Anda masuk surga karena agama anda ataukah karena aliran/Ormas anda??

Posted: 12 September 2012 in Agama, Peristiwa

Awal ramadan orang sudah pada ramai berbeda pendapat tentang mana yang benar, ikut puasa hari jumat ataukah ikut pemerintah hari sabtu? Syukur ketika 1 syawal umat islam di negara ini meraakannya bersamaan..

Contoh diatas adalah salah satu contoh kecil diantara banyak sekali perbedaan-perbedaan pendapat yang dapat dikatakan masih dalam koridor toleransi.. ikhtilaf yang masih bisa dikatakan rahmatul ummah..

Namun tidak semua perbedaan aliran/ormas, yang sering diistilahkan sebagai masalah masalah khilafiah bisa berujung seharmoni masalah awal ramadan ataupun awal lebaran. Banyak sekali masalah-masalah yang sebenernya dengan kedewasaan berfikir bisa diharmonisasi namun karena kepicikan dari fanatisme golongan malah berujung pada keterpurukan ummat.

Suni lawan syiah, belum lagi aliran-aliran dalam sunni sendiri yang ada di negeri kita ini. Muhammadiyah, NU, Salafi, MTA, ikhwanul muslimin, Hizbut Tahrir atau whatever lah aliran/organisasi islam saling mengklaim kebenaran akan apa yang diyakininya. Celakanya fanatisme keyakinan akan kebenaran ajaran islam menurut versi mereka ini diikuti oleh sikap saling mencela saudara sesama muslim dari golongan lainnya. Okelah kita singkirkan dulu permasalahan pokok antara mayoritas Sunni dengan gologan Ahmadiyah dan Syiah yang menurut penulis memang punya pokok permasalahan besar dalam ikhtilaf dengan Sunni. Kita coba tengok masalah antara golongan/organisasi  yang mengaku sebagai Ahlussunnah wal jama’ah alias Suni.

Sekitar 2 bulan yang lalu, ada seorang Ustadz dari suatu organisasi massa yang mungkin sudah sangat termasyhur di jawa tengah mengadakan pengajian di Nganjuk hampir menjadi korban pengeroyokan oleh sebuah warga desa gara-gara statementnya yang menyatakan bahwa Berzina itu lebih “mulia” lebih baik dibandingkan dengan Tahlilan…

Contoh lain di daerah Pati jawa tegah, ada Ormas Islam yang tetap ngeyel mau mengadakan Tabligh Akbar di Suatu desa yang disitu tidak ada dari warga desa itu yang menjadi jamaah pengajian dari Ormas tersebut . sampai akhirnya hampir terjadi bentrokan..

Contoh lain adalah statement-statement yang menyatakan golongan lain sesat seperti yang pernah dialamatkan pada salah satu jamaah pengajian yang berpusat di Kediri Jawa Timur. Celakanya MUI ikut-ikutan mencap aliran-aliran lain yang dianggap menyimpang tanpa ada langkah nyata yang bijak sehingga warga muslim lainnya terpancing melakukan kekerasan  yang pada akhirnya akan semakin menjauhkan saudara-saudara kita ini dari kebenaran.

Pertanyaan sederhana yang ingin penulis tanakan pada pembaca..

APAKAH ANDA MASUK SURGA KARENA ANDA MENGIKUTI ORMAS ANDA ATAUKAH KARENA ANDA SEORANG MUSLIM?

LALU APAKAH SEORANG MUSLIM TIDAK AKAN PERNAH BISA MASUK SURGA JIKA TIDAK MENJADI ANGGOTA ORMAS/ALIRAN YANG ANDA ANUT?

Jika anda beranggapan bahwa Anda hanya bisa masuk surga jika menjadi anggota suatu ormas berarti mugkin ada yang konslet di otak anda…

Mungkin bisa jadi renungan …. ketika kita berdebat dengan orang lain tentang kebenaran suatu perkara, harusnya dalam benak kita semata-mata untuk mencari kebenaran.. bukan untuk menang-menangan.. kalu kebenaran yang dicari maka tak akan ada yang sakit hati..

Ingat… sahabat-sahabat sekelas Abu Bakar Assidik, Umar Ibn Khattab, Utsman ibn affan, Ali ibn Abi tholib, Thalhah, Zubair ibn awwam, Aisyah RA. Mereka semua dijamin masuk Surga…  mereka pernah berselisih tapi perselisihan mereka adalah perselisihan bermartabat.

Thalhah dan Zubair serta Siti Aisah RA pernah berselisih faham dengan Khalifah Ali RA. Namun Thalhah dan Zubair serta siti Aisah menyadari kekeliruannya, serta Khalifah Ali yang menangis tersedu-sedu bercampur marah ketika salah seorang badui yang membunuh thalhah saat hendak pulang dari peperangan menyerahkan pedang Thalhah kepada Ali  sambil berkata: pantaskah engkau berbangga?Pedang ini dulunya dipakai oleh pemiliknya untuk melindungi Rasulullah.

