Optimisme Sejarah Refleksi 68 tahun Indonesia Merdeka

Posted: 21 Agustus 2013 in Politik

Sabtu kemarin, 17 Agustus 2013 tepat 68 tahun indonesia, negeri tercinta kita memproklamirkan kemerdekaan..
Selama perjalanannya yang cukup panjang itu, banyak yang mengapresiasi kemajuan yang telah dicapai. Namun banyak juga yang merasa jika negara ini masih belum merdeka. Terutama merdeka dari jajahan oknum-oknum penguasa sendiri..
Sampai saat ini saya masih percaya jika negara ini masih akan bisa jaya. Silakan pengamat dalam maupun luar negeri mengatakan jika negara ini dikategorikan negara gagal. Toh kenyataannya sampai saat ini Indonesia masih tegak berdiri.
Tulisan ini akan menyoroti betapa beruntungnya kita dianugerahi pemimpin-pemimpin yang tepat dengan kelebihan masing-masing yang menurut hemat saya memang disiapkan oleh Tuhan pada waktunya masing-masing demi kesinambungan negara tercinta ini. Tulisan ini tidak akan mengupas tentang sisi negatif para pemimpin kita, tapi mari kita coba ambil sisi positifnya sehingga dengan begitu kita bisa meneruskan estafet kepemimpinan menuju arah yang benar disamping memperbaiki kekurangan yang terjadi dimasa lalu. Percayalah bahwa Tuhan telah menganugerahkan Pemimpin-pemimpin untuk kita tepat untuk jamannya..

Teriakan Lantang Sukarno di medan Revolusi
Nama Ir. Soekarno sampai saat ini masih tercium harum semerbak meskipun beliau sudah lama meninggalkan kita. Ya… itu tak lepas dari peran beliau dijaman pergerakan maupun jaman transisi pemerintahan kolonial menuju pemerintahan yang merdeka dan berdaulat. Ayah dan kakek kita pasti masih sangat ingat bagaimana Pidato Presiden pertama kita itu sanggup membuat hening bagi siapapun yang mendengarkannya. Membius jutaan rakyat. Dikagumi baik oleh pemimpin negara asing maupun rakyat sendiri. Ketegasannya dalam bersikap dan bertindak menjadi ciri khas seorang sukarno.

Pemimpin yang tepat di waktu yang tepat. Bayangkan bagaimana seandainya Sukarno tidak muncul dalam sejarah negara ini. Tentu Indonesia Raya akan sulit terwujud. Keinginan kerasnya untuk menjadikan Indonesia menjadi negara kesatuan memang benar-benar penting untuk diwujudkan. Demi terwujudnya INDONESIA RAYA. Kelihaiannya dalam berdiplomasi mampu mempersatukan wilayah Nusantara yang sudah sangat lama dipimpin oleh Raja-raja atau Sultan-sultan. Sukarno bukan seorang Raja/Sultan. Tapi kemampuannya mempersatukan nusantara membuatnya lebih dari seorang raja/sultan. Pemikirannya untuk membuat Indonesia sebagai negara baru menjadi negara yang disegani sangat cemerlang. Negara mana didunia ini yang baru merdeka 10 tahun (dengan persiapan kemerdekaan yang bisa dibilang minim) tiba-tiba menjadi negara yang sangat diperhitungkan dunia. Bahkan menjadi Pemimpin gerakan Non Blok yang merupakan Blok Ketiga/ Blok dengan anggota terbesar setelah kemunculan ‘Blok Barat” dan “Blok Timur”.

Pemimpin yang tepat di waktu yang tepat. Setelah eksistensi NKRI kuat dan bahkan sangat kuat, Sukarno dihadapkan pada tantangan besar yang belum pernah dia hadapi. Tantangan itu berupa kemampuan untuk mengembangkan ekonomi. Dalam urusan Pilitik dan Pemerintahan beliau tetap hebat disaat itu, namun ketika jaman sudah berganti, Politik “Blok” dan “militer” sudah mulai beralih pada “Politik Ekonomi” rupanya negara ini memerlukan sosok yang berbeda dari Sukarno..

