BPJS, daftar sekarang atau nanti ya?

Posted: 5 Januari 2014 in Kesehatan, Peristiwa
Tag:, , ,

Sekelumit pandangan dari tenaga medis soal BPJS dari sudut konsumen

Gegap gempita terasa sangat ketika terompet tahun baru 2014 ditiup. Treeeeetttttttt….. teeett …… teettttt……. 1 jam kemudian penulis yang saat itu sedang bertugas jaga di salah satu RSUD menerima konsul dari dokter jaga triase. “Dok, ada pasien thalasemia periksa nih, namun dia datang bukan karena thalasemianya, tapi karena demam dan nyeri tenggorokan (Tonsilofaringitis akut)” jelas sang dokter IGD. “Tapi ini ada pesen dok, pokoknya pasien yang masuk harus memenuhi kriteria diagnosis termasuk penyakit yang bisa ditangani di RS tipe A seperti RS kita ini, kalau nggak nanti nggak diganti sama BPJS” sambung sang dokter triase. Sambil garuk-garuk kepala penulis memelototi 31 item diagnosis atau tepatnya keluhan yang merupakan kegawatdaruratan anak yang bisa masuk dalam kategori perawatan IGD RS tipe A. Nah loohh… gak ada 1 pun yang masuk… Thalassemia bukan merupakan kegawatdaruratan jika kadar hemoglobinnya masih baik, apalagi demam hanya 38,3 C dan keluhannya amandel. Harusnya masih bisa diterapi oleh Puskesmas atau dokter di tingkat dasar. “Sudah daftar BPJS pak” tanyaku sambil berharap jawaban “Belum”. Namun yang keluar dari mulut bapak ini malah sebaliknya “Sudah dok.. malahan sudah bayar 3 bulan, katanya kalo berobat jika sudah daftar jadi gratis, saya nggak mau kalau bayar lagi dok”… hehehe…. “jangkrik” hatiku mengumpat sambil klecam-klecem, ngapain orang seperti kami yang harusnya tinggal meriksa, mengobati pasien harus berurusan dengan masalah administrasi gini, kenapa petugas BPJS gak nolak atau minimal menjelaskan prosedur rujukan berjenjang BPJS dulu nih pasien sebelum masuk Triase, malah dilempar ke Kami. Pasti mereka takut kalo mereka nolak pasien ini besok pagi akan muncul headline di korang kota “Seorang pasien BPJN ditolak RSUD bla bla bla…..” daripada pusing kasihkan aja dokternya atau lebih tepatnya residennya biar ikutan mumet. Kalo toh yang nolak residennya kan besok tinggal dijewer saja. Singkat kata dengan pendekatan khusus dan kelihaian kata serta kordinasi dengan Tim jaga serta konsulan saat itu, pasien ini dapat kami kelola dengan baik tanpa ada komplain dan RS juga tidak dirugikan karena masalah klaim. Hehe.. Mungkin pak Beye gak tau kondisi seperti ini saat mengeluarkan statemen “Saya tidak mau mendengar lagi ada RS menolak pasien miskin” hehe… jangan-jangan pak Beye gak tau kalo RS-RS pemerintah harus pintar-pintar mensiasati antara peran sosial dengan kemampuan untuk membayar “Upeti” tiap tahun sesuai target.

BPJS berarti kemudahan? Ooo belum tentu.. ada yang aneh di negeri ini tentang BPJS, menjelang berlakunya BPJS, televisi swasta berlomba-lomba memberitakan kesiapan RS-RS dalam mengantisipasi BPJS 2014. Kenapa aneh? Menurut hemat penulis, yang harusnya disoroti tuh bukan RS-RS, tapi fasilitas pelayanan kesehatan dasar, mampu nggak mereka menanggung ledakan pasien saat BPJS digulirkan. Di kota-kota besar saja masih banyak faskes dasar terutama puskesmas yang fasilitasnya minim, belum  di daerah daerah terpencil. BPJS tu menganut rujukan berjenjang, jangan mimpi anda bisa seenaknya ke RS tipe B atau A langsung sebelum anda mendapat pemeriksaan di fasilitas kesehatan (faskes) dasar. Dulu, saat jamkesmas orang bisa saja bilang “saya minta rujukan ke RS buat foto rontgen karena merasa beberapa hari berut saya nggak enak” sekarang dengan sistem BPJS anda harus dipastikan dulu kalo penyakit anda bukan sekedar maag atau diare biasa baru bisa dirujuk. Dulu orang bisa saja kalau punya jamkesmas langsung ke IGD minta perawatan walaupun sakitnya Cuma pilek. Sekarang RS berfikir ulang kalo ada pasien BPJS periksa hanya karena pilek, RS nggak akan dapat pembayaran klaim karena harusnya pasien itu ke Faskes dasar, bukan ke RS apalagi RS tersier.

                Memang sudah waktunya pasien dididik dengan sistem rujukan berjenjang ini. Supaya ledakan pasien di faskes tersier seperti RS tidak terjadi lagi seperti saat KJS (kartu Jakarta Sehat) diluncurkan. Namun di awal penerapan BPJS ini memang masih perlu banyak perbaikan. Bagi mereka yang sudah terlanjur “terjebak” ikut BPJS silakan diikuti saja dulu bagaimana jalannya BPJS ini. Namun bagi mereka yang belum mendaftar atau bahkan mereka yang sudah memiliki asuransi sebelumnya sebagai tenaga kesehatan saran saya tunda dulu 1 tahun atau 2 tahun melihat perkembangan penyempurnaan BPJS ini. Kenapa? Dari sudut konsumen saya menilai BPJS masih jauh dari harapan, masih banyak keribetan, apalagi dari segi kepraktisan berobat. Dari segi pelayanan sendiri mungkin konsumen tidak banyak tau berapa alokasi jaminan kesehatan yang sampai pada faskes. Faskes-faskes ini harus memeras otak untuk dapat memberikan pelayanan optimal dengan premi yang bisa dikata minim. Silakan cari tahu sendiri berapa alokasi per kepala per bulan buat faskes (cuman sekian ribu per kepala per bulan, masih lumayan tarif tukang cukur dibanding tarif faskes per bulannya). Imbasnya mungkin pasien akan kurang puas, terutama buat anda yang kurang mampu. jangan salahkan faskes dulu, tapi salahkan wakil anda di parlemen yang memangkas premi BPJS.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s