Reaksi Alergi Obat, Perlukah Pasien Tahu??

Posted: 5 Februari 2009 in Kesehatan
Tag:, ,

Dua hari yang lalu, disalah satu TV swasta diberitakan seorang wanita berinisial R, seorang lulusan sarjana Farmasi, mengalami kelainan atau lebih tepatnya reaksi setelah mendapatkan injeksi suatu obat.
Tahun lalu, ada seorang anak yang sudah diperbolehkan pulang tiba-tiba langsung meninggal saat mendapatkan injeksi obat pembekuan darah.
Ada lagi, anda tentu masih ingat seorang anak yang menjadi lumpuh sEtelah mendapatkan imunisasi Polio.
Biasanya pihak keluarga pasien segera berasumsi bahwa telah terjadi Malpraktik yang dilakukan oleh tenaga kesehatan tersebut dan segera menyewa pengacara untuk menuntut petugas kesehatan itu. Namun kita sebagai orang awam pasti bertanya kenapa biasanya masalah seperti ini akhirnya tidak sampai berlanjut ke meja hijau.
Dari pengamatan saya ternyata masalah seperti ini sangat komplek. Masyarakat, Media, bahkan para praktisi hukum sendiri sering rancu dalam menyebut masalah seperti ini sebagai Malpraktik.
Kasus-kasus diatas merupakan kasus yang berbeda dengan Malpraktik. Malpraktik murni merupakan pelanggaran akibat tidak dipenuhinya prosedur tindakan medis (Protap)secara benar. sedang kasus diatas lebih tepat jika disebut sebagai Risiko medis. Walaupun Prosedur sudah dilakukan tidak berarti bahwa Risiko medis ini tidak akan terjadi. Nah, jika yang terjadi adalah Risiko medis sedang Protap tidak ada kesalahan maka petugas kesehatan tidak bisa disalahkan.
Sebenarnya semua tindakan medis ada risikonya. Namun ini yang kadang kurang difahami oleh masyarakat. Bahkan banyak jUga para petugas medis yang kadang kurang peduli untuk menjelaskan Risiko atau Efek samping dari tindakan medis tersebut. Disamping itu tradisi yang dikembangkan para tenaga kesehatan di masa lalu salah satunya berupa :”Setiap pasien harus disuntik biar merasa diobati”. celakanya masyarakat Ho’oh aja dan malah merasa nggak akan sembuh sebelum disuntik. Padahal dari logo Farmasi aja kita tahu bahwa Obat itu kadang bisa menjadi gelas(menyembuhkan)kada bisa menjadi Ular (racun). dan obat injeksi /suntikan punya efek yang jauh lebih cepat daripada obat oral/minum.
Imunisasi pun seperti itu, tidak ada yang 100% aman. Dari data epidemiologinya d didapati dari sekian ribu pasti ada beberapa yang terkena reaksi sampingannya. Nah pertanyaannya, Haruskah Kita mempublikasikan Efek samping Obat ini secara terbuka?? Saya setuju jika untuk pengobatan ya sifatnya individual harus ada penjelasan detail tentang efek itu, tapi bagaimana jika yang bersifat untuk kepentingan eradikasi / pemberantasan suatu penyakit dengan immunisasi seperti Polio?? Jangan-jangan jika dijelaskan secara terus terang ngga’ ada yang mau diimunisasi?? Nah lho…

Komentar
  1. konsultasi kesehatan mengatakan:

    komunikasi 2 arah saya rasa perlu sekali…..salam kenal n sukses selalu

  2. anna mengatakan:

    Memang setiap tindakan medis itu ada resikonya. Dan resiko terkecil yang harus diambil. Segala informasi tentang yang akan dilakukan dan yang kemungkinan terjadi menurut saya diberitahukan kepada pasien atau keluarga pasien. Karena informasi ini hak mereka. Gitu menurut saya.
    Btw, judulnya alergi kok pembahasannya efek samping yach?? Beda lhoo..🙂

  3. azzakky mengatakan:

    @KONSULTASIKESEHATAN
    Terimakasih sarannya.. salam kenal juga. semoga tidak berkeberatan buat bertukar pengalaman..

    @anna
    Betul juga kata anda, Hak pasien untuk mendapatkan info sejelas-jelasnya. Masalahnya dikhawatirkan dengan pemberitaan-pemberitaan yang berlebihan tentang malpraktik akibat adanya reaksi alergi terhadap obat akan menjadikan masyarakat awam takut berobat. Bisa jadi mereka akan lebih memilih pengobatan ala Ponari. hehe
    Untuk judul di atas maksud saya adalah Alergi Obat, yang merupakan salah satu efek samping suatu obat, jadi bukan membahas tentang alergi makanan atau debu. begituu..
    Makasiy komen nya yup

  4. Deni Triwardana mengatakan:

    Ya memang perlu mas !

  5. RATHNOE mengatakan:

    yaaah begitulah mas menghadai masyarakat dari berbagai kalangan dan latar belakang yang komlek memang sangat sulit… dijalaskan dengan detail mereka takut… ndak dijelaskan katanya malraktek…..

    itulah kalau jadi petugas kesehatan dengan berbagai resiko mulai dari penyakitnya sendiri mpi dgn hukum….
    yang penting kita ikhlas aja semua pasti ada jalan… oke, oiya lam kenal ya dah komen kok blm kenal…
    maaf lho nggak nggurui.. keeech

  6. Dr Ali Senjaya mengatakan:

    sudah ada alternatif tes alergi obat dengan metode biofisika
    asalkan dokter terbuka dan mau belajar maka
    kejadian seperti ini tidak akan terulang kembali
    infromasi lebih detil di http://www.bio-e.net
    semoga ilmu ini dapat bermanfaat bagi sejawat

  7. azzakky mengatakan:

    @ dr Ali Sanjaya
    terima kasih infonya. insya Allah manfaat kok🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s