“Mesem” (Senyum) nya Suharto dalam Pembangunan
Era pertengahan 1960an menjadi titik balik perubahan bangsa ini. Diakui atau tidak, pemerintahan dengan gaya “revolusi” yang penuh “grusa-grusu” ingin segalanya terwujud secara cepat dan kegaduhan politik rupanya menyebabkan para pemimpin kita lupa mengurusi ekonomi negara. Mereka lupa jika 20 tahun setelah revolusi sudah muncul generasi baru. Dulu saat jaman pergerakan dan kemerdekaan rakyat Indonesia masih bisa menahan hidup dalam kondisi kemelaratan dan serba kekurangan, nah 20 tahun kemudian generasi baru ini mulai mempertanyakan kenapa 20 tahun kemerdekaan tapi rakyat masih didera kesulitan ekonomi yang sama..
Adanya gerakan 30 September 1965 menurut Penulis hanyalah momen yang mempercepat terjadinya perubahan tersebut. Tanpa gerakan itupun rakyat pasti akan tetap bergerak untuk menuntuk perbaikan ekonomi. Rakyat sudah bosen hidup dalam kelaparan, rakyat sudah lama ingin merasak hidup lebih baik. Disamping itu, peran indonesia dan keberanian kebijakan luar negerinya membuat indonesia menghadapi tekanan dari dunia internasional.
Disaat seperti ini muncullah Suharto, Tokoh misterius yang muncul kepermukaan setelah kekacauan yang ditimbulkan PKI. Meskipun sampai sekarang masih diperdebatkan tentang bagaimana seorang Komandan Kostrad bisa tiba-tiba mendapat mandat besar dari presiden, namun kemunculan Suharto ternyata diakui atau tidak sesuai dengan kebutuhan rakyat saat itu yang sudah bosan dengan kegaduhan politik dan kemelaratan.
Suharto muncul dengan menawarkan kestabilan politik, dia sangat tahu jika rakyat indonesia butuh jaminan keamanan dan kestabilan politik untuk mulai menata urusan perut bangsa ini. Perlahan namun pasti, suharto mulai menggeser kebanggaan/Nasionalisme yang awalnya berorientasi Politik Militer menjadi Nasionalisme berorientasi Pembangunan. Target-target pembangunan jangka pendek dalam istilah Pelita (Pembangunan Lima Tahun) dan target Pembangunan Jangka Panjang mulai dirumuskan. Dengan modal minim, eksploitasi kekayaan alam mulai digarap. Latar belakang Suharto yang berasal dari golongan Petani membuatnya memberikan perhatian khusus pada sektor pertanian dan pedesaan. Sementara disektor industri, pembangunan juga mulai didukung. Proyek-proyek prestisius berbalut semangat Nasionalisme seperti Target Swasembada beras juga dikebut, Pelayanan sarana kesehatan benar-benar digarap sampai pelosok-pelosok kecamatan didirikan Puskesmas lengkap dengan dokter umumnya, dan yang mencengangkan adalah kemampuan bangsa ini dalam memproduksi pesawat terbang. Saat suharto Indonesia juga menjadi salah satu negara yang disegani di Dunia. Meskipun mungkin dalam bidang ekonomi global indonesia tak bisa mengelak dari Kapitalisme.
Sayangnya lagi-lagi kekuasaan yang terlalu lama dan terlalu kuat akan mengundang para penculas untuk ikut nimbrung memanfaatkan situasi demi memperoleh keuntungan pribadi.
Diakhir hayatnyapun presiden yang satu ini tetap menunjukkan rasa Nasionalismenya dengan penolakannya untuk dirawat di RumahSakit Singapura. Beliau memilih dirawat oleh Rumah Sakit yang dihuni putera-putera terbaik ini..
Dan sekali lagi Suharto turun ketika Negeri ini butuh Pemimpin yang tepat di waktu yang tepat. Kekangan Politik yang semakin mengingat dirasakan rakyat menyiksa kehidupan mereka, meskipun secara ekonomi mungkin jauh lebih baik dibanding kondisi perekonomian saat ditinggalkan Sukarno.

Kelegowo-an Habibie, Presiden dimasa sulit
Bagai buah simalakama. Mungkin itulah ungkapan tepat buat wakil presiden BJ Habibie yang akhirnya diangkat menjadi Presiden menggantikan Suharto sampai diadakannya Pemilu. Selain beliau harus menghadapi ketidakpuasan beberapa kalangan politik karena masih menganggap beliau sebagai sisa-sisa orde baru, beliau juga dipusingkan dengan masalah Timor-timur yang telah lama menguras tenaga-fikiran-finansial bangsa ini. Belum lagi ditambah dengan kekhawatiran munculnya “Suharto baru” dari kalangan militer seperti saat peralihan dari Orde lama ke orde baru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s