Gambaran pelayanan kesehatan di Tapal negeri (Part 2)

Posted: 6 Mei 2013 in Kesehatan, Peristiwa
Tag:, , , ,

Garda depan yang minimalis

Garda depan yang minimalis

……

Hari pertama masuk RS

Pagi itu hujan rintik-rintik membasahi bumi sekadau. memang cuaca di kalimantan susah ditebak, kadang tiba-tiba hujan deras meskipun beberapa saat sebelumnya Hawa panas menyapa..  jam 8 pagi si wawan menjemput ke rumah. sambil berusaha menghapalkan jalan ke RS akupun bergegas. Jam 8.15 WIB sampai di RS, suasana masih sepi. “masih pada belum datang dok, maklum hujan, jalanan sulit dilewati terutama mereka yang rumahnya di pedalaman”. Hari itu juga saya dikenalkan keliling ruangan oleh Bapak kepala TU (Tata Usaha) saat itu.

 

Kesan sekilas saat itu saya kira RS ini cukup besar, dengan beberapa alat-alat yang lumayan canggih seperti USG 3D, Ventilator mekanik, C-PAP, 4 buah inkubator yang baru, 2 infant warmer yang juga lumayan baru (meskipun yang 1 sudah rusak). namun beberapa peralatan dasar lainnya seperti Timbangan badan buat anak maupun bayi masih belum ada, infantometer, Tensimeter khusus anak juga belum tersedia. sedangkan karyawan saya kira sudah jauh lebih dari cukup apalagi jika dibandingkan dengan jumlah pasien yang masih angin-anginan. tenaga dokter umum juga sudah lebih dari cukup, apalagi dengan adanya dokter-dokter internship dari sebuah FK swasta ternama di jakarta semakin melengkapi tenaga dokter yang ada.

IMG00148-20130217-0948

Bangsal Paling belakang, diapit Hutan di kiri dan kanannya

kesan berbeda mungkin dapat dilihat dari tenaga dokter Spesialis yang tersedia. Sampai saat saya datang, ternyata dokter-dokter spesialis masih banyak “diimpor” dari tempat lain. Ada 4 spesialistik yang berusaha dipenuhi RS ini. Interna, Bedah, Obsgyn dan anak serta tenaga spesialis anestesi. dari kelimanya hanya Interna dan bedah saja yang sudah menjadi tenaga tetap di RS ini, sedangkan Obsgyn dan anestesi “diimpor”dari UNHAS (univ. Hasanuddin) melalui MoU Pemkab dengan UNHAS, dan Spesialis anak yaitu saya sendiri berasal dari UNS (Univ. Sebelas Maret) yang dikirim Kemenkes melalui program PPDS BK.

Karakteristik Pasien

Pengaruh Hujan terhadap kedatangan Pasien

Awalnya hal ini terdengar lucu di telinga saya saat perawat poli anak saya, Kak Lingling, mengatakan :”Wah sepertinya hari ini sepi dok, tadi pagi kan hujan”.  so apa hubungannya? usut punya usut, faktor hujan ternyata sangat berpengaruh terhadap animo kedatangan pasien. Hujan di daerah ini akan membuat pasien malas datang berobat karena sebagian besar jalan (selain jalan Utama) masih berupa jalan tanah merah yang akan melumer juka kena air hujan. tak ayal kalau memaksakan diri bukannya kesembuhan yang didapat, tapi bisa-bisa motor yang dikendarainya bisa terpeleset dan jatuh.

Beda persepsi masalah jarak tempuh

Saat di jawa, umpama ada pasien yang datang ditanya: ” Rumahnya jauh nggak bu?” jawaban nya biasanya :” jauh dok, 1 jam dari sini”, nah ketika hari pertama saya menanyakan hal serupa saya dapat jawaban yang mencengangkan :”deket kok dok, cuma 2 jam dari sini” whaattt? 2 jam tu emang deket ya? batinku sambil melongo… so jangan sekali-kali menanyakan jauh atau ndak, tanyakan aja daerahnya dimana? berapa jam dari RS, dan biar kita sendiri yang menilai jauh tidaknya jarak tersebut sehingga jika mau menyarankan kontrol ulang tidak sampai membebani pasien..

Periksa berarti sekalian medical cek up

Saya pernah bertanya kepada salah satu internship yang sudah 8 bulan tinggal disini. kenapa tiap kali kita menanyakan kondisi pasien pada keluarganya (alloanamnesis) jawabannya kok semua anggota badannya sakit semua.. contohnya:

dokter (D)         : Bu, anaknya apa yang dikeluhkan

Ibu Pasien (I)  : Mencret dok

D                           : sudah berapa hari Bu? Cair atau ada ampas? warnanya? sehari berapa kali? ada darah? ada lendir? ada demam? ada muntah?

I                            : 2 hari, Cair saja, Kuning, sampai 10 kali, darah dan lendir tidak ada, tidak demam, tidak muntah.

D                          : keluhan lainnya bu?

I                           : Kepalanya sakit dok, telinganya juga sakit, terus hidungnya juga pilek, dada juga katanya agak sesak, apalagi perut, kaki juga sering nyeri dok.

kemudian saya periksa

D                          : nah ini telinga gak ada masalah bu, hidung juga pileknya nggak ada, kalo sesaknya napasnya masih normal tuh bu, ndak ada suara tambahan, beneran bu anaknya mengeluh seperti itu?

I                           : O, ya syukurlah dok, nggak ngeluh si dok, cuma sekalian aja mumpung periksa yang lain juga diperiksa..

ahahahahaha…. emangnya lagi servis motor hahaha.., “emang gitu kok dok” kata dokter internship. hhhrrrrrrr……. hehe..

Sering telat datang berobat

masalah ini mungkin tidak hanya dialami di daerah sini saja, tapi bahkan di jawa masih banyak pasien-pasien yang datang terlambat sehingga sering kali berakibat fatal. perbedaan yang mencolok mungkin dari segi sarana rujukan dan alat transportasi yang masih sulit digunakan untuk memobilisasi pasien dari satu tempat ke tempat lainnya. Bayangkan, untuk merujuk pasien dari daerah pelosok semacam di daerah Pedalaman Nanga Taman kadang diperlukan speed boat untuk membawa pasien dengan melintasi arus sungai yang jeramnya lumayan besar. sedangkan jalan-jalan tanah seperti yang saya sebut tadi akan melumer jika hujan turun. Masalah lainnya timbul jika ternyata pasien harus dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih lengkap. mau nggak mau pasien harus dirujuk ke Pontianak yang harus ditempuh dalam waktu 8 jam melintasi jalan raya yang hancur terutama jalanan Sanggau-sekadau. Tak jarang pasien meninggal sesaat sebelum memasuki kota Pontianak. Belum lagi biaya rujuk yang lumayan mahal baik untuk pasien Umum maupun Jamkesmas (berita terakhir menyatakan pasien Jamkesda Kabupaten gratis biaya rujuk). sedangkan masalah Jaminan kesehatan sendiri belum ada Jamkesprov sampai saat ini. mungkin ini PR bagi pembuat kebijakan. disamping itu perlu adanya support buat petugas kesehatan di garda terdepat untuk selalu meng-up date keilmuan dan bantuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan sehingga adanya kepercayaan yang salah dapat diluruskan sehingga semakin mengurangi angka kematian pasien terutama angka kematian ibu-anak.

………………………… (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s