allah SWT memerintahkan semua yang ada di bumi dari kalangan malaikat untuk thawaf di rumah itu sebagaimana penduduk langit juga berthawaf di al Baitul Ma’mur. Abu Al-Walid berkata:” dan peristiwa itu terjadi sebelum Adam diciptakan”. 1

Diriwayat lainnya disebutkan bahwa Nabi Adam AS adalah orang yang pertama membangun Ka’bah. Seperti riwayat Ibnu Luhai’ah yang mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda :” Allah pernah mengutus Jibril untuk menyampaikan wahyu kepada Adam dan Hawa. Sembari menunjukkan lokasi, maka jibril menyampaikan wahyu itu pada keduanya. Isi dari wahyu itu adalah ‘Dirikanlah untuk Ku sebuah bangunan’. Seketika itu Nabi Adam pun menggali tanah dan Hawa memindahkan tanah galian tersebut. Nabi Adam terus menggali sampai akhirnya keluar air dan terdengan seruan dari bawan, “Cukup, wahai Adam”. Setelah bangunan itu jadi, Allah memerintahkan Nabi Adan dan Hawa untuk melakukan thawaf. Dan Dia berfirman “Engkau adalah manusia yang pertama dan ini adalah bangunan yang pertama” lalu seiring bergantinya waktu, sampailah masa Nabi Ibrahim AS yang kemudian meninggikan pondasi ka’bah.

ilustrasi makkah sebelum ka'bah dibangun Nabi Ibrahim AS

ilustrasi makkah sebelum ka’bah dibangun Nabi Ibrahim AS

Ibnu Qutaibah dalam kitabnya ‘Al-Ma’arif” menyebutkan bahwa orang pertama yang membangun ka’bah adalah Syits bin Adam. Dia menuturkan:” Syits adalah putra Adam yang paling mulia, paling utama, dan paling dicintai Nabi Adam AS. Dia penerus dan pengganti bapaknya. Bapak para manusia karena dari nasabnyalah seluruh manusia berasal. Dia membangun ka’bah dari tanah dan batu tepat di lokasi Nabi Adam setelah diturunkan dari Surga .2

Al Umari juga meriwayatkan. Ada yang berkata bahwa Adam AS adalah orang yang pertama membangun ka’bah. Ada yang berkata bahwa Syits bin Adam adalah yang pertama membangun ka’bah. 3

Berbagai riwayat mengatakan bahwa dahulu tempat berdirinya ka’bah adalah tempat beribadahnya kaum ‘Amaliq, kaum ini telah musnah sebelum datangnya Ibrahim ke Hijaz. Tempat ini disucikan sehingga orang mesir kuno menyebut Hijaz dengan al-Bilad al-Muqoddasah atau negeri yang Suci.

Ilustrasi Makkah di zaman Nabi Ibrahim as

Ilustrasi Makkah di zaman Nabi Ibrahim as

Sumber Gambar: http://kabahmekkah.blogspot.co.id/

Sumber

  1. Ibnu Fadhilah Al Umari, Masalik al-abshar fi Mamalik al-amshar, jilid I Hal 94
  2. Ibnu Qutaibah, Al-Ma’arif (Al-Husainiyyah, 1934) Hal. 10
  3. Ibnu Fadhilah Al Umari, Masalik al-abshar fi Mamalik al-amshar, jilid I Hal 94
  4. Al-Kharbutli. AH, Sejarah Ka’bah, 2013, Hal 19-24

Banyak yang tidak mengerti bahkan menuduh bahwa umat Islam yang katanya tidak menyembah sesuatu selain Allah SWT ternyata mereka menyembah Batu Hitam alias Ka’bah. Sebenarnya orang yang berkomentar seperti ini kalau mereka muslim sangat mungkin pengetahuan mereka baru terbatas, jika mereka berasal dari luar Islam mungkin jika mereka mau mengoreksi atau sedikit berfikir apa yang mereka tuduhkan tidak ada apa-apanya dengan apa yang sehari-hari mereka lakukan. Lantas bagaimana sebenarnya Ka’bah dalam pandangan seorang muslim?

baitul-maqdis

Area Baitul Maqdis/Baitul Muqoddas di Yerusalem Palestina, Kiblat pertama umat Islam

Pada awal kemunculan Islam, kaum muslimin bebas menghadap kemana saja dalam sholat mereka, baik ke timur maupun ke barat.1 Namun Nabi saat sholat lebih suka berada di sisi ka’bah dengan menghadap ke arah baitul Maqdis, sebuah tempat dan kiblat para nabi.

Kemudian ketika kaum muslimin hijrah ke Madinah, mereka masih sholat menghadap baitul Muqoddas/ Baitul Maqdis di yerussalem Palestina.2 Kemudian baru 16 -17 bulan setelah hijrah ke Madinah Allah memerintahkan kaum muslimin menghadap ke ka’bah di makkah saat sholat. Peristiwa ini terjadi saat Nabi SAW sholat di masjid.4

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ka’bah sendiri merupakan sebuah bangunan pertama didunia yang dibangun atas perintah Allah SWT sebagai tempat beribadah ummat manusia. Sebuah rumah untuk menghambakan diri pada Allah dan sebagai pemersatu arah umat muslim sedunia saat menjalankan sholat.4 Ka’bah dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Alaihimassalam setelah mendapat perintah dari Allah SWT, saat itu ka’bah masih berupa tanah tinggi yang berwarna merah.5

tentang tuduhan bahwa kami umat Muslim menyembah ka’bah kiranya jika ditilik dari sejarah dan fakta di atas sangat jelas bahwa hal itu tidak benar, bahkan di zaman Nabi, sahabat nabi, Bilal bin Rabah, seorang maula (bekas budak) diperintahkan oleh Nabi SAW untuk melantunkan adzan di atas Ka’bah saat penaklukan makkah, kalau memang ka’bah adalah sesembahan tidak mungkin ada yang berani berdiri diatasnya.

