Menebak langkah Demokrat pasca kegagalan di Pemilu 2014

Posted: 17 September 2014 in Politik

pem

Pemilu 2014 memberikan pelajaran baru bagi kedewasaan demokrasi di Indonesia. Jumlah kontestan yang lebih ramping membuat persaingan lebih ketat. Hal ini kemungkinan dikarenakan para pemilih sudah mengetahui profil dari partai politik yang ikut berkompetisi di Pemilu kali ini. Beberapa partai yang awalnya konsisten menjadi oposisi melejit perolehan suaranya. PDIP dan Gerindra merasakan manisnya kengototannya menjadi oposisi pemerintahan. Taktik selalu “beda” dengan pemerintah menjadikan media kampanye yang efektif. Terutama masalah sensitif seperti kenaikan harga BBM, harga Gas elpiji dan harga listrik, bahkan mungkin hampir semua kebijakan dari pemerintah SBY yang berasal dari demokrat “dikuliti dan dikupas”. Tahun-tahun terakhir pemerintahan SBY mungkin bakal dikenang oleh beliau sebagai pemerintahan yang menguras tenaga dan fikiran. Koalisi yang dibangun demokrat menjadi terkesan “setengah hati” akibat ketidak-patuhan para anggotanya untuk mendukung kebijakan SBY. Istilahnya “gelem enak-e ra gelem rekasane”. Mau enaknya tapi tidak mau merasakan resistensi masyarakat ketika diharuskan mengambil keputusan yang kurang populer. Bisa dilihat ketika tahun lalu pemerintah mau menaikkan harga BBM maka tidak Cuma partai oposisi yang menyerang habis pemerintah tapi juga partai koalisi yang ikutan mengail di air keruh untuk mendapatkan simpati rakyat di Pemilu 2014. Belum lagi masalah personal partai demokrat yang banyak terjebak dalam masalah korupsi. Hal ini membuat popularitas partai Demokrat hancur dan terkesan babak belur menghadapi tekanan oposisi, mempertahankan kawan koalisi setengah hati dan menjalani hari-hati dengan gerogotan kasus korupsi para petingginya.

Yes or No?..

Yes or No?..

Mungkin pak SBY memang salah satu dari sedikit politisi handal di negara ini yang sanggup bertahan dalam kubangan masalah seperti itu. Tentunya ada beberapa tokoh lain juga seperti Pak Habibi dengan masalah ancaman disintegrasi dan jepitan arus reformasi-sisa ORBA, ada juga akbar tanjung yang dengan kesabarannya sukses menghindarkan Golkar dari kehancuran meskipun demikian hebatnya saat itu golkar dihantam kiri-kanan. Juga Megawati yang juga sukses menghadapi gelombang tekanan ORBA dan sukses mengantarkan partainya menjadi pemenang pemilu beberapa kali. Dan terakhir GusDur yang dengan jurus dewa mabuknya berhasil memberikan perpektif lain dalam berdemokrasi meskipun harus turun dari kursi kepresidenan. Nah pak SBY ini mencoba trik jangka pendek dengan Konvensi pemilihan Presiden dari partai demokrat. Meskipun hal ini juga kurang berhasil mengangkat citra partai yang sudah terlanjur babak belur berhadapan dengan partai kompetitor (apalagi Demokrat merupakan partai yang tidak punya stasiun TV seperti partai-partai lainnya).
Pemilu legislatif 2014 menjadikan prediksi kejatuhan partainya pak SBY ini dari posisi puncak. Keinginan partai untuk mencalonkan calon presiden sendiri kandas setelah hanya menduduki posisi ke-5 mau nggak mau demokrat bukan lagi menjadi penentu dalam percaturan pemilihan presiden. Hal ini dipertegas dengan statement pak SBY yang menyatakan tidak akan mencalonkan presiden dan berusaha untuk membenahi partai.

