Salman Al Farisi

Posted: 28 Maret 2009 in Kisah Teladan
Tag:,

“ Karena Jabatan itu manis waktu memegangnya tapi pahit waktu melepasnya”.

Kisah teladan yang Penulis sajikan kali ini adalah sebuah kisah dari seorang pribadi yang pantang menyerah mencari kebenaran dan sekaligus pribadi yang bisa dijadikan panutan sebagai pejabat pemerintah yang bersih dan sangat faham akan arti tanggung jawab yang diembannya sebagai seorang Pejabat.

Perjuangan Mencari Kebenaran

Salman al Farisi dilahirkan di Isfahan, Persia (sekarang Iran). Ayahnya adalah seorang Bupati di daerah tersebut. Beliau dibesarkan dari keluarga yang taat memeluk agama Majusi (Penyembah Api). Bahkan beliau diserahi tugas menjaga Api yang bertanggung jawab atas nyalanya dan tidak membiarkannya padam.

Suatu hari, beliau disuruh ayahnya untuk pergi ke sebuah lahan milik ayahnya. Di tengah perjalanan beliau melewati sebuah gereja milik kaum Nasrani yang kebetulan sedang bersembahyang. Saat melihatnya beliau kagum dan berkata dalam hati bahwa agama ini (Nasrani) lebih baik dari pada agama yang sedang dianutnya. Beliau menanyakan asal dari Agama tersebut. Kaum nasranipun menjawab bahwa agama mereka berasal dari Syria. Setelah kembali ke rumah, beliau mendiskusikan dengan ayahnya yang berakhir dengan dirantai kedua kakinya oleh ayahnya dan beliaupun dipenjarakan juga oleh sang ayah. Saat itu beliau mengirimkan kabar pada orang-orang Nasrani bahwa beliau sudah memeluk agama mereka dan beliau meminta diberitahu jika ada rombongan dari Syria. Akhirnya beliau berhasil meloloskan diri dan ikut dalam rombongan menuju ke Syria.

Sesampainya di sana, beliau menanyakan kepada orang-orang tentang siapakah orang yang ahli dalam agama mereka. Merekapun menunjukkan pada beliau seorang uskup gereja. Beliau kemudian tinggal bersama uskup tersebut dan mempelajari agama nasrani. Namun sayang, uskup yang satu ini ternyata sering menyalahgunakan uang sedekah. Uang yang terkumpul ternyata disimpan untuk dirinya sendiri.

Setelah sang uskup wafat, kaum nasrani mengangkat uskup baru yang sangat baik dalam beragamanya. Salmanpun tetap mengabdi dengan setia sampai uskup tersebut meninggal dunia. Sesaat menjelang sang uskup ini meninggal, Salman al Farisi menanyakan kepada siapa hendaknya ia bisa mengabdi dan belajar ilmu agama lagi. Sang uskup menyarankan agar dia mencari seorang uskup di daerah Mosul.

Kemudian Sepeninggal uskup Syria itu, Salman berangkat menuju Mosul. Disana Beliau tinggal dan belajar ilmu agama sampai Uskup tersebut meninggal. Saat sang uskup ini menjelang meninggal, Salman al Farisi menanyakan kepada siapa hendaknya ia bisa mengabdi dan belajar ilmu agama lagi. Sang Uskup pun mengatakan: “Anakku, Tak seorangpun yang kukenal serupa dengan kita keadaanya dan dapat kupercayakan engkau padanya. Tetapi sekarang telah dekat datangnya masa kebangkitan seorang nabi yang mengikuti agama Ibrahim secara murni. Ian anti akan hijrah ke suatu tempat yang ditumbuhi kurma dan terletak di antara dua bidang tanah berbatu-batu hitam. Seandainya kamu dapat pergi ke sana, temuilah dia, Ia mempunyai tanda-tanda yang jelas dan gamblang. Ia tidak mau makanan shadaqah, sebaliknya bersedia menerima hadiah dan di pundaknya ada cap kenabian yang bila kau melihatnya segeralah kau mengenalinya” Kebetulan pada suatu hari lewatlah rombongan dari jazirah Arab.