kabah

Ruang dalam Ka’bah

Jadi Ka’bah adalah kiblat, hanya arah. Bukan disembah. Salah besar jika tuduhan tersebut dialamatkan kepada kita umat Islam.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Jika yang dituduhkan sebagai menyembah batu hitam itu hajar aswad maka pernyataan pernyataan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu ini bisa sebagai jawaban bahwa Hajar aswad hanyalah batu dan sunnah nabi hanya menciumnya. Umar RA ketika mencium Hajar Aswad yang ada di Ka’bah berucap, “Hajar aswad ini hanyalah batu yang tidak bisa memberikan kebaikan dan keburukan. Aku menciumnya karena melihat Nabi menciumnya.” Jadi tidak ada muslim yang menyembah Ka’bah atau bahkan Hajar Aswad.

semoga bermanfaat.

 

 

Keterangan:

1) Quran Surat Al-baqarah[2]:115

2) Sahabat Al Barra meriwayatkan “Kami Shalat bersama Rasulullah saw, menghadap Baitul Maqdis (di Palestina) selama 16 bulan atau 17 bulan. Kemudian setelah itu, Kiblat dialihkan ke arah Kabah (di Mekah)” (HR Bukhari)

3) Dalam riwayat Al waqidi, perstiwa itu terjadi pada hari Senin pertengahan bulan Rajab di awal bulan ke -17 setelah berkiblat ke Baitul Maqdis.

4) Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah ummat manusia adalah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan petunjuk bagi semua manusia. (Surah Ali Imran: 96-97)

5) Ath-Thabari, Tharikh Al-Umam wa Al- Muluk, jil 1 Hal 178


Assalamualaikum

Alhamdulillah, bagi teman sejawat kesehatan muslim di seluruh tanah air. berdasarkan informasi dari pusat kesehatan haji, bahwa telah dibuka perekrutan tenaga kesehatan Haji tahun 2016. silakan klik link di bawah ini:

Puskeshaji

Untuk sekedar memberikan gambaran tatacara perekrutan silakan berikut saya sertakan beberapa file berkaitan dengan hal di atas

JADWAL_2016

KELENGKAPAN_2016

TAHAPAN_2016

PMK_2013

demikian semoga bermanfaat, dan semoga menjadi jalan untuk dapat panggilan menjadi tamu Alloh disertai mendapatkan kesempatan melayani tamu Alloh yang lain…. Amin

Wassalamualaikum


Penulis: Syaikh Prof. Dr. Ali Jum’ah (Mufti Republik Mesir)

إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ‪.‬

“Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah kitab Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad SAW, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara baru, setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu tempatnya di neraka.” (HR. An-Nasa’i)

Hadits ini merupakan salah satu dari sekian banyak hadits yang berbicara tentang bid’ah. Namun untuk memahami perkara bid’ah ini tidak asal begitu saja kita pahami secara harfiah atau tekstual dari hadits tersebut, sehingga siapapun menjadi mudah untuk mengklaim saudara-saudaranya semuslim yang melakukan satu perkara yang tidak pernah dilakukan di zaman nabi SAW kita anggap sebagai pelaku bid’ah yang sesat, dan jika ia sesat berarti tempatnya di neraka. Agar tidak berkesan tergesa-gesa ada baiknya kita memahami terlebih dahulu masalah ini melalui kajian-kajian dari para ulama salafush-shalih kita yang telah terebih dahalu mengkajinya.

Definisi Bid’ah

Untuk mengetahui pengertian bid’ah yang benar maka kita harus terlebih dahulu memahami arti bid’ah secara bahasa (etimologi) dan istilah (terminologi/syariat).

Bid’ah Menurut Bahasa (Etimologi)

Yaitu hal baru yang disisipkan pada syariat setelah setelah ia sempurna. Ibnu As-Sikkit berpendapat bahwa bid’ah adalah segala hal yang baru. Sementara istilah pelaku bid’ah (baca: mubtadi’) menurut adat terkesan tercela.

Adapun Abu Adnan berpendapat bahwa bid’ah adalah melakukan satu perbuatan yang nyaris belum pernah dilakukan oleh siapapun, seperti perkataan Anda: si fulan berbuat bid’ah dalam perkara ini, artinya ia telah mendahului untuk melakukan hal itu sebelum orang lain.

Bid’ah Menurut Istilah (Terminologi/Syariat)

Ada dua cara yang ditempuh para ulama untuk mendefinisikan bid’ah menurut syara’.

Segala hal yang tidak pernah dilakukan Nabi SAW adalah Bid’ah

Pandangan ini dimotori oleh Al Izz bin Abdussalam (ulama madzhab Syafi’i), dia menganggap bahwa segala hal yang tidak pernah dilakukan Nabi SAW sebagai bid’ah. Bid’ah ini pun terbagi kepada hukum yang lima. Berikut perkataan Al Izz:

“Amal perbuatan yang belum pernah ada di zaman Nabi SAW atau tidak pernah dilakukan di zaman beliau terbagi lima macam:Bid’ah wajib.Bid’ah haram Bid’ah sunah Bid’ah makruh Bid’ah mubah. Adapun untuk mengetahui semua itu adalah mengembalikan semua perbuatan yang dinggap bid’ah itu di hadapan kaidah-kaidah syariat, jika ia masuk atau sesuai dengan kaidah atau prinsip wajib maka perbuatan itupun menjadi wajib (bid’ah wajib), jika ia masuk atau sesuai dengan kaidah atau prinsip haram maka perbuatan itupun menjadi haram (bid’ah haram), jika ia masuk atau sesuai dengan kaidah atau prinsip sunah maka perbuatan itupun menjadi sunah (bid’ah sunah), jika ia masuk atau sesuai dengan kaidah atau prinsip mubah (boleh) maka perbuatan itupun menjadi mubah (bid’ah mubah). (Lihat Qawa’id Al Ahkam fi Mashalihil Anam, juz 2. h. 204)

Makna tersebut juga dikatakan oleh Imam An-Nawawi yang berpendapat bahwa segala perbuatan yang tidak pernah ada di zaman Nabi dinamakan bid’ah, akan tetapi hal itu ada yang baik dan ada yang kebalikannya/buruk. (lihat Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al Asqalani. Juz 2.h. 394).

