Pelajaran dari “Penghuni Kamar 4” (sebuah pelajaran dari pasien-keluarga pasien anak-anak Hemato-Onkologi)

Posted: 15 Juli 2011 in Kesehatan, Kisah Teladan

ilustrasi Pasien Kemoterapi

Assalamualaikum Hmmm… 4 bulan lamanya penulis berkutat di sebuah dunia yang benar-benar mengharukan. Sejak tgl 15 Februari sampai 15 Juni kemarin penulis berbaur dengan orang-orang hebat.. orang-orang kuat yang tetap semangat meski tahu ada ketidakpastian menghadang di depan mata. Orang-orang yang saling menyayangi layaknya saudara sendiri. Saling membantu dan saling menguatkan satu sama lain. Yaahh… mereka adalah para keluarga pasien penghuni kamar 4 RSDM. Kamar legendaris setidaknya bagi Penulis. Disana ada tawa, disana ada suka, di sana ada keakraban melebihi pertemanan baik dengan sesama penghuni, dengan para perawat maupun para dokter. Namun dibalik itu semua sesekali mereka, para penghuninya harap-harap cemas karena bisa saja dikejutkan oleh kabar duka yang menimpa teman sesama penghuni atau bahkan menimpa anggota keluarga ang ditungguinya. Merekalah pasien-pasien Hemato-onkologi Rumah Sakit ini. Sebuah RSUD di kota Solo.

Sudah lama sebenarnya penulis ingin bercerita tentang mereka. Tentang kesabaran mereka, kekuatan mereka, kemampuan mereka untuk menerima sebuah kenyataan yang belum tentu semua orang bisa melakukannya. Masih teringat dalam benak penulis, suatu hari di bulan mei. Setelah pemeriksaan BMP (Bone Marrow Punction) evaluasi pada seorang pasien ALL L1 SR (Acute Lymphoblastic lekemia Standard Risk) yang telah menjalani Kemoterapi fase induksi Penulis dengan berat hati harus menyampaikan : “ Maaf bu, hasil BMP Putri ibu masih ditemukan sel Blast 16%, jadi belum ada perbaikan signifikan. Dan dengan berat hati harus saya sampaikan bahwa terapi putri ibu harus diganti dengan terapi untuk ALL L1 HR (High Risk)”.” Artinya apa dok” tanya si ibu. “artinya dengan terapi ini ternyata belum bisa berhasil menekan pertumbuhan sel-sel kankernya jadi harus diberikan terapi dengan dosis yang berbeda, dengan obat yang memiliki efek samping yang lebih keras dan maaf, ini juga berarti hasil pemeriksaan ini juga jika harapan bertahan anak ibu lebih sedikit dibanding pasien yang berhasil dengan pengobata “SR”. Sontak si ibu muda yang sejakbeberapa hari harap-harap cemas menunggu hasil pemeriksaan anaknya langsung meneteskan air mata. Bagaimana tidak, 2 bulan si ibu ini rela tidak pulang menunggi anaknya, namun ternyata kenyataan masih belum berfihak pada dirinya. Penulis ingat beberapa hari sebelum pemeriksaan si ibu ini sempat ngobrol dengan Penulis, “semoga hasilnya baik ya dok”. Amiin.. hmmm.. awalnya Penulis khawatir jika si ibu ini terus emosi dan kehilangan kepercayaan terhadap pengobatan medis seperti yang terjadi pada beberapa pasien, namun ketika Penulis menampaikan berita ini ternyata si ibu ini masih tegar sembari berucap. “iya dok, semoga putri saya kuat”

Ada lagi sebuah cerita di bulan mei juga. Seorang pasien baru yang berbulan-bulan menderita demam dan Nyeri persendian. “Maaf pak, Putri anda ternyata dari hasil pemeriksaan BMP menunjukkan menderita Kanker darah dan harus diobati jangka panjang bla… bla…. bla…. serta kemungkinan bertahan selama 5 tahun adalah bla.. bla .. bla %..” begitu kataku… yah… sebuah kalimat yang singkat tapi bisa menjadi layaknya petir di siang bolong bagi keluarga pasien. Di sinilah pelajaran itu tampak. Kadang penulis berfikir pasti sedih sekali rasanya mendengar berita seperti ini. Dan memang hanya orang-orang tertentu yang masih bisa berfikir jernih yang bisa mengendalikan dirinya dengan baik. Teladan dari mereka bukan Cuma ketabahan saat mendengar “vonis” tentang penyakit anak-anaknya. Namun bisa dilihat dari keseharian selama menemani buah hati tercinta. Bayangkan, seringkali mereka harus menunggui berbulan-bulan ketika anaknya menyelesaikan pengobatannya. Kadang ada juga yang anaknya bener-bener tidak mau ditiggalkan sang Ayah, kalau sudah begini dari mana mereka bisa mencari nafkah? Bagaimana jadinya jika mereka bukan termasuk masyarakat yang tidak punya JAMKESMAS yang harus menanggung MAHALnya biaya Kemoterapi padahal banyak diantara mereka yang hidup seadanya. Dari sinilah ternyata tercipta rasa keakraban itu terpupuk. Perlahan tapi pasti mereka berusaha membangun kepercayaan diri, saling memberi, saling menguatkan jika ada salah satu diantara mereka yang “berpulang” mereka tahu dengan pasti bahwa kelak bisa saja tangis pada salah satu dari “anggota kamar 4” ini akan mereka alami… entah kapan terjadi…

Sebuah pertanyaan retorik yang sering mereka tanyakan kepada penulis:” dok, minggu kemarin si A meniggal, trus si B juga sudah berpulang, doakan anakku kuat ya dok?” …… Penulis Cuma bisa menjawab: “Amin bu… semoga diberi yang terbaik”

Harapan penulis semoga jalinan kekeluargaan mereka tetap terjalin meskipun mereka nantinya sudah tidak lagi menjadi penghuni kamar 4 lagi.. tentu harapannya keluar karena “sembuh”, dan semoga bukan dikarenakan hal yang lain..

Trimakasih pasien-pasienku….trima kasih guru-guru kecilku… semoga kelak diriku bisa berbuat sesuatu untuk kalian… Sebuah ungkapan yang tepat jika :” terapi ini bukan sekedar untuk mengobati, namun terapi ini seperti sebuah doa, injeksi obat yang diberikan ” ibarat sebuah permohonan untuk dilebihkan kesempatan menghirup napas lebih lama. dikabulkan tidak terserah Yang Maha Kuasa. Manusia wajib berusaha karena kita tak pernah tahu seperti apa takdir manusia”

wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s