Perjalanan Tugas Tim TKHI (bagian 2)

Posted: 21 Juni 2010 in Agama, Kesehatan
Tag:, , ,

suasana selama penerbangan

Selama Penerbangan

Alhamdulillah sekali lagi, take off berjalan mulus. Selama perjalanan beberapa kali kami keliling untuk memantau kondisi jamaah sambil sesekali bercanda dengan jamaah dan para kru pesawat. Meskipun kami memakai Pesawat Saudi Arabian Air lines, tetapi ternyata sebagian besar pramugarinya berasal dari Indonesia, sehingga sangat memudahka kami untuk berkoordinasi terutama mengenai kelengkapan obat-obata emergensi yang tersedia di pesasawat. TKHI memang selama di pesawat baik keberangkatan dan kepulangan memang tidak dibekali dengan obat-obatan sehingga hanya mengandalkan persediaan dari pesawat. Tapi sebagai antisipasi kami, kami membekali diri dengan obat-obatan yang sekiranya perlu untuk dibawa. Dan benar saja, ada aja jamaah yang mengeluh ini itu, ada yang mau muntah karena duduk paling belakang, ada yang masuk angin karena nggak cocok dengan makanan yang disuguhkan selama di pesawat, ada juga yang demam, padahal sebelum berangkat kami diwanti-wanti jangan sampai ada yang demam saat mendarat di bandara Prince Amir Muhammad Madinah. Alhamdulillah semua dalam kendali meskipun ada satu jamaah yang sempat menderita demam akibat tidak tahan dengan AC.

Madinah el Munawwaroh

Prince Amir Muhammed Airport

Senin 26 Oktober 2009 Tepat Pukul 20.00 Waktu Arab Saudi (WAS) pesawat yang kami tumpangi mendarat mulus di bandara Prince Amir Muhammad Madinah. Tak terasa air mataku meleleh. “ya Alah Kau mengabulkan Do’aku selama ini. 2 tahun yang lalu hamba pernah datang e tempat nabiMu ini dan punya janji pada seorang penjaja Foto di sekitar Jabal Rahmah” Alloh Kariim terucap berkali-kali dari mulutku. Sebuat perjalanan yang telah ku cita-citakan sejak awal mulai kuliah. Entah karena saking stressnya akibat tekanan beban kuliah FK atau karena keinginan diri untuk mendekatkan diri denganNya mengingat akan besarnya godaan kelak ketika sudah menjadi dokter saat itu saya ber Azzam bahwa suatu saat setelak saya kuliah, sebelum saya merencanakan tujuan hidup saya, saya sangat inin sekali bersimpuh dihadapan rumahNya dan menunaikan kewajiban rukun iman ke 5 ini. Meskipun saat itu saya cukup tahu diri bahwa saya ataupun keluarga nggak mungkin untuk pergi ke tanah suci dalam waktu sesingkat itu namun saya sangat percaya Alloh yang maha kaya akan memberikan kemudahan bagi siapa yang berniat sungguh-sungguh.. Alloh ya kariimm ternyata inilah jalannya, dengan membawa amanah menjadi pengawal tamu-tamu Alloh………….