Definisi Bid’ah Syariat Lebih Khusus

Cara kedua yang ditempuh para ulama untuk mendefinisikan bid’ah adalah: menjadikan pengertian bid’ah menurut syariat lebih khusus dari pada menurut bahasa. Sehingga istilah bid’ah hanya berlaku untuk suatu perkara yang tercela saja, dan tidak perlu ada penamaan bid’ah wajib, sunah, mubah dan seterusnya seperti yang diutarakan oleh Al Izz bin Abdussalam.

Cara kedua ini membatasi istilah bid’ah pada suatu amal yang diharamkan saja. Cara kedua ini diusung oleh Ibnu Rajab Al Hambali, ia pun memjelaskan bahwa bid’ah adalah suatu perbuatan yang tidak memiliki dasar syariat yang menguatkannya, adapun jika suatu perbuatan ini memiliki dasar syariat yang menguatkannya maka tidak dinamakan bid’ah, sekalipun hal itu bid’ah menurut bahasa. (lihat Jami’ Al Ulum Wa Al Hikam h. 223)

Sebenarnya kedua cara yang ditempuh para ulama ini sepakat mengenai hakikat pegertian bid’ah, perbedaan mereka terjadi pada pintu masuk yang akan mengantarkan pada pengertian yang disepakati ini, yaitu bahwa bid’ah yang tercela (madzmumah) adalah yang berdosa jika megerjakannya, dimana perbuatan itu tidak memiliki dasar syar’i yang menguatkannya, inilah makna yang dimaksud dari sabda Nabi SAW,

‫كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ‬

“Setiap perbuatan bid’ah itu sesat.”

Definisi yang jelas inilah yang dipegang oleh para ulama, ahli fikih dan imam yang diikuti. Imam Syafi’i–sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi–bahwa beliau berkata,

“Perkara baru yang tidak ada di zaman nabi SAW itu ada dua kategori:Perkara baru yang bertolak belakang dengan Al Qur’an, Sunnah, pendapat sahabat atau Ijma, maka itu termasuk bid’ah yang sesat (bid’ah dhalalah). 
Perkara baru yang termasuk baik (hasanah), tidak bertentangan dengan Al Qur’an, Sunnah, pendapat sahabat atau Ijma, maka perkara baru ini tidak tercela.”(Riwayat Al Baihaqi. Lihat kitab Manaqib Asy-Syafi’i, juga oleh Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Auliya’. 9/113)

Sementara Hujjatul Islam, Abu Hamid Al Ghazali berpendapat bahwa tidak semua perkara baru yang tidak dilakukan di zaman nabi SAW itu dilarang, akan tetapi yang dilarang adalah perkara bid’ah yang bertolak belakang dengan Sunnah dan menghilangkan apa yang sudah ditetapkan syari’at. (Lih.Ihya’ Ulumuddin, juz 2, h. 248)

Imam An-Nawawi telah menukil dari Sulthanul ulama, Imam Izzuddin bin Abdussalam, dia berkata di akhir kitab Qawa’id Al Ahkam (kaidah-kaidah hukum),

“Bid’ah itu terbagi kepada wajib, sunah, mubah, haram dan makruh … ”

Di kesempatan lain, dalam pembicaraan tentang hukum bersalaman usai shalat, dia juga berkata,

“Ketahuilah bahwa bersalaman ini disunahkan pada setiap pertemuan, adapun orang-orang membiasakan bersalaman pada setiap kali usai shalat maka ini tidak ada dasarnya sama sekali, akan tetapi hal itu tidak mengapa dilakukan, karena dasar bersalaman itu adalah Sunnah. Adapun mereka yang membiasakannya pada kondisi tertentu seperti usai shalat maka hal ini tidak keluar dari keberadaan bersalaman yang disinggung oleh dasar syariat (Sunnah).” (lihat An-Nanawi dalam Al Adzkar)

Adapun Ibnu Al Atsir berkata,

“Bid’ah itu ada dua macam, bid’ah huda (yang berpetunjuk) dan bid’ah dhalal (sesat), jika perkaranya bertolak belakang dengan apa yang diperintahkan Rasulullah SAW maka itu termasuk tercela dan dikecam. Jika perkara itu termasuk yang disunahkan dan dianjurkan maka perkara itu terpuji. Dia pun menambahkan: bid’ah yang baik pada dasarnya adalah sunah.”

Karena itu hadits Nabi SAW,

“Bahwa setiap perkara baru itu bid’ah.”

Dipahami jika perkara baru itu bertentangan dengan dasar-dasar syariat dan bertolak belakang dengan Sunnah.” (lihat An-Nihayah, karangan Ibnu Al Atsir juz 1. h. 80)

Ibnu Al Manzhur juga memiliki pendapat yang bagus mengenai definisi bid’ah secara istilah syar’i, menurutnya:

Bid’ah itu ada dua macam, bid’ah berpetunjuk (huda) dan bid’ah yang sesat (dhalal). Jika perkara itu bertolak belakang dengan perintah Allah dan Rasul-Nya maka itu termasuk tercela dan dikecam. Adapun jika perkaranya termasuk atau sesuai dengan apa yang dianjurkan Allah dan Rasul-Nya maka itu termasuk perkara terpuji. Adapun perkara yang tidak ada contohnya di zaman nabi SAW seperti macam-macam jenis kebaikan dan kedermawanan serta perbuatan baik lainnya maka itu termasuk perbuatan yang terpuji (seperti bersedekah dengan pulsa, voucher, mengucapkan selamat via email dan SMS atau MMS, mengaji via telepon, dan lain sebagainya–Red).”

