Aborsi, Bukti Rendahnya Moralitas Oknum Dokter??

Posted: 3 Maret 2009 in Kesehatan
Tag:, , , , , , ,

Beberapa hari yang lalu, sekali lagi kita dikejutkan oleh berita terkuaknya klinik aborsi di kawasan Jakarta Pusat setelah sebelumnya juga terkuak praktik aborsi yang dilakukan oleh oknum dokter gigi di Bali.
Pantas jika kita layak bertanya kenapa. Dokter yang identik dengan jiwa penolong tiba-tiba banyak yang kehilangan nuraninya. Dengan mudahnya mereka melanggar Sumpah yang mereka ucapkan saat dilantik menjadi Dokter. Entah lupa atau sengaja melupakan sumpah dari bibirnya yang dengan jelas menyatakan “Akan menghormati semua bentuk kehidupan mulai dari pembuahan”.(Lihar tulisan saya sebelumnya dg judul:Sumpah Dokter)
Sungguhpun demikian kita patut merunut kebelakang. Mungkinkah Biaya Pendidikan yang mahal dan gaya hidup dari para dokter ini menjadikan moralitas diantara mereka ada yang berubah menjadi seperti itu, sehingga gampang sekali menukarkan kehidupan yang harusnya mereka hormati dan lindungi dengan segebok uang.
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa biaya pendidikan tinggi di negeri kita ini semakin lama semakin mahal, termasuk Pendidikan Dokter. Untuk pendidikan dokter umum saja Mahasiswa yang masuk universitas negeri melalui SPMB biasa dikenai Sumbangan Pendidikan dari 6 jutaan sampai puluhan juta, Sedangkan Yang diterima di jalur PMDK dan Jalur Khusus umumnya dikenai Sumbangan Puluhan Hingga diatas Seratus jutaan. Belum lagi SPP yang per semester sekitar 1,5-3jutaan. Itu Universitas yang Negri, Yang Swasta jauh lebih “gila” lagi. Belum lagi ketika masuk ke Spesialisasi. Hampir semua universitas yang mengadakan program PPDS menarik sumbangan 100-500juta. Belum lagi SPP per semester 3-15juta dan biaya ini itu yang menurut salah satu teman penulis pernah sampai habis 30 juta sebulan.
Seorang dokter sudah jamak dianggap sebagai manusia dengan kedudukan sosial yang tinggi. Sehingga banyak juga yang salah menafsirkannya dan terjebak dalam kehidupan glamour demi untuk mempertahankan status tersebut Kalau sudah seperti ini wajar jika ada beberapa oknum dokter yang tergiur untuk mengais rezki secara ilegal-instant untuk mengembalikan “modal” biaya pendidikan dan untuk memenuhi gaya hidup yang serba “Wah” ini.
Beberapa oknum ada yang tergiur melakukan praktik aborsi, Praktik ilegal di berbagai tempat tanpa ijin, Bekerjasama dengan oknum industri farmasi sehingga berani memberikan obat tanpa indikasi, memanfaatkan ketidaktahuan pasien untuk keuntungan diri sendiri.
Sampai saat ini saya percaya masih banyak dokter yang masih mengedepankan nuraninya daripada sekedar keuntungan pribadi, masih banyak yang teringat Sumpah Jabatannya daripada bujuk rayu setan. Anda tentu masih ingat beberapa sosok dokter teladan yang pernah hadir dalam talk show “Kick Andy”. Penulis khawatir, dengan semakIn dikomersialkannya Pendidikan, terutama Pendidikan Dokter, maka akan semakin banyak oknum “dokter-dokter Komersial”.
Penulis cuma berharap Pendidikan Kedokteran Tetap pada jalur yang benar. Mencetak dokter yang Bertingkahlaku mulia, Berotak cerdas dan Punya Skill yang mumpuni. Tidak masalah swasta atau negeri yang menyelenggarakan pendidikannya, yang terpenting adalah Kontinuitas commitment pada khittah untuk mencetak dokter yang bermartabat. Demi Kemanusiaan

Komentar
  1. anna mengatakan:

    Dimanapun, pasti ada orang yang baik dan tidak baik. Itu hanyalah kasus dari sedikit orang yang membawa akibat kepada orang lain. Tidak bisa digeneralisasi to?

  2. jeongrina mengatakan:

    dokter perlu dilatih untuk pendalaman tetntang ahlak dan kemanusiaan, bahwa membantu manusia itu pahala dan membantu yang tidak baik berdosa, semoga semua dokter ikut pelatihan ESQ,dan ISQ

  3. jeongrina mengatakan:

    dokter juga mnusia, jadi jangan sok seperti dewa, maunya didepan dalam semua hal, Ingat kasus Prita….,Hati nurani pake..?

  4. azzakky mengatakan:

    @ jeongrina
    hehe.. jangan emosi mbak, saya juga dokter loh.. hehe.. nggak semua dokter koq seperti itu. menurut hemat saya moralitas yang menurun ini akibat terlalu dikomersilkannya PENDIDIKAN KEDOKTERAN. dulu, Dulu prinsip pendidikan dokter ABC (Attitude, Brain, Condite) sangat dipegang. itu dulu ketika calo mahasiswa kedokteran benar-benar orang terpilih.

    Sekarang?? coba anda lihat.. FK-FK swasta bertebaran. ada siy yang memang kualitasnya baik namun saya sempat tercengan ketika mengikuti teman saya yang ingin masuk sebuak FK swasta dimana salah seorang petinggi kampusnya berujar jika masuk FK ini dijamin anda akan menjadi seorang dokter.

    Seingat saya dulu waktu kuliah, seleksi begitu ketat, belum lagi ada seleksi DO(drop out) an tiap 2 tahun sekali bagi mahasiswa yang nggak memenuhi Standart ABC tersebut.
    Bola ada di tangan kita, saran saya swastanisasi pendidikan dokter boleh tapi nggak bisa dilepaskan dari standard yang ketat..

    Saran lagi bagi media massa, sekarang ini sangat perlu sosialisasi tentang dunia medis. jangan hanya mengekspose kesalahan saja tapi juga diharapkan memberikan pendidikan masyarakat dalam bidang kesehatan. Kalau Acaranya Ki J*k* B*dh*, Gus M*s, dll aja bisa jadi acara rutin kenapa acara semacam B4M nggak ada yang mengikuti??

    apa mau jika urusan kesehatan masyarakat kita lebih percaya paranormal dibanding tenaga medis? Moga nggak terjadi.

  5. fika mengatakan:

    yayayaya…
    sbg salah 1 mhsiswa d fk jg…saya stuju klo masih bnyak jg ko dokter yg masih mbeneh dan punya hati nurani…td kbetuln nyari info soalaborsi untuk dibuat bahan diskusi..bgs jg loh…
    makasih… ;p

    pssst..mnrut hemat saya, memang lbh enak kuliah d FK negeri…apalagi lwt jalur snmptn…g mahal2 lah pokokna…asik!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s