Gambaran pelayanan kesehatan di Tapal negeri (Part 1)

Posted: 11 April 2013 in Kesehatan, Sosiokultural
Tag:, , , , ,

 

Februari awal tahun 2013 menjadi perjalanan yang berkesan bagi Penulis. Disaat Ibukota dihebohkan oleh kasus bayi kembar Dara dan Dera, saya berangkat ditugaskan ke ujung utara Kalimantan Barat di kabupaten yang berbatasan dengan Malaysia.

Yah, sebagai seorang Residen (Calon dokter spesialis) yang mendapat bantuan biaya pendidikan dari kementrian kesehatan RI, penulis punya kewajiban untuk bersedia dikirim ke manapun RS di pelosok negeri ini selama 6 bulan. ini merupakan perjalanan pertama kali penulis keluar dari pulau jawa untuk waktu yang sedikit agak  lama, 6 bulan.

Eloknya jalanan di Pulau jawa masih bisa penulis temui saat kami mulai bergerak keluar dari kota pontianak. Saat itu hari sudah menjelang sore. 2 jam perjalanan bisa kami lalui dengan mulus. jalanan lancar meski di beberapa ruas kami temui “jalan Putus”. istilah yang saya dengan dari wawan, sopir RSUD sekadau yang hari itu ditugaskan menjemput saya di bandara Supadio. awalnya saya beranggapan kalau jalanan akan mulus seterusnya, meskipun beberapa kali sopir bilang kalau jalannya hancur. Namun penulis masih merasa jalanan baik baik saja. menjelang maghrib tiba-tiba sopir belok kiri, sambil bilang :”nah dok ini jalanan sudah mulai jelek dok”.. benar saja.. jalanan setelah belokan kiri ini benar-benar jalanan tanah, masuk hutan..berlubang-lubang  lagi.. “ini jalan terdekat dok…” kalau lewat jalan tadi lebih jauh dan sudah hancur jalanan..” waw 1 jam kemudian saya keluar dari hutan, jalan raya mulai tampak.. senang rasanya dalam hati.. kemudian penulis tanya pada bang wawan.. “dah deket bang? “jawabnya: “Masih jauh dok, sekitar 5 jam lagi”. waaaa…. dan jalannya gak beda dengan jalanan dihutan.. memasuki jalanan Sanggau-sekadau, kami disajikan banyaknya lubang dan jalanan amblas. sempat terfikir dibenakku :”apa kepala daerah sini tidak pernah lewat jalanan ini ya? padahal itu jalan arteri.. bang wawan tiba-tiba nyeletuk : “yaa beginilah jalannya dok, orang-orang kaya apalagi pejabat disini tidak ada yang mau lewat sini, mereka naik pesawat lewat Sintang-Pontianak. atau kalo pejabat ya naiknya helikopter. jadi maklum aja mungkin pada nggak tau kalau jalanan rusak.”

Jalanan menuju sekadau

Jam 23.30 WIB, Kami akhirnya sampai di rumah dinas. Alhamdulillah, sampai juga. Kabupaten Sekadau mungkin lebih layak disebut Kecamatan. yah memang kota ini kecil, maklum baru 7 tahun dimekarkan. malam itu akhirnya penulis bisa melepas lelah didalam rumah dinas yang masih acak-acakan.

Rumah Dinas seatap 2 rumah

malam itu serasa malam panjang.. Jam 4.30 penulis terbangun dari tidur.. lamat-lamat terdengar suara adzan.. Aku pun beranjak ambil air wudhu. habis wudhu aku menggelar sajadah… astaghfirullah… kemana ni arah kiblatnya. haha… aku lupa nanya ke wawan.. sambil mengingat-ingat peta google yang pernah kulihat sebelum berangkat, akupun mulai sholat.. (akhirnya arah pertamaku sholat di sekadau ternyata arah selatan) …………………………………… (bersambung)

Sekadau Kota

Komentar
  1. jaja ooo jaja mengatakan:

    kok sadiss..

  2. azzakky mengatakan:

    perlu kearifan bersama untuk membangun negeri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s