Perkara baru ini tidak boleh bertentangan dengan dasar-dasar syariat, karena Nabi SAW telah menilai perbuatan ini (yang sesuai dengan dasar-dasar syari’at) berhak mendapatkan pahala: beliau bersabda,

“Siapa yang memulai perbuatan baik maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya.”

Pada perbuatan kebalikannya beliau bersabda pula,

“Siapa yang memulai suatu kebiasaan buruk, maka dia mendapatkan dosanya, dan dosa orang yang mengamalkannya.”

Hal itu terjadi jika perbuatannya bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Begitupula dengan yang dikatakan Umar,

“Ini (shalat Tarawih berjama’ah) bid’ah yang baik”.

Jika perbuatan itu termasuk katagori kebaikan dan terpuji maka dinamakannya dengan bid’ah yang baik dan terpuji, karena Nabi SAW tidak menyunahkan shalat Tarawih secara berjamaah kepada mereka, Rasulullah hanya melakukannya beberapa hari lalu meninggalkannya dan tidak lagi mengumpulkan jamaah untuk melakukan shalat Tarawih.

Praktik shalat Tarawih berjamaah ini juga tidak dilakukan pada masa Abu Bakar. Namun hal itu dipraktikkan di masa Umar bin Al Khaththab, beliau menganjurkannya serta membiasakannya, sehingga Umar menamakannya dengan bid’ah pula, namun pada hakikatnya praktik tersebut adalah sunah, berdasarkan sabda Nabi SAW,

“Ikutilah Sunnahku, dan sunah khulafa rasyidun setelahku.”

Juga sabda beliau lainnya,

“Ikuti orang-orang setelahku, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali …”

Adapun hadits nabi SAW,

“Setiap perkara baru adalah bid’ah”

Dipahami jika perkara itu bertolak belakang dengan dasar-dasar syariat dan tidak sesuai dengan Sunnah. (lihat Lisan Al ‘Arab juz 8. h. 6)

Sikap Para Ulama terhadap Definisi Bid’ah

Jumhur ulama (mayoritas ulama) berpendapat bahwa bid’ah terbagi beberapa macam, hal ini nampak pada pendapat imam Syafi’i dan para pengikutnya seperti, Al Izzu bin Abdussalam, An-Nawawi dan Abu Syamah. Dari Madzhab Maliki seperti, Al Qarafi dan Az-Zarqani. Dari Madzhab Hanafi, seperti Ibnu Abidin. Dari Madzhab Hambali, seperti Ibnu Al Jauzi. Dari madzhab Zhahiriyah, seperti Ibnu Hazm.

Semua ini tercermin dalam definisi yang diberikan Al Izz bin Abdussalam mengenai bid’ah, yaitu perbuatan atau amal yang tidak pernah ada di zaman Nabi SAW, dan hal ini tebagi pada bid’ah wajib, sunah, haram, makruh dan mubah.

Para ulama ini memberikan contoh-contoh mengenai pembagian bid’ah ini:

Bid’ah wajib
Seperti mempelajari ilmu nahwu dan sharaf (gramatika bahasa Arab) yang dengannya dapat memahami kalam Ilahi dan sabda Rasulullah. Ini termasuk bid’ah wajib, karena ilmu ini berfungsi untuk menjaga kemurnian syariat, sebagaimana dijelaskan dalam kaidah fikih,

‎‫مَا لاَيَتِمُّ الوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ‬

“Sesuatu yang tanpanya kewajiban tidak akan berjalan sempurna maka sesuatu itu pun menjadi wajib hukumnya.”

Bid’ah haram
Seperti pemikiran sekte Al Qadariyah, sekte Al Jabariyah, sekte Al Murji’ah dan sekte Al Khawarij, paham bahwa Al Qur’an adalah produk budaya, dan paham bahwa zamantini masih jahiliyah sehingga hukum-hukum Islam belum bisa diterapkan, dan lain sebagainya.

Bid’ah sunah
Seperti merenovasi sekolah, membangun jembatan, shalat tarawih secara bejamaah dengan satu imam, dan adzan dua kali pada shalat Jum’at.

Bid’ah makruh
Seperti menghiasi atau memperindah Masjid dan Kitab Al Qur’an.

Bid’ah mubah
Seperti, bersalaman usai shalat jamaah, tahlil, memperingati Maulid Nabi SAW, berdoa dan membaca Al Qur’an di kuburan, dzikir secara berjamaah dengan dipimpin imam usai shalat, dzikir dengan suara keras secara berjamaah, dan keanekaragaman bentuk pakaian dan makanan.

Mengenai bid’ah mubah ini diperlukan sikap toleransi yang tinggi di kalangan umat Islam untuk menjaga persatuan dan persaudaraan yang hukumnya wajib, artinya siapa saja boleh melakukan dan meninggalkannya, jangan sampai ada pemaksaan sedikitpun dalam melakukannya apalagi saling merasa benar atau menyalahkan kelompok lainnya.

Adapun dalil yang menjadi dasar pembagian bid’ah ini menjadi lima adalah:

Perkataan Umar tentang shalat tarawih berjamaah di masjid pada bulan Ramadhan dengan mengatakan, 

نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ

Ini sebaik-baik bid’ah. 

Diriwayatkan dari Abdurrahaman bin Abdul Qari, dia berkata:
Aku keluar rumah bersama Umar bin Khaththab pada malam bulan Ramadhan menuju masjid. Kami menyaksikan orang-orang terbagi-bagi, masing masing melakukan shalat sendirian. Kemudian Umar berkata,

“Aku berpandangan andai saja aku bisa mengumpulkan mereka pada satu imam maka ini lebih baik dan ideal.”

