Generasi Sakit

Posted: 14 Maret 2009 in Sosiokultural
Tag:, , , , , , ,

Kemarin, 13 maret 2009, salah satu tetangga penulis ditangkap Satuan anti narkoba Polresta Kediri.” B”, ditangkap dengan tuduhan sebagai pengedar double L, Pil setan atau dulu penulis menyebutnya sebagai “Pil Cengoh” yang digemari anak-anak pengangguran di desa-desa. Selain murah, pil ini masih banyak beredar didaerah pedesaan.
Seminggu sebelumnya, desa yang terletak di pojok timur sungai Brantas ini juga dikejutkan dengan penangkapan “AH” dengan tuduhan serupa. Konon masih ada lima tersangka lagi yang akan ditangkap.
Sedih tentunya, disamping karena keduanya pernah menjadi sahabat penulis saat masih sekolahan, juga sedih dikarenakan semakin rentannya pedesaan terhadap budaya yang tak sehat.
Sebenarnya selain masalah narkoba. Masalah seperti pergaulan bebas juga semakin merusak generasi mudai pedesaan. Anak-anak muda di desa seakan malu dikatakan Ndeso, sebagai pelariannya mereka memilih mengikuti gaya hidup yang mereka anggap lebih “Ngutho” (lebih seperti orang kota). Sayangnya yang ditiru bukan sesuatu yang baik tapi malah kebuasaan busuk orang kota. Anak-anak desa ini rela kupingnya, hidungnya, dan lidahnya ditindik, hanya agar dianggap keren. Mereka mulai ngepil, mendem (konsumsi Narkoba) supaya dianggap modern dan pemberani. LKMD (Lamar Keri Meteng Dhisik = melamar belakangan, hamil duluan) pun makin marak dikarenakan gempuran film-film dan sinetron sok romantis berbumbu perzinahan.
Sakit generasi desa kami. Para orang tua tak pernah merasa risau lagi dengan kerusakan moral yang ada. Mereka seolah kehabisan akal dalam membendung kebobrokan yang terus bergulir ini.
Sekolahan berbasis agama memang ada di tempat kami. Bahkan mereka berdua juga lulusan sekolah tersebut. Sekolahan berbasis Agama seolah kehilangan tajinya ketika harus berhadapan dengan gempuran budaya “hedonis satanis” yang diperparah dengan tingginya pengangguran di desa kami.
Entahlah, kenapa anak-anak desa sekarang malu dikatakan Ndeso, padahal banyak Pemimpin bangsa kita yang dengan bangga menyebut dirinya Anak Desa.
Mungkin sekali mereka bosan hidup miskin terus di desa, mungkin ini cara protes tanpa sadar mereka terhadap pemimpin yang cenderung menganaktirikan pembangunan penduduk desa. Kebanyakan dari mereka sudah bosan menjadi petani yang harga hasil panennya terus di kebiri demi mewujudkan beras murah, celakanya mereka tak mampu bekerja di bidang lain.
Nasib… Nasib.. Cah ndeso semoga ada keajaiban di desaku.. Semoga ada obat bagi Generasi Ndesoku yang sedang sakit..

Komentar
  1. Abdul Cholik mengatakan:

    -Ada obat gratis tapi kok mereka nggak mau memakai yaitu sholat.Nongkrong sambil ngrumpi berjam-jam betah tetapi sholat maghrib hanya 3 rakaat saja tidak mau.
    -maju terus dengan artikel2 bermanfaat.
    -salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s