Salman akhirnya pergi bersama rombongan mereka dengan imbalan berupa sapi-sapi dan kambing-kambing milik Salman. Sesampainya di daerah Wadil Qura, ternyata rombongan tersebut berkhianat. Salman dijual sebagai budak kepada seorang Yahudi di daerah tersebut. Singkat cerita, setelah beberapa lama, ia dijual lagi kepada seorang yahudi Bani Quraidhah yang kemudian membawa salman ke Madinah. Begitu melihat Madinah, Salman yakin bahwa inilah negeri yang disebutkan oleh sang uskup dari Mosul itu.

Suatu hari saat Salman memanjat pohon kurma sedang majikannya duduk di bawahnya, sepupu majikannya datang dan mengutuk orang-orang Quba yang menerima kedatangan seorang laki-laki dari Makkah yang mengaku sebagai Nabi. Lantaran terkejut bercampur bahagia, Salman segera turun dan langsung menanyakan tentang kebenaran berita tadi pada sepupu sang majikan. Seketika itu juga majikannya marah dan memukul Salman yang dianggapnya lancang.

Sore harinya Salman mengumpulkan makanan yang ada padanya kemudian pergi menemui Nabi beserta rombongannya. Salman berkata:” Tuan tuan adalah perantauan yang sedang dalam kebutuhan. Kebetulan aku mempunyai persediaan makanan yang telah kujanjikan untuk sedekah. Setelah mendengarkan keadaan tuan-tuan, maka menurut hematku tuan-tuanlah yang lebih layak menerimanya, dan makanan itu kubawa kesini”. Lalu makanan itu ditaruhnya dihadapannya. Kemudian Nabi SAW bersabda kepada para sahabatnya:” Makanlah dengan nama Allah”. Tetapi beliau sendiri sedikitpun tidak menjamah makanan tersebut. “Inilah tanda pertama… bahwa Ia tidak mau memakan harta sedekah”

Keesokan harinya Salman kembali menemui Rasulullah SAW sambil membawa makanan. Kata Salman:” Kulihat Tuan tidak mau makan sedekah, tetapi aku mempunyai sesuatu yang ingin kusampaikan kepada tuan sebagai hadiah”. Lalu makanan itu ditaruh di depannya. Kemudian nabi bersabda :” Makanlah dengan menyebut nama Allah”. Dan beliaupun turut makan. “Inilah tanda kedua… bahwa Ia bersedia menerima hadiah”

Beberapa hari kemudian Salman menemui Rasulullah SAW yang saat itu sedang mengiringkan jenazah dan dikelilingi oleh sahabat-sahabatnya. Saat itu Rasulullah SAW memakai dua lembar kain, satu digunakan sebagai sarung dan satunya sebagai baju. Salman berusaha mencari sesuatu, rupanya Rasulullah SAW seakan menyadari hal itu. Beliau menyingkapkan burdah di lehernya sehingga tampak pada pundak beliau cap kenabian seperti yang diceritakan uskup dulu. “Inilah tanda ketiga itu”. Seketika Salman menangis dan mencium tanda kenabian tersebut. Kemudian Salman masuk Islam. Ia menceritakan kisah perjalanan hidupnya demi mencari kebenaran. Rasul pun memerintahkan para Sahabatnya untuk membantu membebaskan Salman dari perbudakan.

Sosok Pejabat Teladan

Semasa pemerintahan Khalifah Umar bin khattab, Salman al Farisi ditugasi sebagai Amir atau kepala daerah Mada’in. Salman bukanlah tipe orang yang gila pangkat dan jabatan.

Salman bisa dipastikan akan menolak mentah-mentah jabatan sebagai Amir jika seandainya khalifah umar tidak berkata kepadanya:” Apakah kalian hendak menaruh amanat di atas pundakku…, kemudian kalian tinggalkan aku seorang diri..?? Tidaakk… Demi Allah tidak kuijinkan selama-lamanya”

Sebuah prinsip yang selalu dipegangnya adalah kata-katanya : “Seandainya kamu masih mampu makan tanah, asalkan tidak membawahi dua manusia, lakukanlah!!”

Ketika beliau ditanya tentang keengganannya diangkat sebagai Amir, Beliau menjawab: “ Karena Jabatan itu manis waktu memegangnya tapi pahit waktu melepasnya”.