Saya dan teman-teman petugas medis turun terakhir untuk memastikan tidak ada jamaah yang tertinggal ataupun yang menderita sakit. Rasa senang dan bahagia yang kami alami ternyata sudah mendapat ujian. Belum lagi sempat dilakukan pemeriksaan paspor ada salah satu jamaah yang tiba-tiba pingsan. Tekanan darahnya turun menjadi 80/50 mmHg. Kontan saja kami segera melakukan pertolongan darurat dan pemasangan infus yang untungnya telah kami siapkan sejak dari rumah. Pos kesehatan Haji RI yang saat pelatihan dikatakan ada disekitar bandara ternyata tidak ada. Waktu kami tanyakan ternyata Cuma di bandara king Abdul Aziz jedah saja yang ada pos kesehatan Haji Indonesia nya. Akhirnya kami bersama petugas bandara membawa jamaah tersebut ke klinik bandara. Seorang dokter arab keturunan India menyambut kami dan menanyakan beberapa hal dengan menggunakan bahasa inggris yang nggak segitu saya mengerti. Gimana mau bisa mengerti, lhawong orang yang satu ini pake inggris logat india. Yang saya ngerti saat itu katanya jamaah saya mengalami kelainan Katup jantung mitral.. kok bisa yaa?? Padahal laporan ECG dan Buku Kesehatan jamaah hajinya Normal semua. . Waktu itu saya juga minta tolong ketua kloter untuk menerjemahkan dalam bahasa arab beliau yang guru bahasa arab aja juga nyerah. Katanya “bahasa arabnya logatnya aneh dok” haha. Akhirnya saya berinisatif mencari tenaga haji musiman (Temus) untuk menerjemahkan. Alhamdulillah, kondisi pasien tersebut membaik. Ternyata beliau adalah pasien yang tidak tahan AC tadi dan beliau juga mengaku selama dipesawat 9 jam an itu tidak makan sama sekali. Setelah kondisinya membaik kamipun membawa jamaah ikut dalam bis rombongan kami untuk menuju hotel.

Aktivitas selama di Madinah

Hotel yang kami tujupun akhirnya tampak didepan mata, kalao nggak salah namanya Madinah Tower Hotel yang terletak didaerah yang disebu Markaziyah, jaraknya tidak ada 1km dari pelataran masjid Nabawi. Hotel kami terletak disebelah utara masjid Nabawi. Sesampainya disana sudah ada petugas medis yang menjemput kami. Masya Alloh saya kaget setengah tidak pecaya. Ternyata dokter sektor yang akan menemani kami selama di madinah adalah dokter Setyo. Dokter internis yang saya kenal ketika saya masih koas di Solo 3 tahun yang lalu. Setelah ngobrol sebentar, bertukar nomor HP, kamipun diberi Travel Bag besar berisi kelengkapan obat selama kami di Arab Saudi. Obat-obat tersebut jika habis boleh minta lagi ke sektor dengan syarat pesan dulu satu hari sebelumnya. Disamping itu kami juga diwajibkan mengumpulkan laporan tiap hari baik lewat HP ataupun secara tertulis sebelum jam 2 sore.

Benar kata orang-orang, seikhlas apapun niat kita didalam menjalankan ibadah haji pasti akan diuji, terutama ujian kesabaran. Bayangkan, baru saja sudah nyampai hotel para jamaah yang mulia ini ada sebagian yang terprovokasi untuk rebutan kamar. Secara teori petugas sebenarnya disarankan untuk mencari kamar yang paling bawah sehingga dapat diakses oleh jamaah lain tanpa kesulitan. Namun kenyataan berkata lain. Petugaspun terpaksa mengalah dan akhirnya mendapatkan kamar di lantai 9. Dengan fasilitas 2 buah  lift ukuran kecil bisa dipastikan betapa sulitnya untuk mencapai lantai atas ini. Untuk memudahkan kamipun membuat pengumuman di dinding lift tentang kamar petugas dan nomor HP kami yang bisa dihubungi.

perlengkapan tugas

Hari pertama diwarnai dengan komplai dari para jamaah yang kehilangan kopor bawaannya. Hampi ada 150 kopor hilang. Ketua kloter dan TPIHI kami sampai tidak tidur 2 hari guna mencari kopor-kopor tersebut yang ternyata ditemukan tertinggal di Abu Dhabi. Setelah ditelusuri ternyata waktu memasukkan kopor di surabaya. Para kuli salah memasukka kopor. Sehingga terbawa kloter 10. Nah karena dirasa beban terlalu berat akhirnya sang pilot mementahkan untuk menurunkan kopor-kopor tersebut di abu dhabi. Bener-bener sebuah pencarian yang menguras energi, sampai-sampai ketua kloter kami hampir pingsan karena tidak makan. Meskipun protes dari jamaah semakin keras, ada yang menuduh ketua kloternya gak bertanggng jawablah, ada yang dengan enteng bilang “wah ktua kloter ni gimana, kopor jamaahnya hilang kok orangnya malah pergi”. Kamipun mencoba untuk menjelaskan semampu kami. Sabarr.. begitu ucap kami dalam hati

