sekolah yuuk.. hehe

Posted: 5 April 2014 in Kesehatan, Peristiwa
Tag:, , , , , ,

Hidup itu memang penuh tantangan, bahkan kita sering bingung tantangan seperti apa yang akan kita pilih untuk ditaklukkan. Saat di kelas TK kita sering ditanya oleh ibu guru…” Anak-anak…. nanti kalo besar pengin jadi apa hayooo?”  “jadi Tentara bu” kata si goyul. “jadi Guru bu” kata si wawan. dan jawaban yang lumayan banyak pastinya adalah “Jadi dokter buuuuuu” hehehe..

besok gede jadi dokter ya nak

besok gede jadi dokter ya nak

Gak cuma anak-anak yang masih kecil aja yang banyak bercita-cita menjadi dokter, para orang tua pun kalo ditanya banyak juga yang membayangkan suatu saat anaknya akan memanggul stetoskop, dibalut baju putih bersih, dengan dandanan rapi tanpa harus berpeluh keringat banting tulang menggotong mesin diesel KUBOTA plus pompa air di sawah seperti orang tuanya.. naahh, untuk itulah sampai sekarang yang namanya DOKTER tetap menjadi profesi idaman para orang tua, istri maupun mertua.. haha. Namun, sadarkah kita betapa terjalnya jalan yang harus dilalui untuk sekedar mendapar gelar “dr.” di depan nama kita.. kalo yang sudah pernah disumpah pasti sudah tahu liku-likunya.

ayo Le... nge-lep sik (mari nak.. beri air sawah dulu)

ayo Le… nge-lep sik
(mari nak.. beri air sawah dulu)

kali ini saya nggak akan membahas liku-liku jadi dokter. Serumit apapun jalan menjadi dokter, jika anda memang sudah mendapat predikat “dr,.” didepan nama anda maka jangan heran jika itu mungkin tak akan menghentikan langkah anda untuk mencari tambahan gelar dibelakang nama anda dengan tambahan “Sp…..”. pernah saya mengungkapkan pada teman saya bahwa “Belajar di dunia kedokteran itu seperti candu, jika terlalu banyak/lama belajar bisa mabok, jika putus belajar terlalu lama bisa sakaw” hehe… percaya? jangan percaya dulu… coba dulu aja jadi dokter umum, trus kerja 2-3 tahun aja. jika anda Sakaw maka anda memang dokter sejati. tapi jika ternyata lama jadi dokter umum kok tidak sakaw-sakaw jangan-jangan anda tak punya modal dan nyali kembali “Mabok” belajar.. hehe….

silakan Klik tautan buatan para mantan koas UNS yang kreatif di bawah ini

Liku-liku jadi dokter umum

Lama gak sekolah, pengin sekolah lagi. giliran sudah ngebet pengin sekolah eee malah bingung mau milih spesialisasi apa. Dulu… 4 tahun yang lalu, penulis juga dihinggapi rasa penasaran dan kebingungan mau milih spesialisasi apa (sok bingung milih padahal belum tentu kalo milih itu sudah pasti ktrima, bukannya hak memilih itu hanya untuk mereka yang sudah memiliki sesuatu? hehe). mungkin ada sedikit Tips dari penulis tentang bagaimana sih memilih spesialisasi yang akan digeluti

1. SUKA:

pendidikan Spesialis apapun yang anda inginkan harus anda awali dengan rasa SUKA terlebih dahulu. Perasaan suka ini tentunya akan sangat subyektif, ya, suka atau tidak suka Spesialisasi yang anda pilih akan mengantarkan anda pada dunia anda berikutnya. Jika suka jalani, jika tidak suka nggak usah dipaksakan deh daripada tar berantakan ditengah jalan.