Beliaupun bertekad mengumpulkan mereka dengan imamnya Ubai bin Ka’ab. Kemudian aku keluar ke masjid pada hari berikutnya bersama beliau, kamipun melihat orang-orang sedang shalat dibelakang satu imam. Umar lalu berkata,

نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ

Inilah sebaik-baik bid’ah.

Adapun melakukannya di akhir malam maka itu lebih afdhal daripada melakukannya di awal malam. (HR. Bukhari)

Abdullah bin Umar menilai shalat Dhuha yang dilakukan secara berjamaah di masjid adalah bid’ah, padahal itu merupakan perkara baik.

Diriwayatkan dari Mujahid, dia berkata:
Aku dan Urwah bin Zubair masuk masjid, ternyata ada Abdullah bin Umar sedang duduk di samping serambi rumah Aisyah, lalu ada sekelompok orang melakukan shalat Dhuha secara berjamaah. Kamipun menanyakan hukum shalat mereka ini kepadanya, diapun menjawab,

“Bid’ah”. 
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits-hadits yang menunjukkan pembagian bid’ah menjadi bid’ah baik dan buruk diantaranya adalah yang diriwayatkan secara marfu’ (shahih dan sampai pada nabi SAW):

“Siapa yang memulai suatu perbuatan baik maka ia akan mendapatkan pahalanya, dan pahala dari orang yang mengikutinya sampai hari kiamat. Siapa yang memulai suatu perbuatan buruk maka ia akan mendapatkan dosanya dan dosa dari orang yang mengikutinya sampai hari kiamat.” (HR. Muslim)

Dari apa yang disampaikan dapat kita simpulkan bahwa mengenai bid’ah ini ada dua pandangan para ulama:

Seperti yang dikemukan oleh Ibnu Rajab Al Hambali dan selainnya, bahwa semua perbuatan yang diberi pahala dan disyariatkan melakukannya tidak dinamakan bid’ah, sekalipun hal itu pantas dinamakan bid’ah dari segi bahasa, yaitu perbuatan baru yang belum pernah ada yang melakukannya, akan tetapi penamaan bid’ah terhadap perbuatan ini tidak dimaksudkan sebagai bid’ah yang tercela apalagi sesat.Pandangan perincian macam-macam bid’ah seperti yang dikemukakan oleh Al Izz bin Abdissalam sebagaimana yang telah kami paparkan sebelumnya.

Sementara sikap kita sebagai muslim terhadap masalah yang cukup penting ini yang mempengaruhi pemikiran Islam, masalah-masalah fikih, juga pandangan atau sikap kita terhadap saudara-saudara semuslim kita lainnya, sehingga janganlah dengan mudah kita mengklaim mereka yang melakukan bid’ah hasanah (yang baik) itu sebagai pelaku bid’ah yang sesat dan fasiq (wal ‘iyadzu billah/kita memohon perlindungan kepada Allah dari hal itu), hal ini terjadi karena ketidaktahuan dengan prinsip-prinsip atau kaidah-kaidah yang telah jelas tersebut, sehingga masalah inipun menjadi samar dan aneh di kalangan umat Islam. 

Wallahu a’lam


Sebuah renungan Emha Ainun Najib atas negeri penggalan surga ini

Fantastic HQ Wallpapers #3 (1)

“Bisakah luka yang teramat dalam ini akan sembuh…
Bisakah kekecewaan, bahkan keputusasaan yang mengiris-iris hati berpuluh-puluh juta saudara kita ini pada akhirnya nanti akan kikis….
Adakah kemungkinan kita akan bisa merangkak naik ke bumi, dari jurang yang teramat curam dan dalam…
Akankah api akan berkobar-kobar lagi…
Apakah asap akan membumbung lagi dan memenuhi angkasa tanah air…
Akankah kita akan bertabrakan lagi satu sama lain…
Jarah menjarah satu sama lain dengan pengorbanan yang tidak akan terkirakan…
Adakah kemungkinan kita tahu apa yang sebenarnya kita jalani…
Bersediakan sebenarnya kita tahu persis apa yang kita cari…
Cakrawala manakah yang menjadi tujuan sebenarnya dari langkah-langkah kita…
Pernahkah kita bertanya bagaimanakah cara melangkah yang benar…
Pernahkah kita mencoba menyesali hal-hal yang perlu kita sesali dari perilaku-perilaku kita kemarin…
Bisakah kita menumbuhkan kerendahan hati dibalik kebanggaan-kebanggaan…
Masih tersediakah ruang di dada kita dan di akal kepala kita..
Untuk sesekali berkata pada diri sendiri, bahwa yang bersalah Bukan hanya mereka, bahwa yang melakukan dosa Bukan hanya mereka… tapi juga Kita…”

Lir-ilir
Lir-ilir
Tandure wus sumilir
Tak ijo royo royo
Tak sengguh temanten anyar
Bocah angon, bocah angon
Penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno
Kanggo masuh dodot iro

Dodot iro, dodot iro
Kumitir bedah ing pinggir
Dondomono, jlumatono, kanggo sebo mengko sore

Mumpung padhang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Yoo surak oo.. surak hiyoo

“.. Terserah apa tafsirmu tentang blimbing bergigir lima..
Tapi selicin apapun pohon itu harus didaki, bukan dengan ditebang… supaya kita dapat mengambil air sari blimbing untuk mencuci Dodot (pakaian nasional) kita yang sedang bedah ing pinggir (rusak)…
Dan yang memanjat pohon itu harus “Bocah Angon”. Tentu saja boleh ia seorang doktor… boleh seorang seniman.. boleh seorang kyai.. jendral atau siapapun saja yang memiliki daya angon.. kesanggupan untuk menggembala.. Karakter yang mampu merangkul dan memesrai semua fihak.. determinasi yang menciptakan garis resultan kedamaian bersama.. Pemancar kasih sayang yang dibutuhkan dan diterima oleh semua warna, semua golongan, semua kecenderungan..
Bocah angon adalah seorang pemimpin nasional, bukan tokoh atau pemuka suatu gerombolan…”

