Ponari… Ooohh

Posted: 13 Februari 2009 in Sosiokultural
Tag:, , ,

Huuuh sedih, kita semua tau di negara kita banyak yang masih miskin… Tp ternyata masyarakat kita ngga’ cuma miskin harta tp mental masyarakat kita juga ikut miskin. entah apa karena dulu sewaktu masih balita masyarakat kita ini memang kurang giza ataupun gizi buruk sehingga pembentukan neuron-neuron di otaknya ngga’ sempurna yang pada akhirnya setelah dewasa jadi ngga’ pernah bisa mikir hal seperti ini, waras iya tapi lumayan gila juga..
mau buktii.. liat tuh pasien ponari. Sakit tuh mental mereka, sampai air bocoran pompa air dirumah ponari juga dikeramatkan sebagai obat..
Sediiiihh
Mungkin karena mereka ngga’ mampu berobat zak?..
Masak iyaa.. Sekarang kurang apa, pemerintah sdh punya program Jamkesmas buat Masyarakat miskin.. Ya kalau menurutku memang masyarakat kita ini yang sakit ngga’ cuma badannya tapi mentalnya. Masyarakat kita banyak dicekoki mimpi-mimpi instan..
Pengennyya ngga’ usah kerja tapi bisa kaya.. ngga’ usah sekolah tapi bisa pinter.. ngga’ usah repot ngaji tapi bisa jadi kyai atau kalau perlu bisa jadi Tuhan (meski gadungan).. tidak usah minum obat tapi bisa langsung sembuh seperti kasus pasien Ponari..
Lalu siapa yang salah Zak??..
Ya semuanya salah.. Pemerintah yang masabodo terhadap pembangunan karakter mental masyarakatnya, Para cendikiawan yang egois asyik masyuk dengan kepandaiannya sendiri, para ulama yang sibuk ngajar santri pondoknya tapi mengabaikan amanah dakwah ke masyarakat awam, Tenaga kesehatan yang suka setengah hati dalam melayani pasien Miskin/ Jamkesmas. Juga pengusaha yang pelit tak mau membayar zakat buat pengentasan Kemiskinan.. Serta kita yang cuma bisa rasan-rasan dan menertawakan tentang kebodohan (lebih tepatnya: ketidaktahuan) Masyarakat seperti pasien-pasien Ponari..
Disisi lain, masyarakat sendiri juga salah karena semangat belajar yang rendah. Pinter ngga’ begitu perlu, yang penting bisa kaya…
Kapan ya masyarakat kita bisa sehat kembali. ngga’ cuma badannya tapi juga mentalnya, Mungkin kita perlu program Jamkemmas (Jaminan Kesehatan Mental Masyarakat), repotnya ngga’ ada yang bisa menjamin mental seseorang buat menjadi lebih baik kecuali yang bersangkutan memang mau dan berusaha memperbaikinya.
Wallohu a’lam

Komentar
  1. ima mengatakan:

    Salam..;)

    Aku suka gaya nulisnya..apa adanya. tapi kl boleh sekedar berkomentar (maaf sebelumnya, kalau aku salah atas ketidak tahuan ku atau kesalah pahaman menginterpretasikan tulisan ini ^^)

    “Bukan hanya komentar yang terkadang dibutuhkan untuk suatu perubahan, tp suatu tindakan real walau itu hanya sebatas sebuah ‘senyum’ untuk mereka”

    mungkin bener yang dikatakan di blog ini, tapi ada satu yang miss (mungkin ^^), ketulusan, perhatian dan kasih sayang untuk melakukan perubahan, itu yg ‘orang yang cerdas’ lupakan ^^

    Perubahan besar tidak dapat dilakukan, tanpa sebuah perubahan kecil, kita mengumpat masyarakat bawah, tanpa kita pernah mau tau dan terjun langsung ke kehidupan mereka, terkadang kesalahan ‘penilaian’ terjadi, karena kita menilai dari sudut pandang kita, tidak mencoba dari sudut pandang yang lain..

  2. azzakky mengatakan:

    @ Ima
    Terima kasih atas masukannya. memang yang dibutuhkan sekarang bukan sekedar omong doang, yang dibutuhkan sekarang adalah suatu langkah nyata. Sengaja penulis disini menyampaikan tilisan ini bukan cuma bermaksud untuk mengomentari realita yang ada, tapi tujuan utama penulis adalah untuk menggugah kesadaran dari pembaca untuk memulai perubahan dari lingkungan terdekat kita, sedikit nggak masalah tapi ada usaha ke arah sana. Bagi yang duduk di pemerintahan penulis harapkan setelah membaca ini bisa semakin mengerti bahwa Pembangunan Fisik negara sebenarnya harus diikuti pembangunan karakter mental masyarakat, Bagi sosok Ulama Kyai yang kebetulan membaca tulisan ini diharapkan akan lebih menyadari amanah yang diembannya sebagai Guru Ummat, Penulis harapkan supaya pengertian tentang Guru Ummat ini tidak hanya sebatas mengajar Santri yang mondok saja tapi juga memberi pelajaran Bil Hal (secara nyata) terhadap masyarakat sekitar yang tidak mau mondok. Demikian pula akademisi, Pekerja Medis dan lain sebagainya bisa berperan lebih aktif dalam pembangunan mental masyarakat.

  3. ima mengatakan:

    amien.. semoga perubahan itu bisa datang ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s