uploads--1--2012--05--SBY-main-bolapirloSama-sama Playmaker tapi beda Tim

Perkembangan politik semakin mengerucutkan kekuatan kekuatan politik menjadi 2 kelompok besar. Koalisi merah putih yang mengusung Prabowo-Hatta dan koalisi pengusung Jokowi-JK. Sikap diam, hati-hati dan tidak grusa-grusu (yang sering dianggap sebagai suatu kelambanan) seperti yang biasanya diperlihatkan pak SBY ternyata menjadikan Demokrat bak gadis cantik yang diperebutkan oleh kedua lelaki keren. Dengan perolehan 60an anggota di parlemen menyebabkan kedua kelompok koalisi ini menjadi sangat tergantung dengan keputusan partai demokrat. Posisi strategis ini sepertinya dipahami dengan sangat baik oleh pak SBY. Sebuah kondisi dimana menjadi keuntungan tersendiri bagi partai dan dalam ikut serta sebagai penyeimbang dalam membangun bangsa ini. Penulis bukan supporter pak SBY, namun dengan khusnudhan penulis masih percaya ada niatan baik dari pak SBY meskipun tidak ikut dalam lingkaran pemerintahan, beliau juga tidak menginginkan menjadi Oposan yang membabi buta. Kenapa? Karena beliau sudah 10 tahun merasakan bagaimana susahnya mengambil kebijakan jika para oposan “rela” mengorbankan kepentingan jangka panjang dalam pembangunan bangsa ini hanya demi kepentingan sesaat seperti pemenangan Pemilu. Terbukti ternyata kebijakan kenaikan BBM yang diusulkan beliau yang ditentang habis-habisan oleh partai oposan, giliran mereka berkuasa dengan lagak seolah lupa malah menyalahkan pemerintah sebelumnya karena tidak menaikkan BBM. Sepertinya ini yang menjadi pelajaran berharga bagi pak SBY dalam mengarahkan partainya untuk bergerak maju dengan elegan tanpa harus “menjilat ludah sendiri”. Yah.. lebih tepatnya politik “Mengambang” akan dipakai sebagai strategi politik kedepan. Jika Gus Dur sering menggunakan istilah sepakbola Catenacio (pertahanan grendel) dalam berpolitik, mungkin Demokrat akan mengusung strategi “PePePa” (pendek-pendek-panjang) ala Indra syafri di tim U-19 diselingi “Jogobonito” ala tim Samba. Tidak mengusung pola asal nyerang sehingga lupa pertahanan, atau pola bertahan total sehingga tak bisa berkembang.

Politik “mengambang” ini bisa dilihat dari gelagat sampai saat ini belum ada rencana bergabung dalam koalisi manapun. Juga dari pernyataan SBY tentang pembahasan UU Pilkada dimana beliau mengatakan demokrat akan berpikir jernih dan tidak setuju kalo hanya ada fihak “A” dan “B” saja dalam menyikapi masalah. Politik mengambang bagaikan Playmaker dalam permainan bola. Dia bukan Pencetak gol tapi sangat berpengaruh dalam “Irama” suatu permainan. Dia tahu kapan dan kepada siapa harus mengoper bola, juga kapan harus mendrible bola itu sendirian, bahkan jika diperlukan dia bisa mencetak Goal. Operan tak harus ke depan tapi juga bisa ke belakang. Juga bisa saja membuang bola jika memang mau mendelay permainan. Dan juga bisa melakukan “Tackle” keras jika memang dibutuhkan. Maksudnya ialah sebuah Politik yang dimainkan sebagai “penyeimbang” tidak melulu bersebrangan dengan pemerintah, tapi juga tidak selalu meng-iyakan apa kata pemerintah. Bahkan penulis memprediksi demokrat akan welcome jika kader partainya “dipakai” dalam pemerintahan, namun akan ada sebuah kesepakatan bahwa pemakaian kader ini tidak akan merubah politik “Mengambang” ini. Menjadi Oposan “sejati” tidak selalu menguntungkan. Tapi dengan politik “mengambang”, partai lebih bebas dalam bersikap tanpa ikatan dan komitmen. Hanya kepentingan dirinya sendiri dan semoga juga kepentingan rakyatlah yang mendasari apakah mendukung atau menolak suatu kebijakan pemerintah..
Semoga Indonesia semakin maju dan semakin dewasa dalam berdemokrasi.. sekian..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s