Ilir-ilir, kita sudah nglilir, kita sudah bangun, sudah bangkit, bahkan kaki kita sudah berlari kesana kemari, namun akal pikiran kita belum, hati nurani kita belum…
Kita masih merupakan anak-anak dari Orde yang kita kutuk di mulut… namun kita biarkan ajaran-ajarannya terus hidup subur di dalam aliran darah dan jiwa kita…
Kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik…
Kita mencaci maling dengan penuh kedengkian kenapa bukan kita yang maling…
Kita mencaci penguasa lalim dengan berjuang keras untuk bisa menggantikannya..
Kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara setan… yakni melarangnya insaf dan bertobat..
Kita memperjuangkan gerakan anti penggusuran dengan cara menggusur..
Kita menolak pemusnahan dengan cara merancang pemusnahan…
Kita menghujat para penindas dengan riang gembira sebagaimana Iblis…
Yakni kita halangi usahanya untuk memperbaiki diri..
Siapakah selain Setan, Iblis dan Dajjal yang menolak khusnul khotimah manusia… Yang memblokade pintu surga… Yang menyorong mereka mendekati pintu neraka?……”

“Sesudah ditindas, kita menyiapkan diri untuk menindas..
Setelah diperbudak, kita siaga untuk memperbudak..
Sesudah dihancurkan, kita susun barisan untuk menghancurkan..
Yang kita bangkitkan bukan pembaruan kebersamaan, melainkan asyiknya perpecahan..
Yang kita bangun bukan nikmatnya kemesraan, tapi mengelaknya kecurigaan..
Yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan, melainkan prasangka dan fitnah…
Yang kita perbaharui bukan penyembuhan luka, melainkan rancangan-rancangan panjang untuk menyelenggarakan perang…”

(Emha Ainun Najib : Menyorong Rembulan)

KENAPA SAYA MUSLIM?

Posted: 20 Juni 2015 in Uncategorized

(Sebuah Renungan diri diawal Ramadhan)

jalan

Sebuah pertanyaan yang cukup fundamental tapi sangat perlu anda tanyakan dalam hati anda, wahai saudaraku, pernahkan kita bertanya pada diri kita sendiri…
Kenapa Saya Muslim? Atau kenapa saya memilih agama saya sekarang?
Sebuah pertanyaan yang harus kita gali terus menerus. Sebuah pertanyaan yang akan mengantarkan kita pada hakikat mendasar kenapa kita ini ada, dan akan kemana kita.
Pertanyaan mendasar ini biasanya akan disertai dengan pertanyaan-pertanyaan lanjutan seperti:
– Benarkah agama yang telah saya anut sekarang?
– Apa bukti kebenarannya?
– Saya beragama hanya karena indoktrinasi keluarga ataukan memang hidayah yang telah saya dapatkan?
– Apa keunggulan agama saya dibanding agama lain?

