KENAPA SAYA MUSLIM?

Posted: 20 Juni 2015 in Uncategorized

(Sebuah Renungan diri diawal Ramadhan)

jalan

Sebuah pertanyaan yang cukup fundamental tapi sangat perlu anda tanyakan dalam hati anda, wahai saudaraku, pernahkan kita bertanya pada diri kita sendiri…
Kenapa Saya Muslim? Atau kenapa saya memilih agama saya sekarang?
Sebuah pertanyaan yang harus kita gali terus menerus. Sebuah pertanyaan yang akan mengantarkan kita pada hakikat mendasar kenapa kita ini ada, dan akan kemana kita.
Pertanyaan mendasar ini biasanya akan disertai dengan pertanyaan-pertanyaan lanjutan seperti:
– Benarkah agama yang telah saya anut sekarang?
– Apa bukti kebenarannya?
– Saya beragama hanya karena indoktrinasi keluarga ataukan memang hidayah yang telah saya dapatkan?
– Apa keunggulan agama saya dibanding agama lain?

Pertanyaan semacam ini seharusnya menjadi pertanyaan serius dalam hidup kita, karena kita memang berbeda dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Tanpa agama kita tak ubahnya dengan ayam, atau sapi atau makhluk lain yang hidup hanya berdasarkan insting. Namun tidak banyak diantara kita yang punya Nyali untuk menjawab pertanyaan diatas.
Bandingkan dengan Nabi Ibrahim alaihimas salam yang meskipun dilahirkan dari ayah yang percaya bahwa Patung buatannya adalah Tuhan, namun beliau tak hentinya berusaha mencari siapa Tuhan Hakiki dalam kehidupan ini.
Pencarian Tuhan yang dilakukan Nabi Ibrahim AS tidak hanya bersandarkan oleh ilham, mimpi maupun perasaan, namun benar-benar didasarkan pada Rasionalitas akal manusia yang memang diberikan Tuhan untuk dapat mendeteksi kekuasaan dan kehebatan sang Pencipta dalam pencarian kebenaran. Pencarian terhadap kebenaran hanya akan ditemukan pada orang-orang yang kritis dan logis
Lalu apakah sebagai umat Muslim yang menjadi Islam sejak lahir kita masih diperintahkan untuk mencari kebenaran?
Jawabannya Ya, dengan terus menerus mencari dan memikirkan jalan kebenaran maka kita sebagai manusia akan meningkat derajatnya dibanding makluk lain.
Sebuah peringatan keras dari Alloh SWT terhadap orang-orang yang hanya meng-ekor tanpa menggunakan anugrah Tuhan dalam mencari kebenaran.
“Telah Kami penuhi isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, yaitu mereka yang mempunyai hati tapi tak pernah digunakan untuk memikirkan ayat-ayat Allah dan mereka mempunyai mata tak digunakan untuk memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah dan mereka mempunyai telinga tak digunakan untuk mendengarkan firman-firman Allah, Mereka seperti binatang bahkan lebih rendah dari itu, mereka itulah orang-orang yang lalai” (Surat Al-A’raf 179)
Seringkali kita sudah merasa cukup dengan pengetahuan agama yang telah kita miliki, begitu kita ditanya alasan kenapa memilih agama tertentu jawaban kita sangat Klise banget.. “ya karena ini agama yang paling benar pak”… “O ya? Darimana anda tahu ini agama yang paling benar?”…. “Kan di kitab saya dan pemuka agama saya menyatakan seperti itu..”.. “O ya… lha agama lain juga berpendapat sama dengan anda.. padahal beda loh dari konsep segi ketuhanan nya saja sdh beda, apakah anda sdh pernah mencoba membandingkan secara rasional dan ilmuah antara ajaran satu dengan lainnya?”…. “ Belum… kok agama lain pak, lhawong Kitab suci saya saja belum pernah saya baca sampai tamat,” …. hehe… kalo sudah begini bagaimana bisa dikatakan kalo agama yang telah kita peluk bisa bener-bener yakin merasuk dalam jiwa..