suka dulu baru milih

suka dulu baru milih

2. ALASAN:

Rasa SUKA  saja tidak cukup untuk “memaksa” anda memasuki dunia residen alias pendidikan spesialis. anda perlu alasan yang tepat dan rasional untuk membangkitkan semangat anda menempuh pendidikan. contohnya bisa saja mungkin anda diancam atasan kalau nggak jadi spesialis bakalan dimutasi, atau untuk meningkatkan “pendapatan”, atau bisa juga yang agak muluk dikit contohnya untuk meningkatkan taraf kesehatan nasional. yang penting dan perlu diingat alasan anda harus bisa menyakinkan para penguji saat ujian masuk kelak. kalau anda tidan punya ALASAN yang kuat gimana mereka akan menerima anda.

Yes or No?..

Yes or No?..

3. RESTU

ini dia yang menjamin anda tenteram dan nyaman jika nantinya anda keterima masuk PPDS (Pendidikan Dokter Spesialis). Aneh tapi nyata, dunia pendidikan dokter tidak seperti kebanyakan sistem pendidikan lainnya. bagaikan dunia lain. seriuss.. apalagi yang namanya pendidikan dokter spesialis. Jiwa Raga anda harus anda pasrahkan, bahkan keluarga andapun harus merelakan sejenak “Berpisah” dengan anda yang seolah memasuki dunia “autisme” keresidenan. Bisa saja anda 3 bulan ndak ketemu anak istri, atau bahkan tahunan bagi mereka yang benar-benar jauh dari keluarga. bahkan yang tinggal serumahpun belum tentu bisa bercengkrama tiap hari dengan keluarga. Penulis sendiri hanya mendapat kabar saat berita duka meninggalnya Kakek tercinta tanpa bisa ikut mengantar ke peristirahatan terakhir. Juga harus merelakan tidak bisa menghadiri semua pernikahan 3 adik penulis saat menjalani masa residensi. Nah bagi anda yang “terlalu” disayang keluarga, tanpa RESTU jangan sekali-kali mendaftar PPDS karena bisa jadi rumah tangga anda akan hancur berantakan. kalo sudah seperti itu buat apa anda jadi seorang DOKTER SPESIALIS??? (usul: Cari yang baru hehe, itupun kalo anda belum terlalu tua lulusnya hahaha..)

Restu keluarga..

Restu keluarga..

4. UANG

yang terakhir ini juga patut dipertimbangkan. Saat ini sekolah PPDS memang sudah pada relatif murah. apalagi dengan getolnya KPK memelototi perguruan tinggi penyelenggara pendidikan spesialis membuat biaya pendidikan relatif masih terjangkau. bahkan jauh lebih murah dibandingkan pendidikan dokter umum di FK swasta. Namun jangan lupa, namanya sekolah spesialis itu hampir pasti tidak akan ada Pendapatan buat biaya hidup. di negeri tercinta ini namanya residen memang tidak mendapat gaji. nah kalau anda tidak memperhatikan ini tabungan anda bisa jebol, apalagi yang sudah punya anak banyak bisa kelimpungan nanti.

Semoga Cukup

Semoga Cukup

Ke-empat hal diatas patut anda fikirkan dulu sebelum melangkah lebih jauh memasuki rimba raya dunia residensi. jika anda sudah mantabb.. keempatnya sudah terpenuhi, anda perlu lagi satu hal yaitu “TAKDIR” hehe… se SUKA apapun anda dengan jurusan yang anda pilih, sehebat apapun ALASAN anda memilih jurusan tersebut, sebanyak apapun RESTU yang anda dapatkan dari keluarga serta sekaya apapun UANG yang anda miliki kalau TAKDIR belum berfihak pada anda ya mau bagaimana lagi… yang penting tetap berdooa dan terus mencoba. ingat “Lebih baik anda terjatuh saat mencoba sesuatu daripada anda mati terdiam karena takut terjatuh”  hehehehe….

Residen Anak FK UNS/RS dr Moewardi Surakarta

Residen Anak FK UNS/RS dr Moewardi Surakarta

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s