Pertanyaan semacam ini seharusnya menjadi pertanyaan serius dalam hidup kita, karena kita memang berbeda dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Tanpa agama kita tak ubahnya dengan ayam, atau sapi atau makhluk lain yang hidup hanya berdasarkan insting. Namun tidak banyak diantara kita yang punya Nyali untuk menjawab pertanyaan diatas.
Bandingkan dengan Nabi Ibrahim alaihimas salam yang meskipun dilahirkan dari ayah yang percaya bahwa Patung buatannya adalah Tuhan, namun beliau tak hentinya berusaha mencari siapa Tuhan Hakiki dalam kehidupan ini.
Pencarian Tuhan yang dilakukan Nabi Ibrahim AS tidak hanya bersandarkan oleh ilham, mimpi maupun perasaan, namun benar-benar didasarkan pada Rasionalitas akal manusia yang memang diberikan Tuhan untuk dapat mendeteksi kekuasaan dan kehebatan sang Pencipta dalam pencarian kebenaran. Pencarian terhadap kebenaran hanya akan ditemukan pada orang-orang yang kritis dan logis
Lalu apakah sebagai umat Muslim yang menjadi Islam sejak lahir kita masih diperintahkan untuk mencari kebenaran?
Jawabannya Ya, dengan terus menerus mencari dan memikirkan jalan kebenaran maka kita sebagai manusia akan meningkat derajatnya dibanding makluk lain.
Sebuah peringatan keras dari Alloh SWT terhadap orang-orang yang hanya meng-ekor tanpa menggunakan anugrah Tuhan dalam mencari kebenaran.
“Telah Kami penuhi isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, yaitu mereka yang mempunyai hati tapi tak pernah digunakan untuk memikirkan ayat-ayat Allah dan mereka mempunyai mata tak digunakan untuk memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah dan mereka mempunyai telinga tak digunakan untuk mendengarkan firman-firman Allah, Mereka seperti binatang bahkan lebih rendah dari itu, mereka itulah orang-orang yang lalai” (Surat Al-A’raf 179)
Seringkali kita sudah merasa cukup dengan pengetahuan agama yang telah kita miliki, begitu kita ditanya alasan kenapa memilih agama tertentu jawaban kita sangat Klise banget.. “ya karena ini agama yang paling benar pak”… “O ya? Darimana anda tahu ini agama yang paling benar?”…. “Kan di kitab saya dan pemuka agama saya menyatakan seperti itu..”.. “O ya… lha agama lain juga berpendapat sama dengan anda.. padahal beda loh dari konsep segi ketuhanan nya saja sdh beda, apakah anda sdh pernah mencoba membandingkan secara rasional dan ilmuah antara ajaran satu dengan lainnya?”…. “ Belum… kok agama lain pak, lhawong Kitab suci saya saja belum pernah saya baca sampai tamat,” …. hehe… kalo sudah begini bagaimana bisa dikatakan kalo agama yang telah kita peluk bisa bener-bener yakin merasuk dalam jiwa..
Kalau sudah seperti ini rasanya tidak layak kita terlalu berbangga jika ada orang yang masuk bergabung dalam agama kita hanya berdasarkan Perasaan, Ilham, Insting tanpa pernah berproses seperti Ibrahim as (meskipun harus tetap disyukuri karena Hidayah Alloh bisa datang kapanpun dan dengan cara apapun) dan kita juga tidak layak terlalu bersedih jika ada ummat yang memutuskan keluar dari agama kita dengan dasar yang sama.
Namun ketika siapapun sudah mengalami Proses pencarian seperti Ibrahim AS, maka apapun keputusan yang dia ambil, disanalah kita layak mengucapkan : Lakum Diinukum wa liyadiini (bagimu agamamu dan bagiku Agamaku)..
KEELOKAN KEBENARAN AKAN MEMUDAR JIKA TIDAK PERNAH MENCOBA MEMBANDINGKAN
Lantas apa yang bisa kita lakukan jika ingin menguji apakah yang telah kita Yakini memang sebuah jalan kebenaran?
Akal adalah anugrah besar dari Tuhan yang diciptakan tidak hanya untuk menambah warna kehidupan ini, tapi juga sebagai modal besar dalam mencari kebenaran seperti yang dilakukan Ibrahim A.S. Logika Ilmiah, salah satu cara sederhana yang bisa mempertebal iman dan bisa juga dijadikan cara dalam mencari kebenaran. Contohnya:
– Agama berfungsi untuk mengatur Ummatnya menuju kehidupan yang terbaik, lalu Apakah Agama saya benar-benar komplit dalam membimbing umatnya menuju kehidupan yang terbaik?
– Jika memang iya, apakah konsep ini terkandung secara jelas pada Aturan Tuhan (Kitabnya)? Apakah setiap detail aturan itu bisa ditelusur dasar hukumnya yang bisa kita dapatkan dari Kitab atau Petunjuk tehnis utusan Tuhan sebagaimana kita dalam bernegara selalu mendasarkan sesuatu pada Undang-undang?
– Jika Iya, Apakah Kitab yang diberikan oleh Tuhan ini memang masih otentik?, bisa dijamin keasliannya, secara logika jika agama nya sama maka perintah Tuhan (KitabNya) juga akan sama, apakah demikian? Apa bukti Kitab Tuhan yang kita pegang ini memang benar-benar Asli? Pernahkah kita mencoba membandingkan Kitab di Agama kita dari masa lalu sampai sekarang? Apakah masih sama?
– Jika Iya, maka kita bisa mulai sekedar mempelajarinya. Apa konsep dalam Kitab tersebut? Tentang ketuhanan, Cara Ibadah, Hubungan antar Manusia dengan manusia, kesesuaian dan kemampuan ajaran dalam kitab tersebut dalam memecahkan masalah di segala zaman. Bisakah kita mengujinya dengan akal kita termasuk dengan kemajuan zaman saat ini?
– Konsep ketuhanan bisakah kita mendapatkan konsep ketuhanan secara jelas? Misal dengan jelas disebutkan “Sembahlah Aku” dalam kitabnya. Adakah Konsep yang ditawarkan tentang kehidupan setelah kematian? Apakah kita bisa mengujinya dengan logika kita?
Sampai disini sekiranya kita pasti sudah punya gambaran apakah jalan yang kita cari memang sudah benar, jika sudah benar maka saya yakin kualitas keagamaan kita akan bertambah, namun jika ternyata jalan yang kita tempuh selama ini berlawanan dengan apa yang kita dapat dari proses diatas, Disini semua akan dikembalikan pada kejujuran kita dan kesungguhan kita dalam berproses, apakah akan mengubah pendirian kita ataukah akan tetap kekeuh pada keyakinan lama. Ingat 1+1 jawabannya hanya 2 jika memang orang tersebut mengakui bahwa 2 itu jawaban yang benar, namun dalam kehidupan nyata tidak sedikit mereka yang tahu 1+1 = 2 namun karena ketidak jujuran tetap bersikukuh jika 1+1=3.
Terakhir, setelah proses mencari kebenaran dan terbukanya hati pada kebenaran tersebut masih ada yang perlu diingat bahwa keimanan itu bersifat dinamis, bisa bertambah dan berkurang. Hanya keyakinan dan doa kita pada Tuhan yang akan menjadi penjamin kita untuk terus dapat memelihara Keimanan tersebut melekat di dada kita.
Wallohu A’lam

1


cemas 2

Ketika anda terkena suatu musibah atau sedang menghadapi suatu masalah yang membuat anda khawatir, apa yang akan anda lakukan? Apakah anda akan membiarkan rasa khawatir anda melemahkan anda ataukah anda mampu merubah kekhawatiran tersebut menjadi sebuah kekuatan? Willis C. Carrier mengatakan bahwa sesungguhnya pengaruh rasa cemas yang paling buruk itu adalah hancurnya kemampuan kita untuk berakal sehat. Apabila kita merasa cemas, pikiran kita melayang ke sana ke mari, berlompatan tak menentu dan kita kehilangan kemampuan untuk membuat keputusan. Bagaimanapun juga kalau kita berani memaksakan diri untuk menghadapi akibat yang paling buruk dan secara mental kita sanggup memikulnya, kita akan dapat memperkecil bayangan fikiran yang simpang siur dan menempatkan diri kita pada suatu posisi dimana kita dapat berkonsentrasi menghadapi persoalan tersebut.

