Pelajaran berharga dari Pemilu

Posted: 27 April 2009 in Politik
Tag:

Tanggal 9 april 2009, bangsa kita mengadakan perhelatan akbar 5 tahunan. Pemilu, agenda rutin dalam demokrasi di negeri kita untuk memilih para wakil rakyat yang nantinya diharapkan bisa membawa aspirasi rakyat dalam penentuan kebijakan negeri ini.

Seperti kebanyakan program yang dijalankan di negeri kita ini yang selalu berubah-ubah, Pemilu kali ini pun juga berbeda dari pemilu sebelumnya. Selain Jumlah partai Kontestan yang banyak (34 Partai), penentuan wakil rakyat pun sekarang ditentukan langsung oleh pemilih. Disamping itu, cara pemilihan tak lagi dengan mencoblos tapi dengan menyontreng (Centang).

Akibat dari membludaknya Partai peserta Pemilu dan banyaknya Caleg yang mengikuti “Kontes” wakil rakyat ini membuat kertas suara pun menjadi sangad besar. Sudah begitupun huruf yang tercetak juga masih relative kecil. Maka tak heran jika saat pencontrengan berlangsung penulis banyak melihat para bapak-bapak dan ibu-ibu yang sudah sepuh (tua) perlu waktu sampai seperempat jam Cuma untuk mencari nama caleg pilihannya. Ditambah dengan bilik suara yang sempit dibandingkan dengan ukuran surat suara ikut menambah kesulitan saat pencontrengan.

Penulis tak habis fakir, sampai kapan jumlah kontestan partai akan terus membludak seperti ini. Kita semua tahu bahwa hampir semua partai gurem yang ikut kontestan tersebut Cuma partai lama yang berganti nama. Bahkan kebijakan electoral threshold gampang sekali diakali hanya dengan ganti nama. Kita lihat Partai seperti PPNUI, PKNU, PKPB dll. Akankah partai-partai yang udah berkali-kali ganti nama dan tetap tidak laku ini akan terus diberi kesempatan untuk ikut pemilu?? Sampai kapan Rakyat disuguhi keegoisan para pendiri partai yang walaupun sudah tidak dipercaya rakyat tapi masih terus ngeyel (memaksa).

Pemilihan wakil rakyat secara langsung pada mulanya adalah untuk memberi kesempatan pada rakyat supaya bisa memilih wakilnya yang benar-benar mereka kenal. Di Pemilu kali ini kita mendapat pelajaran berharga, tidak hanya bagi Caleg yang mencalonkan diri tapi juga bagi pemilih.

Sistem pemilihan wakil rakyat secara langsung menjadikan seorang Caleg mau tidak mau harus mendekati konstituennya. Nah disinilah uniknya pemilu kali ini. Dulu Caleg dalam satu Partai bisa bersatu saat mengkampanyekan partainya, namun kali ini antar caleg dalam satu Partai pun bisa bersaing ketat. Dampaknya bisa dilihat, kampanye tak sehat akhirnya merebak juga. Caleg mati-matian berusaha tampil sebagai seorang yang pro rakyat. Mereka seolah berlomba menjadi manusia paling dermawan. Ada yang rela menjual kekayaannya bahkan sampai berhutang guna memenuhi ambisinya menjadi wakil rakyat. Jadi kita tidak perlu heran jika pada akhirnya banyak caleg yang Stress saat gagal terpilih. Di Bali, seorang caleg Wanita meninggal kena serangan jantung. Dan jangan heran pula jika mereka mengambil lagi sumbangannya. Hehehe maklum, sumbangannya kan ada yang dari berhutang…

Sebuah pelajaran buat Caleg: “Jika anda mencalonkan diri tanpa rasa ikhlas, bersiap-siap saja anda kehilangan harga diri karenanya”

Di pihak pemilih, mereka benar-benar menjadi penentu. Ada beberapa tipe pemilih pada Pemilu kali ini. Bagi mereka yang Cuma berfikir jangka pendek, mereka rela menjual suara mereka Rp10 ribuan bagi caleg yang mau membelinya. Ada juga yang berlagak jual mahal hanya mau memilih jika diberi uang transport 50 ribuan. Teman penulis pada malam sebelum pencontrengan sempat menelpon menanyakan tentang hukum agama menerima uang dari caleg, dia diberi uang 50 ribu jika mau mencotreng salah satu Caleg DPRD kota. Bagi pemilih yang punya motif ekonomi tapi lumayan idealis, mereka mau menerima sumbangan apapun dari caleg tapi saat hari pencontrengan mereka tetap memilih sesuai hati nuraninya. Sedangkan bagi pemilih yang idealis dan memang begini idealnya menurut penulis, mereka menolak apapun pemberian uang dari caleg dan mereka tetap semangat memilih wakil yang menurut mereka tepat. Ada juga pemilih yang Pesimis melulu. Bagi mereka pemilu nggak pemilu tetap saja sama. Dan yang paling kasihan adalah Pemilih yang tidak didaftar menjadi pemilih akibat dari amburadulnya sistem kependudukan kita.