Saat beliau menjabat sebagai Amir Mada’in, kehidupan beliaupun sungguh sangat sederhana. Beliau memasak sendiri makanannya, rumah yang ditinggalinya tidak lebih dari sebuah bangunan kecil tempat bernaung dari terik matahari dan hujan yang seandainya beliau berdiri maka kepala beliau akan sampai pada langit-langitnya dan seandainya beliau tidur maka kakinya akan menyentuk dinding rumahnya. Seorang amir yang saat meninggalnya cuma meninggalkan harta berupa sebuah piring, sebuah baskom.

Mungkinkah beliau memang Amir yang tidak digaji sehingga hidup serba kekurangan?? Ternyata tidak, Saat itu pemerintahan Islam sedang mengalami masa jayanya, kas Negara penuh sehingga bisa memberikan gaji yang lumayan besar bagi semua pejabatnya termasuk Salman al Farisi.

Diriwayatkan dari Hisyam bin Hisan dari Hasan:” Tunjangan Salman sebanyak lima ribu setahun, namun ketika berpidato dihadapan tigapuluh ribu orang separoh baju luarnya dijadikan alas duduknya dan separoh lagi menutupi badannya. Jika tunjangannya keluar, maka dibagikannya tunjangan itu sampai habis. Sedang untuk nafkahnya dari hasil usaha kedua tangannya”

Salman al Farisi sebenarnya mendapatkan tunjangan yang sangat besar dari Negara. Empat sampai enam ribu dalam setahunnya namun tidak satu dirham-pun yang diambil untuk dirinya. Semuanya disumbangkan habis. Untuk menymbung hidupnya beliau membuat keranjang dari daun kurma. Katanya: “ Untuk bahannya kubeli daun satu dirham, lalu kubuat dan kujual tiga dirham. Yang satu dirham kuambil untuk modal, satu dirham lagi untuk nafkah keluargaku, sedang satu dirham sisanya untuk shadaqah”. Sungguhpun demikian beliau masih menangis menjelang ajalnya dikarenakan teringat oleh pesan Rasulullah SAW kepada para sahabatnya supaya tidak dikuasai oleh dunia dan tidak mengambil daripadanya melainkan sekedar bekal seorang pengendara (Musyafir).

Suatu hari ketika Salman sedang berjalan di jalan raya, ia didatangi oleh seorang laki-laki dari Syria yang membawa sepikul buah Tin dan Kurma. Saat melihat seorang laki-laki yang tampak seperti orang biasa dan dari golongan tak berpunya, terpikirlah untuk menyuruh laki-laki itu membawakan buah-buahannya dengan memberikan imbalan setelah sampai dirumah tujuannya. Salman pun menurut, beliau mengangkat barang bawaan pria tersebut. Ketika diperjalanan Beliau berpapasan dengan rombongan orang. Beliaupun mengucapkan salam pada orang-orang tersebut. Merekapun menjawab :”Juga kepada Amir, kami ucapkan salam”. Sambil bermaksud menggantikan Salman mengangkat barang lelaki tadi. Setelah peristiwa itu barulah laki-laki dari Syria tadi sadar bahwa ternyata orang yang disuruhnya membawakan barang-barangnya adalah Amir Mada’in. Ia minta maaf dan bermaksud membawa sendiri barang-barangnya yang dipikul Salman. Namun Salman menolak dan mengatakan “Tidak, sebelum kuantarkan sampai ke rumahmu”. Subhanallah… Sungguh sebuah keteladanan sejati. Yang tidak hanya Indah untuk dihayati, Namun juga patut untuk diikuti..

Sebuah pertanyaan dari Penulis buat para pembaca, kira-kira pembaca senang tidak seumpama punya pemimpin atau pejabat seperti ini?? Mungkinkan sistem pemilihan umum seperti di negara kita bisa menghasilkan para pemimpin sekelas Salman Al Farisi?

(diringkas dari buku Karakteristik Perihidup enam puluh Shahabat Rasulullah, Khalid Muh. Khalid)

Komentar
  1. easy mengatakan:

    hemm.. sosok seperti itu di Indonesia ini hanya mimpi

  2. azzakky mengatakan:

    Mari kita wujudkan mimpi jadi kenyataan🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s