Awal di madinah, saya berkoordinasi dengan tim kesehatan saya yang intinya kita harus memberikan kesan awal yang baik. Saya sangat yakin dengan adanya kesan awal yang baik petugas kesehatan akan bisa mengendalikan keadaan. Dengan begitu saran yang kita berikan juga akan dihargai oleh jamaah. Sebagian jamaah kami ada yang sudah lebih dari 2 kali berhaji. Orang-orang seprti iniyang rupanya agak sulit diyakinkan karena image mereka tentang petugas kesehatan sudah terkontaminasi oleh tingkah laku sejawat kami yang pernah menjadi tenaga medis saat mereka menunaikan ibadah haji dulu. Kesan tenaga medis yang cuek, tak perhatian pada jamaah dan suka “menghilang’ masih ada di benak mereka. Nah kesan itulah yang berusaha kami hapus sedikit demi sedikit. Berat memang cara meyakinkan mereka. Awalnya jama’ah enggan untuk berobat ke pos yang kami buka. Mereka Cuma telfon dan meminta kami datang. Bayangkan 3 orang tenaga kesehatan harus bolak-balik mengurusi 445 jamaah di 9 lantai yang berbeda. Kadang kami harus naik turun tangga karena tidak kebagian tempat di lift, sementara jamaah tidak bersedia ke pos kami. Alhamdulillah meskipuan awalnya kami bekerja bak dokter/perawat pribadi entah karena iba atau karena kesadaran, para jamaah ini mulai mau datang ke Pos kami di lantai 9. Bahkan ada yang mengatakan “sudah dok saya saja yang ke atas, kasian dokter tadi sudah bolak-balik naik turun tangga” suasanapun semakin cair ketika kami secara bergantian mengawal jamaah yang berziarah. Bahkan tidak sedikit jamaah yang awalnya cuek dengan keberadaan kami berbalik menjadi teman akrab ngobrol atau sekedar pinjem korek untuk rokokan di tempat kami.

Sebagai petugas kami sudah berkomitmen akan melayani jamaah terlebih dahulu, setelah itu baru mencari waktu untuk beribadah sunah. Dan benar saja, kami baru benar-benar bisa beribadah dengan tenang disaat jamaah kami sudah terlelap tidur. Sekitar jam 12 malam bersama perawat yang menyertai saya, hampir tiap malam kami sempatkan untuk sekedar sholat dan iktikaf di Roudhoh. Baru sekitar jam 3 kami pulang ke hotel.

Yang perlu menjadi catatan selama di madinah dalam masalah kesehatan adalah sering terjadinya kasus ambeian. Hal ini dikarenakan menu masakan katering yang diterima jamaah sangat monoton sehingga jamaah enggan makan dan memilih untuk menyantap nasinya saja dengan lauk sambel pecel yang sudah mereka bawa dari rumah. Jadi saya sarankan bagi mereka yang punya riwayat ambeian untuk tetap makan dengan gizi seimbang dan cukup serat. Sebenarnya banyak penjual makanan indonesia di sekitar masjid Nabawi. Jadi pintar-pintar aja mencari yang harganya agak miring. Tentunya harus kita pilih juga yang sekiranya higiene nya yang terjamin.

Perjalanan Madinah-Makkah

Setelah menyelesaikan sunah Arbain. Maka hari kamis setelah sholat shubuh kamipun bersiap-siap meninggalkan Madinah. Kami petugas medis sebelumnya mempersiapkan obat-obat penting yang akan kami bagikan kepada ketuo rombongan yang masing masing akan memimpin jamaah dalam 1 bis yang berbeda. Hal ini kami lakukan karena teori yang diajarkan saat pelatihan di murnajati yang menyarankan kita untuk membagi petugas medis dalam bis yang berbeda sangat sulit dilakukan. Ternyata sopir bis yang mengangkut sudah memegang paspor jamaah yang akan dia bawa. Dan dia tidak akan menyerahkan paspor itu karena di tiap titik sebelum memasuki makkah banyak tempat pemeriksaan. Jika kami memaksakan diri untuk membagi petugas medis dalam beberapa bis bisa-bisa kami dianggap jamaah ilegal. Bis yang mengangkut kamipun ternyata juga tidak berjalan beriringan. Terserah sopirnya mau jalan pelan ataupun cepat.