Setelah pemilu usai, para pemilih banyak dikejutkan dengan aksi para caleg gagal yang tiba-tiba berusaha meminta lagi sumbangan yang telah diberikan kepada warga..

Sebuah Pelajaran bagi para Pemilih: “ Jika anda memilih seseorang hanya karena ingin mendapatkan sesuatu, maka bersiaplah kecewa sewaktu-waktu”

Dari pihak penyelenggara, KPU, masih banyak yang harus dievaluasi. Terlepas dari belum tertatanya system pencatatan kependudukan kita. KPU seharusnya bisa menutupi kekurangan itu dengan langsung mensurvey Daftar pemilih. Mugkin benar KPU pusat sudah membuat system yang bagus, namun perlu dipertanyakan apakah hal itu juga dilaksanakan oleh KPUD-KPUD?. Kebiasaan lama pejabat kita di pusat adalah terlalu percaya diri terhadap system yang mereka buat tanpa memikirkan kemampuan SDM yang direkrut. Contoh nyata selain kasus DPT adalah kegagalan system IT (teknologi informasi) KPU dalam penghitungan kemarin. Sebuah usaha yang bagus namun tidak diiringi dengan kemampuan menganalisa kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi.

Sebuah Pelajaran bagi KPU: “ Jangan terlalu percaya diri. Seringkali kita perlu rencana cadangan, jika memang gagal jangan malu mengakui dan terus evaluasi”

Wasit Pemilu kita juga payah, seperti wasit di pertandingan liga sepakbola tanah air yang identik dengan kontroversi. Bawaslu kita juga penuh kontroversi. Masalah DPT contohnya, kenapa baru ngomong setelah pemilu tinggal beberapa hari. Bawaslu/ Panwaslu seperti macan ompong. Walaupun memang macan yang satu ini lumayan galak dibandingkan dengan pemilu yang lalu. Sekali lagi mungkin Bawaslu yang di pusat sudah bekerja lumayan baik namun alangkah baiknya jika ditengok kerja Panwaslu daerah yang kebanyakan masih suka memejamkan mata saat ada pelanggaran. Bagi penulis, Bawaslu tidak hanya berperan sebagai pengawas, namun lebih dari itu, bawaslu juga berperan sebagai pendidik warga Negara tentang arti sebuah kejujuran dalam Pemilu

Sebuah Pelajaran bagi Bawaslu: ”Jika wasit tidak netral, tidak pintar maka jangan harap pertandingan akan berlangsung aman”

Semoga Pemilu ini bisa lebih mendewasakan kita. Semoga pada pemilihan Pilpres mendatang rakyat bisa lebih jernih berfikir, lebih arif dalam menentukan masa depan Negara ini. Bagi kontestan Pilpres semoga juga bisa lebih arif dalam berkampanye. Kami rakyat bosan dikibuli. Jangan sampai kebosanan ini terus berlangsung yang pada akhirnya bisa merugikan Negara kita sendiri. KPU dan Bawaslu, dipundakmu tanggungjawab kelancaran dan kejujuran Pemilu ini diemban. Allah SWT, tuhan yang maha esa selalu melihat apa yang diperbuat hambanya dan kelak pasti tanggung jawab itu akan ditanyakan..

Semoga Hari esok lebih baik dari hari sekarang amin

Komentar
  1. Andru Journal mengatakan:

    Yang lebih menarik lagi adalah pas partai2 saling cari pasangan. Keliatan sekali kalo mereka haus kekuasaan..hihihi…

    Kayaknya demokrat berjaya di jawa timur nih.😀

  2. azzakky mengatakan:

    @ Andru Journal
    Betul. Yang menyedihkan mereka selalu mengatasnamakan Demi kepentingan Rakyat. Padahal koalisi kan cuma demi kepentingan Partai mereka sendiri…

  3. jabon mengatakan:

    petani jabon mampir nich,,,
    salam…

  4. azzakky mengatakan:

    Jabon:
    salam kenal.. terima kasih sudah mampir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s