Kalau sudah seperti ini rasanya tidak layak kita terlalu berbangga jika ada orang yang masuk bergabung dalam agama kita hanya berdasarkan Perasaan, Ilham, Insting tanpa pernah berproses seperti Ibrahim as (meskipun harus tetap disyukuri karena Hidayah Alloh bisa datang kapanpun dan dengan cara apapun) dan kita juga tidak layak terlalu bersedih jika ada ummat yang memutuskan keluar dari agama kita dengan dasar yang sama.
Namun ketika siapapun sudah mengalami Proses pencarian seperti Ibrahim AS, maka apapun keputusan yang dia ambil, disanalah kita layak mengucapkan : Lakum Diinukum wa liyadiini (bagimu agamamu dan bagiku Agamaku)..
KEELOKAN KEBENARAN AKAN MEMUDAR JIKA TIDAK PERNAH MENCOBA MEMBANDINGKAN
Lantas apa yang bisa kita lakukan jika ingin menguji apakah yang telah kita Yakini memang sebuah jalan kebenaran?
Akal adalah anugrah besar dari Tuhan yang diciptakan tidak hanya untuk menambah warna kehidupan ini, tapi juga sebagai modal besar dalam mencari kebenaran seperti yang dilakukan Ibrahim A.S. Logika Ilmiah, salah satu cara sederhana yang bisa mempertebal iman dan bisa juga dijadikan cara dalam mencari kebenaran. Contohnya:
– Agama berfungsi untuk mengatur Ummatnya menuju kehidupan yang terbaik, lalu Apakah Agama saya benar-benar komplit dalam membimbing umatnya menuju kehidupan yang terbaik?
– Jika memang iya, apakah konsep ini terkandung secara jelas pada Aturan Tuhan (Kitabnya)? Apakah setiap detail aturan itu bisa ditelusur dasar hukumnya yang bisa kita dapatkan dari Kitab atau Petunjuk tehnis utusan Tuhan sebagaimana kita dalam bernegara selalu mendasarkan sesuatu pada Undang-undang?
– Jika Iya, Apakah Kitab yang diberikan oleh Tuhan ini memang masih otentik?, bisa dijamin keasliannya, secara logika jika agama nya sama maka perintah Tuhan (KitabNya) juga akan sama, apakah demikian? Apa bukti Kitab Tuhan yang kita pegang ini memang benar-benar Asli? Pernahkah kita mencoba membandingkan Kitab di Agama kita dari masa lalu sampai sekarang? Apakah masih sama?
– Jika Iya, maka kita bisa mulai sekedar mempelajarinya. Apa konsep dalam Kitab tersebut? Tentang ketuhanan, Cara Ibadah, Hubungan antar Manusia dengan manusia, kesesuaian dan kemampuan ajaran dalam kitab tersebut dalam memecahkan masalah di segala zaman. Bisakah kita mengujinya dengan akal kita termasuk dengan kemajuan zaman saat ini?
– Konsep ketuhanan bisakah kita mendapatkan konsep ketuhanan secara jelas? Misal dengan jelas disebutkan “Sembahlah Aku” dalam kitabnya. Adakah Konsep yang ditawarkan tentang kehidupan setelah kematian? Apakah kita bisa mengujinya dengan logika kita?
Sampai disini sekiranya kita pasti sudah punya gambaran apakah jalan yang kita cari memang sudah benar, jika sudah benar maka saya yakin kualitas keagamaan kita akan bertambah, namun jika ternyata jalan yang kita tempuh selama ini berlawanan dengan apa yang kita dapat dari proses diatas, Disini semua akan dikembalikan pada kejujuran kita dan kesungguhan kita dalam berproses, apakah akan mengubah pendirian kita ataukah akan tetap kekeuh pada keyakinan lama. Ingat 1+1 jawabannya hanya 2 jika memang orang tersebut mengakui bahwa 2 itu jawaban yang benar, namun dalam kehidupan nyata tidak sedikit mereka yang tahu 1+1 = 2 namun karena ketidak jujuran tetap bersikukuh jika 1+1=3.
Terakhir, setelah proses mencari kebenaran dan terbukanya hati pada kebenaran tersebut masih ada yang perlu diingat bahwa keimanan itu bersifat dinamis, bisa bertambah dan berkurang. Hanya keyakinan dan doa kita pada Tuhan yang akan menjadi penjamin kita untuk terus dapat memelihara Keimanan tersebut melekat di dada kita.
Wallohu A’lam

1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s