Supaya suatu kekhawatiran bisa berubah menjadi kekuatan maka anda bisa mencoba hal berikut:
1. Tanyakan pada diri anda sendiri, akibat paling buruk apa yang mungkin akan menimpa anda.
2. Bersiaplah untuk menerima kemungkinan terburuk itu jika hal tersebut benar-benar terjadi.
3. Kemudian bertindaklah dengan tenang untuk memperbaiki kondisi terburuk tersebut.
Kadang orang menantikan hasil suatu perkara yang menakutkan, sehingga ia dicekam oleh perasaan cemas yang sangat , seakan-akan itu kematian atau bahkan lebih dahsyat daripada kematian itu sendiri. Mungkin kehilangan selera makannya, dan tidak bersisa sedikitpun senyuman di bibir. Orang yang takut miskin sebenarnya sudah berada dalam kemiskinan, dan orang yang takut hina sudah berada dalam kehinaan.

Dale Cernegie mengatakan:”Siapkanlah diri anda untuk menerima setiap kenyataan. Sebab menerima dengan ikhlas apa yang terjadi adalah langkah pertama untuk mengatasi setiap kemalangan”. Sedangkan Lin Yu Tang, seorang filosof China mengatakan : ”kedamaian jiwa yang sejati datang dari keikhlasan menerima akibat yang terburuk”.
Namun kita lihat, jutaan manusia telah menghancurkan hidupnya didalam kemarahan. Kemarahan yang tak terkendali. Karena mereka tidak mau menerima kenyataan yang terjadi dan tidak mau menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan.
Menyesali kegagalan-kegagalan masa lalu dan menangisi rasa sakit dan kesalahan itu merupakan sebuah fenomena kufur pada Alloh dan tidak meyakini kekuasaanNya.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang: “kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh”. Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Alloh menimbulkan rasa penyesalan yang sangat dalam hati mereka. Alloh menghidupkan dan mematikan. Dan Alloh melihat apa yang kamu kerjakan (Ali Imran: 56).

Dalam menghadapi permasalahan yang datang, ada tiga langkah yang harus dilakukan supaya tidak terjebah dalam kecemasan yang tak terkendali.
1. Temukan faktanya
Kita diharuskan berfikir dengan tenang terhadap apa yang kita hadapi dan bagaimana kita akan menempatkan diri sesuai aturan. Langkah ini akan menjadi sulit ketika kita telah terbutakan oleh suatu kecintaan atau malah suatu kebencian terhadap masalah itu. Keterlibatan emosi akan menjadikan seseorang tidak mampu memandang masalah secara obyektif. Terkadang orang menjadi tersesat jalan dikarenakan terikat oleh tradisi atau hal-hal lain yang sebenarnya tidak ada dasarnya. Itulah kenapa Al Qur’an kebanyakan mengakhiri ayat dengan kalimat: “Apakah kalian tidak memikirkan?” “Apakah kalian tidak berakal”.
2. Analisa fakta tersebut
Setelah fakta masalah bisa kita kumpulkan secara obyektif maka langkah selanjutnya adalah dengan menganalisa masalah tersebut dengan jernih dan tenang. Analisa kemungkinan apa yang bisa terjadi. Terkadang seseorang mendapati dirinya berada dalam posisi dimana mendapatkan sesuatu yang paling manispun masih akan terasa pahit. Analisa masalah dengan jernih dan tenang akan mempuat kita tahu seberapa dalam masalah yang kita hadapi tanpa rasa bingung dan takut. Pemimpin-pemimpin besar sering mengalami dan mampu menyelesaikan situasi-situasi yang sulit. Mungkin pembaca pernah membaca kisah betapa hebatnya analisis situasi saat Nabi menghadapi perang Khandaq, atau betapa cerdiknya Khalid bin walid mengubah keterjepitan pasukan muslim dalam perang Mu’tah menjadi kesuksesan besar. Atau kisah Thariq bin Ziad yang heroik ketika menyeberang ke tanah spanyol. Atau mungkin cerita lokal dimana dengan ketenangannya Raden Wijaya sang pangeran yang tergusur bisa mempedayai tentara Kubilai Khan yang saat itu tak pernah kalah.
3. Ambil keputusan dan bertindak berdasarkan keputusan tersebut.
Langkah terakhir ini harus dilakukan secara mantap, kuat dan konsisten. Banyak orang cerdas yang tahu dengan jelas apa yang ia hadapi dan bagaimana cara menghadapi masalah namun mereka menemui kegagalan disebabkan mereka tidak memiliki kemauan kuat untuk bertindak dan maju sehingga mereka tetap berada pada kesedihan dan dibayangi rasa bingung dan ruwet.

WaitePhillips

Waite Phillips

Waite Phillips, seorang pengusaha minyak terkenal mengatakan ketika ditanya bagaimana ia mengambil suatu keputusan maka ia menjawab: Saya melihat bahwa terus menerus memikirkan persoalan kita pada suatu titik tertentu cenderung untuk menciptakan kebingungan dan kecemasan. Adakalanya pemikiran dan penelitian yang berlebihan akan membawa ke arah bencana. Apabila saya sudah mengambil keputusan, maka saya segera bertindak tanpa menoleh ke belakang sama sekali”.

Leon Shimkin, seorang pengusaha, mempunyai formula pemecahan masalah buat para karyawannya ketika mendapatkan sebuah masalah yang perlu dipecahkan. ada 4 hal yang perlu ditanyakan ketika menghadapi suatu masalah

1. Apakah persoalannya?

2. Apakah penyebab persoalan tersebut?

3. Kemungkinan-kemungkinan apakah yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan itu?

Mana dari kemungkinan itu yang paling baik digunakan?

dengan formula diatas maka jarang sekali karyawan Leon datang kepadanya dengan membawa masalah, karena mereka sudah bisa memecahkannya sendiri.

 

Sumber: Mengubah takdir mengubah nasib oleh DR. Muhammad al Ghazali (dosen universitas al Azhar Mesir)