Juga lihatlah bagaimana kebijakan Khalifah Abu Bakr sbelum memerangi para pembangkang yang menolak zakat serta para pengikut nabi palsu. Beliau mengirimkan delegasi terbaiknya untuk berargumentasi sebelum melakukan tindakan represif kepada mereka. Bagaimana pula khalifah Ali RA juga mengirimkan Abdullah ibn Umar untuk berdialog dengan kaum Khawarij yang menghasilkan ribuan diantara pengikutnya akhirnya kembali kepada kebenaran sebelum mengambil tindakan represif..

Coba tengok tingkah laku kita. Mereka yang dijamin masuk Surga saja masih mau menggunakan pendekatan bijak dakwah bil hikmah, mau’idzoh hasanah (menasehati dalam kebenaran), dan jidal (debat) bil ahsan sebelum bener-benar mengambil tindakan yang lebih keras.. Kita????? (YANG NOTABENE BELUM TAU NANTINYA NYANTOL DI SURGA ATAU NGANDANG DI NERAKA) Ngobrol dengan golongan lain aja nggak pernah udah maen tuduh aja.. yang kafirlah… yang lain bidah lah… yang lain sesat lah… seolah kita sudah pasti masuk surga…. SILAKAN direnungkan..

Dakwah adalah suatu proses… dan jika anda bener-bener menelaah sirah nabawi anda akan menemukan metode dakwah yang luar biasa sistematis dan tepat sasaran.. dakwah tidak akan malah membuat ummat lari dari kebenaran. Mungkin anda pernah ingat pesan rasulullah kepada Ali RA ketika beliau diutus ke Yaman. Beliau berpesan jangan sampai apa yang akan disampaikan Ali akan membuat mereka menjauh dari kebenaran..

Al-Baqarah 177 : Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan  (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

 

Lalu bagaimana dengan kita, bagaimana dengan kata-kata kita yang sering menyakiti saudara kita yang lain Apakah itu masuk dalam katagori kebajikan di atas?? , bagaimana dengan Hobi dari sebagian kita yang dengan enteng mengatakan “Kalian sesat”, “Itu Bid’ah” “mereka Kafir” …. BAHKAN SAHABAT SEKELAS UTSMAN BIN AFFAN, ALI BIN ABI THOLIB, ABDULLAH BI UMAR, TIDAK PERNAH TERIAK-TERIAK TARAWIH 20 RAKAAT BID’AH SAAT KHALIFAH UMAR MELAKUKANNYA.. bagaimana mungkin sekarang malah kita yang ilmunya cetek, tidak ada jaminan langsung masuk surga berani-beraninya menuduh tarawih 20 rakaat sebagai Bid’ah??. Bagaimanakah dengan diri kita sendiri? Kadang Penulis bertanya bagaimana seumpama kita berada pada posisi sebagai salah satu orang yang dianggap sesat tanpa tau harus kemana bertanya bagaimana seharusnya yang benar, atau minimal dimana kesalahan kita. Untuk melunakkan hati kita Boleh juga sesekali kita merenung, seumpama kita hidup dijaman Rasulullah SAW seperti apakah kita? Apakah kita akan masuk sebagai Assabiqunal Awwalun (orang-orag yang pertama masuk surga) ataukah kita akan menjadi orang seperti Abu thalib yang Pro Islam tapi tetep pada agama nenek moyangnya.. Ataukah kita jangan-jangan malah Menjadi Abu jahal atau Abu lahab yang sangat memusuhi Rasulullah??

Saya kira ummat Islam semakin akan lebih dewasa dalam memilih mana yang benar dan mana yang salah. Tidak perlu diteriaki mereka toh juga akan tiba pada kebenaran jika dikehendaki Alloh.. Kita teriak-teriakpun kalau Alloh tidak memberikan hidayah maka tak akan kembali mereka pada kebenaran.. dan Penulis masih sangat yakin bahwa Madzhab bukanlah suatu agama. Madzhab adalah opsi dalam beragama. Ketika kita mengikuti suatu madzhab bukan berarti madzhab tersebut sempurna keseluruhannya, namun mungkin akan ditemukan kesempurnaan itu pada referensi madzhab lainnya. Untuk memperkaya khasanah keilmuan kita, alangkah baiknya jika kita sesama muslim mempelajari apa sih sebenernya yang diajarkan ormas/aliran lain. NU belajar bagaimana Muhammadiyah, pun begitu MTA bisa mempelajari apa itu NU. Juga ormas/aliran lain hendaknya jangan seperti katak dalam tempurung. Cuma tau dirinya benar tapi tak pernah belajar hal-hal lain diluar lingkungannya. Dengan demikian kedewasaan berpikir kita akan lebih baik lagi.

Wallohu A’lam

Komentar
  1. aldini, cdr mengatakan:

    Izin nyimak postingan2nya ya dokter.. Masya Allah banyak inspirasi.

    Utk postingan yg ini, siipp.. Sepakat. Banyak umat muslim yg juga kini keras&tdk toleran thd perbedaan2 ssama muslim tp malah sangat loyal thd yg kafir. Al wala wal baro’ nya kebalik..

    Mohon tetap bimbingannya utk jd dokter muslim yg rahmatan lil ‘alamin ya dokter… *walaupun ga di anak lagi.. Hehe

  2. azzakky mengatakan:

    Aldini: hehehe yup. Aminn… semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s