perjalanan madinah-makkah

Nah, hal yang kami khawatirkan terjadi. Saat sampai pada pos pemeriksaan sebelum memasuki makkah, HP ku berdering. Ketua rombongan bis 5 melaporkan ada jamaah yang mengalam diare. Karena kami juga tidak bisa turun dari bis juga tidak yahu posisi bis 5 maka kami hanya menyarankan untuk sementara minum obat diare yang telah kami berikan pada tiap bis sebelum berangkat.. alhamdulillah tidak ada hal yang mengkhawatirkan sampai tiba di penginapan di daerah aziziyah janubiyah II.

Komentar
  1. Wong Kam Fung mengatakan:

    wuih, panjang dan serius. tapi nggak papa, gampang dimengerti kok… salam kenal bang zakky

  2. sari mengatakan:

    Bagian ke-3 sampai debarkasinya ndi m..mudahan sy slalu diberi kemudahan dalam tugas ya. Amin

  3. euis kurnia dewi mengatakan:

    alhamdulillah apa yg jadi ganjalan buat saya terjawab sudah, salam kenal dok, saya perawat yg insya Allah tahun ini kalo Allah mengizinkan saya terpilih sebagai tim tkhi 2012, semoga Allah mengabulkan doa saya.makasih sharingnya

  4. azzakky mengatakan:

    amiinn.. mg2 lancar

  5. Pian Saori mengatakan:

    Mas, apa saja yang harus dipersiapkan dari rumah, di per jalanan dan di arab saudi, dan aapa saja tugas tugas sebagai tkhi itu, mohon doanya agar saya dipanggil Allah menjadi pengawal tamu Allah tahun ini

  6. yani mengatakan:

    Assalamu’alaikum mas zakky.. setelah pemberkasan pendaftaran pkhi (tkhi/ppih), adakah seleksi selanjutnya? tertulis atau prakteknya? Jazakallah khoir… doakan saya bisa berangkat mengawal para tamu Allah sekaligus berhaji. Labbaikallahumma labbaik..

  7. azzakky mengatakan:

    alaikum salam
    setahu saya sudah tidak ada tes lagi.. cuma tes kesehatan, itupun dulu di masing-masing daerah asal kaak Jamaah haji juga. Doakan aku bisa ke sana lagi ya.. makasiy

  8. azzakky mengatakan:

    pertama tentunya mental.. siapkan mental anda sebagai “PELAYAN TAMU ALLOH” jangan sekali-kali merasa sama sebagai jamaah haji yang lain. dan jangan malu melayani para tamu Alloh. Raja Arab Saudi aja bangga menyebut dirinya “KHODIMUL HAROMAIN” Pelayan Dua tanah haram. utamakan Jamaah.
    kedua, Persiapan Biaya. disana uang rupiah bisa dipakai, tapi lebih murah jika anda menukarkannya di tanah air. kalau bawa uang ke sana mending bawa Dollar, harganya lumayan tinggi. paling nggak Rp 5 juta.. nggak usah ikut2tan bawa barang banyak, nanti malah kena razia.
    ketiga. siapkan obat-obat yang diperlukan untuk jama’ah, terutama yang emergensi. jangan harap anda bisa mendapat obat yang lengkap terutama di pesawat. buat list obat yang anda perlukan untuk jamaah anda, yaah beramal dikit buat jamaah kan gak papa..
    semoga sukses..

  9. Pian Saori mengatakan:

    Ass. Alhamdulillah saya dinyatakan lulus TKHI tahun 2012 oleh pusat, saya mau tanya biasanya suka ada seleksi lagi ngga dari dinkes provinsi? persaratan apa saja yang biasanya disiapkan bagi peserta yang lulus tkhi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s